Pertamina Perkuat Infrastruktur Energi, 121 Terminal Siap Dukung Era B50

Pertamina

Indonesian Palm Oil News (IPO News), Bali — Pertamina terus memperkuat kesiapan infrastruktur energi nasional untuk mendukung implementasi biodiesel B50. Kesiapan tersebut mencakup kilang, infrastruktur logistik, fasilitas pencampuran, hingga jaringan distribusi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Taufik Adityawarman, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dalam diskusi 6th Palm Biodiesel Conference 2026 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Kamis, 17 September 2026.

Dalam forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, asosiasi, dan pemangku kepentingan biodiesel dari berbagai negara tersebut, Taufik menjelaskan berbagai aspek kesiapan Pertamina dalam mendukung pengembangan bahan bakar nabati dan transformasi energi Indonesia.

121 Terminal BBM Perkuat Distribusi

Salah satu kekuatan penting dalam mendukung program biodiesel adalah jaringan infrastruktur distribusi Pertamina yang luas. Pertamina memiliki dan mengoperasikan 121 terminal BBM yang tersebar di seluruh Indonesia. Jaringan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan penyaluran bahan bakar, termasuk biodiesel, dapat menjangkau berbagai wilayah Indonesia.

Untuk mendukung peningkatan mandatori biodiesel, kesiapan tidak hanya menyangkut ketersediaan produk, tetapi juga fasilitas pencampuran, penyimpanan, transportasi, serta distribusi hingga ke konsumen. Implementasi B40 sebelumnya telah berjalan secara nasional. Namun, kondisi geografis Indonesia yang sangat luas tetap menghadirkan tantangan logistik di sejumlah wilayah. Salah satu tantangan yang disebutkan berkaitan dengan distribusi melalui Sungai Kapuas, Kalimantan Barat.

Untuk mendukung implementasi B50, Pertamina juga telah menyiapkan aspek infrastruktur, rantai pasok, serta pengujian berbagai parameter teknis bersama Lemigas.

Kilang Cilacap dan Dumai Kembangkan Biofuel

Transformasi energi Pertamina juga tidak berhenti pada pengembangan biodiesel berbasis FAME. Dalam paparannya, Taufik menjelaskan perkembangan pengolahan bahan bakar rendah karbon di lingkungan Pertamina, termasuk pengembangan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Kilang Cilacap dan Kilang Dumai telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk berbasis biofuel, termasuk HVO. Pertamina juga mengembangkan SAF sebagai bagian dari upaya menyediakan bahan bakar penerbangan yang lebih rendah emisi.

Selain itu, Pertamina mengembangkan green gasoline melalui teknologi co-processing dengan memanfaatkan bahan baku terbarukan seperti used cooking oil (UCO). Pengembangan berbagai jenis biofuel tersebut menunjukkan bahwa transformasi Pertamina mencakup lebih dari sekadar peningkatan penggunaan biodiesel untuk kendaraan darat.

Pertamina

Menuju Portofolio Energi Rendah Karbon

Menurut Taufik, perubahan lanskap energi global mendorong Pertamina untuk terus melakukan transformasi portofolio bisnisnya. Biodiesel, HVO, SAF, dan green gasoline menjadi bagian dari pengembangan bahan bakar yang lebih rendah karbon dan berbasis sumber daya alternatif.

Strategi tersebut juga memiliki arti penting bagi Indonesia karena pengembangan energi berbasis sumber daya domestik dapat membantu memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

Dalam konteks tersebut, biodiesel sawit memiliki posisi strategis karena bahan bakunya berasal dari komoditas yang diproduksi di dalam negeri.

B50 dan Masa Depan Industri Sawit

Implementasi B50 memiliki hubungan langsung dengan industri kelapa sawit nasional. Semakin tinggi mandatori biodiesel, semakin besar pula kebutuhan terhadap bahan baku minyak sawit untuk sektor energi domestik. Pemerintah Indonesia telah mendorong implementasi B50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.

Dari sisi hilir, Pertamina memiliki peran penting dalam memastikan biodiesel dapat diproses, dicampur, disimpan, dan didistribusikan secara efektif ke seluruh Indonesia.

Data Pertamina menunjukkan bahwa hingga awal September 2026, 6.050 dari 6.412 SPBU atau sekitar 94% SPBU telah menyalurkan B50. Dari jaringan 121 terminal BBM, Terminal BBM Sintang menjadi salah satu titik yang menghadapi tantangan distribusi akibat kondisi Sungai Kapuas.

Pertamina

Infrastruktur Menjadi Kunci B50

Pembahasan di 6th Palm Biodiesel Conference di Bali memperlihatkan bahwa keberhasilan peningkatan mandatori biodiesel tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku dan kapasitas produksi. Infrastruktur menjadi bagian yang sama pentingnya, Mulai dari kilang, fasilitas blending, terminal BBM, sistem logistik, transportasi hingga SPBU, seluruh mata rantai tersebut harus memiliki kesiapan yang memadai agar peningkatan volume biodiesel dapat berjalan secara konsisten.

Dengan 121 terminal BBM, jaringan SPBU yang luas, serta pengembangan berbagai produk biofuel seperti HVO dan SAF, Pertamina terus membangun fondasi bagi transformasi energi Indonesia. Bagi industri sawit, perkembangan ini juga membuka ruang yang semakin besar bagi minyak sawit untuk berperan dalam ekosistem energi nasional.

Dari forum 6th Palm Biodiesel Conference di Bali, pesan yang disampaikan Pertamina menunjukkan bahwa perjalanan menuju B50 bukan hanya persoalan meningkatkan campuran biodiesel, tetapi juga membangun kesiapan seluruh rantai pasok energi nasional.

Ke depan, perkembangan biodiesel, HVO, SAF, dan bahan bakar rendah karbon lainnya akan menjadi bagian penting dari transformasi energi Indonesia sekaligus memperluas pemanfaatan sumber daya terbarukan domestik.

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop