Indonesian Palm Oil News (IPO News), Bali — Malaysia terus memperkuat pemanfaatan biodiesel berbasis minyak sawit sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan pemanfaatan komoditas sawit di dalam negeri.
Dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Sofitel Nusa Dua, Bali, 17–18 September 2026, isu kesiapan kebijakan dan infrastruktur menjadi salah satu pembahasan penting. Dr. Sang Yew Ngin, Undersecretary Biomass and Biofuel Division, Ministry of Plantation and Commodities Malaysia, hadir sebagai salah satu pembicara pada sesi mengenai percepatan mandatori biodiesel, kesiapan industri dan pembiayaan sektor transportasi berkelanjutan.
Meski demikian, sejumlah pandangan Sang Yew Ngin mengenai pengembangan biodiesel Malaysia sebelumnya telah menunjukkan bahwa infrastruktur menjadi salah satu tantangan utama ketika kadar campuran biodiesel ditingkatkan.
Dari B10 Menuju B15, B20 dan B30
Malaysia saat ini menerapkan mandatori B10 untuk kendaraan, yaitu campuran 10 persen biodiesel dan 90 persen solar. Pemerintah Malaysia telah mendorong peningkatan kapasitas produksi dan infrastruktur untuk mendukung B15, serta secara bertahap menuju B20 dan B30.
Sang Yew Ngin menjelaskan bahwa Malaysia memiliki 34 depot pencampuran biodiesel, namun sebagian besar fasilitas tersebut dirancang untuk kapasitas B10.
Karena itu, peningkatan kadar campuran membutuhkan peningkatan kemampuan infrastruktur yang ada. Menurutnya, peningkatan infrastruktur bukan pekerjaan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat dan dapat membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun, sekaligus membutuhkan belanja modal yang besar.
Infrastruktur Menjadi Tantangan Utama
Peningkatan kadar biodiesel secara otomatis meningkatkan volume biodiesel yang harus diproduksi, dicampur, disimpan dan didistribusikan.
Karena itu, fasilitas blending depot dan terminal harus mampu menangani volume yang lebih besar. Pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan kesiapan fasilitas sebelum mandatori pada tingkat yang lebih tinggi diterapkan secara luas.
Dalam konteks tersebut, pembangunan dan peningkatan infrastruktur menjadi bagian penting dari roadmap biodiesel Malaysia.
Tantangannya bukan hanya membangun fasilitas baru, tetapi juga meningkatkan fasilitas yang sudah ada agar mampu memenuhi standar dan kebutuhan operasional pada kadar campuran yang lebih tinggi.
Menuju B30
Malaysia menempatkan peningkatan penggunaan biodiesel sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan memperkuat ketahanan energi.
Namun, perjalanan menuju B30 membutuhkan kesiapan yang menyeluruh. Selain ketersediaan bahan baku dan kapasitas produksi biodiesel, kesiapan depot pencampuran, terminal, penyimpanan dan jaringan distribusi juga menjadi faktor penting.
Menurut laporan yang mengutip Sang Yew Ngin, peningkatan seluruh infrastruktur tersebut membutuhkan waktu dan investasi. Bahkan, kebutuhan investasi untuk peningkatan terminal dan infrastruktur guna mendukung mandat B30 Malaysia diperkirakan mencapai sekitar US$151 juta.
Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan mandatori biodiesel bukan hanya persoalan menetapkan persentase campuran, tetapi juga membutuhkan kesiapan ekosistem energi secara keseluruhan.
Pelajaran bagi Industri Sawit
Perkembangan Malaysia memiliki relevansi bagi Indonesia yang telah memasuki era B50. Kedua negara sama-sama memiliki industri sawit yang besar dan menjadikan biodiesel sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan pemanfaatan minyak sawit domestik.
Indonesia telah bergerak lebih jauh dalam tingkat campuran biodiesel, sementara Malaysia memilih peningkatan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan industri.
Pertukaran pengalaman kedua negara menjadi semakin penting karena tantangan yang dihadapi memiliki sejumlah kesamaan, terutama dalam hal kesiapan industri, infrastruktur, distribusi, pembiayaan dan keberlanjutan program.
Kehadiran Sang Yew Ngin dalam 6th Palm Biodiesel Conference di Bali juga memperkuat dimensi regional konferensi tersebut. Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan dari Indonesia, Malaysia dan Thailand untuk membahas masa depan biodiesel sawit serta perannya dalam ketahanan energi global.
Biodiesel dan Ketahanan Energi
Bagi Malaysia, pengembangan biodiesel berbasis sawit tidak hanya berkaitan dengan industri perkebunan. Program ini juga menjadi bagian dari strategi energi nasional.
Semakin tinggi pemanfaatan biodiesel domestik, semakin besar pula peran minyak sawit dalam memenuhi kebutuhan energi transportasi.
Namun, peningkatan tersebut harus didukung kesiapan seluruh rantai pasok. Produksi, blending, penyimpanan, transportasi dan distribusi harus berkembang sejalan dengan peningkatan mandatori.
Dengan demikian, pengalaman Malaysia menunjukkan bahwa ambisi meningkatkan kadar biodiesel harus berjalan beriringan dengan kesiapan infrastruktur dan investasi.
Menuju B30, tantangan Malaysia bukan semata-mata memastikan ketersediaan biodiesel, tetapi membangun sistem yang mampu memproduksi, mencampur dan menyalurkan biodiesel dalam skala yang lebih besar secara efisien dan berkelanjutan.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting
























