Eniya Listiani Dewi: B50 2027 Harus Didukung Kesiapan Pasokan Dan Rantai Logistik

Biodiesel, Eniya Listiani Dewi
Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi (Dok. Listrik Indonesia)

Indonesian Palm Oil News (IPO News), Bali — Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pengembangan biodiesel sawit dengan mempersiapkan implementasi B50 dan membuka peluang pengembangan menuju B60. Namun, peningkatan tingkat pencampuran biodiesel tidak hanya membutuhkan kesiapan produksi, tetapi juga pasokan bahan baku, investasi, infrastruktur dan rantai logistik yang kuat.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., dalam sambutannya secara daring pada 6th Palm Biodiesel Conference 2026 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Kamis, 17 September 2026.

Menurut Eniya, pemerintah tetap menargetkan implementasi B50 pada 2027. Untuk itu, diperlukan komitmen seluruh pelaku dalam rantai pasok agar penyaluran B50 dapat berlangsung tanpa hambatan.

“Target B50 ini ditargetkan tetap untuk tahun 2027,” ujar Eniya dalam sambutannya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kesiapan pasokan serta investasi yang dilakukan oleh produsen maupun penyedia jasa logistik dan pengiriman.

Karena itu, pemerintah memberikan waktu persiapan untuk memastikan berbagai kebutuhan teknis dan rantai pasok dapat dimatangkan sebelum Indonesia meningkatkan tingkat pencampuran biodiesel lebih tinggi lagi.

Menuju B60, HVO Menjadi Salah Satu Opsi

Selain B50, perhatian pemerintah mulai diarahkan pada kemungkinan implementasi B60. Eniya menjelaskan bahwa peningkatan pencampuran hingga 60 persen menghadapi tantangan teknis apabila hanya mengandalkan FAME atau Fatty Acid Methyl Ester.

Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) sebagai bagian dari campuran menuju B60.

Menurut Eniya, terdapat kemungkinan penambahan sekitar 10 persen HVO untuk melengkapi komposisi biodiesel apabila Indonesia ingin melampaui B50.

Namun, opsi tersebut masih membutuhkan kajian teknis dan ekonomi. Salah satu pertimbangannya adalah harga HVO yang saat ini sekitar 1,5 hingga 2 kali harga FAME, sehingga keekonomian campuran tersebut perlu diperhitungkan secara matang.

Dengan demikian, pengembangan B60 bukan sekadar menaikkan persentase campuran, tetapi membutuhkan pengujian terhadap spesifikasi bahan bakar, kesiapan teknologi serta kemampuan industri untuk menyediakan bahan bakar dalam jumlah yang dibutuhkan.

Rantai Pasok Menjadi Kunci

Bagi Eniya, kesiapan rantai pasok menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program biodiesel nasional. Mulai dari produsen bahan bakar nabati, penyedia bahan baku, fasilitas pengolahan, hingga perusahaan logistik dan distribusi harus memiliki kesiapan yang sejalan.

Pemerintah juga mendorong adanya investasi yang memadai untuk memastikan volume biodiesel yang dibutuhkan dapat dipenuhi dan disalurkan ke pasar.

Hal ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya tingkat pencampuran. Semakin tinggi mandat biodiesel, semakin besar pula kebutuhan terhadap bahan baku, kapasitas produksi dan sistem distribusi.

Program biodiesel juga memiliki dimensi yang lebih luas bagi perekonomian nasional. Pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis sawit memungkinkan Indonesia mengoptimalkan sumber daya domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dari luar negeri.

Tidak Hanya Biodiesel

Dalam paparannya, Eniya juga menyinggung pengembangan bahan bakar nabati lainnya. Pemerintah tidak hanya mengembangkan biodiesel, tetapi juga mendorong bioetanol dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Pengembangan berbagai jenis bahan bakar nabati tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya domestik secara lebih optimal dalam memenuhi kebutuhan energi.

Pemerintah juga mencatat bahwa program biodiesel telah memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Pengurangan emisi yang dikaitkan dengan program tersebut telah mencapai lebih dari 44,5 juta ton CO2.

Bagi industri sawit, perkembangan ini menunjukkan bahwa minyak sawit tidak hanya memiliki peran sebagai komoditas pangan dan bahan baku industri, tetapi juga semakin penting sebagai salah satu sumber bahan bakar nabati nasional.

Indonesia Memasuki Tahap Baru Energi Berbasis Sawit

Pesan yang disampaikan Eniya dalam konferensi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan biodiesel Indonesia kini memasuki tahap yang semakin kompleks.

B50 membutuhkan kesiapan produksi dan distribusi dalam skala besar, sementara pengembangan B60 akan membutuhkan kajian lebih mendalam mengenai spesifikasi FAME, kemungkinan penggunaan HVO, ketersediaan bahan baku serta keekonomian bahan bakar.

Karena itu, keberhasilan transisi menuju tingkat pencampuran yang lebih tinggi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah, produsen biodiesel, industri sawit, perusahaan energi, sektor otomotif, penyedia logistik dan berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor penting.

Bagi Indonesia, pengembangan biodiesel berbasis sawit juga menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan energi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di dalam negeri.

“Kita memiliki kekayaan alam yang melimpah. Dengan inovasi dan komitmen bersama seluruh stakeholders, Indonesia optimistis mampu mewujudkan kemandirian energi penuh dari hasil bumi sendiri,” ujar Eniya.

Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan pemerintah: biodiesel bukan hanya program pencampuran bahan bakar, tetapi bagian dari upaya membangun sistem energi nasional yang semakin berbasis pada sumber daya domestik, sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional.

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop