Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Nama Haji Abdul Rasyid tidak dapat dipisahkan dari perkembangan bisnis kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Melalui Citra Borneo Indah (CBI) Group, bisnis yang dibangunnya berkembang dari perkebunan kelapa sawit menjadi ekosistem usaha yang mencakup industri hilir, logistik, kawasan industri, peternakan, properti hingga riset dan pengembangan.
Dalam profil resminya, CBI menyebut PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) mengelola 23 perkebunan dengan total areal 115.881 hektare, menghasilkan sekitar 1,8 juta ton FFB per tahun, dengan produktivitas sekitar 27 ton per hektare. CBI juga menyebut seluruh kegiatan perkebunan dan operasionalnya telah tersertifikasi RSPO dan ISPO.
Namun, perkembangan terbaru pada 2026 menunjukkan bahwa melihat besarnya ekosistem bisnis Haji Abdul Rasyid hanya dari luas perkebunan tidak lagi cukup.
94.963 HEKTARE AREA TERTANAM
Berdasarkan analisis IPO NEWS terhadap data dan perkembangan operasional SSMS hingga semester I 2026, salah satu angka penting yang perlu diperhatikan adalah luas area tertanam. Data terbaru menunjukkan SSMS memiliki sekitar 94.963 hektare area tertanam, dengan rata-rata usia tanaman sekitar 15,8 tahun. Areal tersebut didukung oleh 10 pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas sekitar 670 ton TBS per jam.
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa kekuatan bisnis di hulu bukan sekadar luas lahan, tetapi juga kemampuan mengubah areal perkebunan menjadi produksi TBS, CPO dan produk turunannya.
Pada semester I 2026, produksi TBS dari kebun sendiri SSMS mencapai sekitar 1 juta ton, meningkat sekitar 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan basis perkebunan, jaringan PKS dan produktivitas tersebut, SSMS menjadi salah satu fondasi utama dalam ekosistem bisnis sawit yang terhubung dengan CBI Group.
DARI KEBUN KE INDUSTRI HILIR
Kekuatan lain dari ekosistem ini terletak pada keterhubungan antara bisnis hulu dan hilir. SSMS memiliki keterkaitan yang kuat dengan PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT). Berdasarkan informasi perusahaan dan data publik, kepemilikan grup SSMS di CBUT mencapai sekitar 78,2%.
CBUT bergerak pada industri pengolahan minyak sawit dan memiliki fasilitas refinery dan fractionation serta Kernel Crushing Plant. Kapasitas yang ada mencakup sekitar 2.500 ton per hari untuk refinery dan fractionation serta sekitar 600 ton per hari untuk Kernel Crushing Plant. Produk yang dihasilkan antara lain RBDPO, palm olein, palm stearin, PFAD, crude palm kernel oil dan palm kernel expeller.
CBI sendiri mencantumkan kapasitas pengolahan CBU sekitar 850.000 ton per tahun, sementara kapasitas KCP mencapai 180.000 ton per tahun. Artinya, rantai bisnis yang dibangun telah bergerak dari produksi TBS di kebun menuju pengolahan CPO, kernel dan produk turunan sawit.
HILIRISASI MENJADI BAGIAN PENTING
Memasuki 2026, pengembangan industri hilir menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan ekosistem tersebut. CBUT juga tengah memperkuat kapasitas refinery dan fractionation. Perluasan fasilitas tersebut akan menambah kemampuan pengolahan produk turunan sawit dan memperbesar ruang bagi perusahaan untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Analisis IPO NEWS melihat bahwa arah bisnis ini semakin jelas: memperkuat penguasaan bahan baku di hulu sekaligus meningkatkan kapasitas pengolahan di hilir.
Dengan pola tersebut, nilai ekonomi sawit tidak berhenti ketika TBS masuk ke PKS dan berubah menjadi CPO. Produk tersebut masih dapat diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk minyak dan turunannya untuk pasar domestik maupun internasional.
KINERJA SEMESTER I 2026
Perkembangan tersebut berjalan bersamaan dengan pertumbuhan kinerja SSMS pada semester I 2026. Hingga Juni 2026, SSMS membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sekitar Rp9,65 triliun, meningkat 36,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp904,4 miliar, naik sekitar 30,8%.
Sementara itu, berdasarkan pengolahan IPO NEWS terhadap data operasional yang tersedia, pertumbuhan produksi kebun sendiri menjadi salah satu komponen penting dalam perkembangan bisnis SSMS sepanjang semester pertama 2026.
Produksi TBS kebun sendiri sekitar 1 juta ton, ditambah jaringan 10 PKS dan fasilitas hilir, memperlihatkan bahwa ekosistem tersebut memiliki mata rantai usaha yang relatif panjang.
BUKAN HANYA BISNIS SAWIT
Menariknya, ekosistem yang dibangun Haji Abdul Rasyid tidak hanya berhenti pada perkebunan dan industri pengolahan. Profil CBI mencatat tujuh unit bisnis terintegrasi, yakni perkebunan kelapa sawit, industri hilir, logistik maritim, kawasan industri, peternakan, properti serta penelitian dan pengembangan.
Pada sektor logistik maritim, PT Pelayaran Lingga Marintama mengoperasikan 22 kapal, Di sektor kawasan industri, PT Surya Borneo Industri mengelola kawasan seluas sekitar 137,19 hektare.
Sementara itu, PT Sulung Ranch mengembangkan model integrasi peternakan sapi dan perkebunan sawit pada lahan sekitar 95,94 hektare, dengan populasi lebih dari 7.000 ekor sapi. CBI juga memiliki Sulung Research Station yang mengembangkan teknologi perkebunan berbasis IoT dan AI.
Diversifikasi tersebut memperlihatkan bahwa perkebunan sawit menjadi salah satu pusat dari ekosistem bisnis yang lebih luas.
SEBERAPA BESAR EKOSISTEMNYA?
Analisis IPO NEWS menunjukkan bahwa ukuran ekosistem bisnis Haji Abdul Rasyid tidak tepat jika hanya diukur dari luas perkebunan. Ada sedikitnya empat lapisan yang perlu dilihat.
Pertama, basis perkebunan, dengan puluhan ribu hektare area tertanam dan jaringan perkebunan yang luas.
Kedua, infrastruktur pengolahan, melalui PKS yang mengubah TBS menjadi CPO dan kernel.
Ketiga, industri hilir, melalui CBUT yang mengolah CPO dan produk turunannya menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Keempat, bisnis pendukung, mulai dari logistik maritim, kawasan industri, peternakan, properti hingga riset dan teknologi.
Dengan demikian, kekuatan ekosistem tersebut bukan hanya pada besarnya kebun, tetapi pada bagaimana berbagai mata rantai usaha saling terhubung.
DARI KALIMANTAN TENGAH KE PASAR YANG LEBIH LUAS
Perkembangan CBI, SSMS dan CBUT pada 2026 menunjukkan sebuah pola bisnis yang menarik dalam industri sawit Indonesia: penguatan dari hulu sekaligus pendalaman ke hilir. Kebun menghasilkan TBS. PKS mengolah TBS menjadi CPO dan kernel. Industri hilir kemudian mengolahnya menjadi produk turunan. Pada saat yang sama, bisnis logistik, kawasan industri, peternakan dan riset memberikan dukungan terhadap ekosistem yang lebih luas.
Inilah yang membuat perjalanan bisnis Haji Abdul Rasyid menarik untuk dicermati, Dari basis perkebunan di Kalimantan Tengah, ekosistem tersebut telah berkembang menjadi jaringan usaha yang menghubungkan kebun, PKS, CPO, industri hilir, logistik, peternakan, kawasan industri dan teknologi.
Bagi IPO NEWS, perkembangan ini menunjukkan bahwa skala sebuah kelompok usaha sawit modern tidak lagi cukup diukur dari berapa hektare kebun yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa panjang rantai nilai yang berhasil dibangun dari hulu hingga hilir.
Muslim M. Amin
Editor in Chief
Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS)
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting
























