Nilai Lebih per Hektar: Pandangan TechnoServe tentang Masa Depan Agribisnis Indonesia

TechnoServe
Dominic Schofield is the Senior Director of Agri-Food Systems, he can be contacted at dschofield@tns.org

Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Industri sawit Indonesia memiliki peran strategis, tidak hanya bagi perekonomian nasional, tetapi juga bagi jutaan petani dan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sektor ini. Karena itu, penguatan rantai pasok, ketersediaan minyak goreng, produktivitas, serta peningkatan kesejahteraan petani menjadi bagian penting dalam perjalanan industri sawit ke depan.

Untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai berbagai isu tersebut, IPO NEWS melakukan wawancara dengan Dominic Schofield, Senior Director, Agri-Food Systems, TechnoServe.

Dalam wawancara ini, Dominic Schofield memberikan jawaban yang sangat baik, jelas, dan komprehensif mengenai berbagai aspek penting dalam industri sawit Indonesia, termasuk tantangan dan peluang ke depan.

Berikut pandangan dan pemikirannya kepada IPO NEWS:

Q: TechnoServe memiliki pengalaman dalam mendukung pengembangan sektor agribisnis dan peningkatan pendapatan petani sawit rakyat di berbagai negara. Bagaimana TechnoServe melihat perkembangan dan tantangan sektor agribisnis di Indonesia saat ini?

A: TechnoServe melihat bahwa sektor agribisnis Indonesia ada di fase transisi struktural yang penting. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, sebanyak 61% dari 29,3 juta unit usaha pertanian di Indonesia memiliki lahan di bawah 0,5 hektar, dan hanya 1 dari 5 petani adalah petani milenial (berusia 19–39 tahun). Ini menunjukkan tantangan berat dalam konsolidasi lahan, produktivitas, serta regenerasi petani.

Ditambah lagi ada perubahan iklim serta keterbatasan akses terhadap pembiayaan dan pasar yang andal. Adopsi teknologi tidak cukup untuk menghadapi tantangan ini. Diperlukan pembentukan kondisi komersial yang kondusif agar adopsi teknologi dapat berjalan, dengan memperkuat organisasi petani, aggregator, layanan bisnis, serta kemitraan langsung dengan offtaker.

Di saat yang sama, ada beberapa demand drivers utama. Program nasional seperti swasembada beras, hilirisasi pertanian, peningkatan ekspor bernilai tambah tinggi, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) merombak value chain dan menciptakan institusional demand yang masif. Peluang utama Indonesia adalah memanfaatkan pergeseran ini untuk membangun sistem pasar berbasis sektor swasta yang mendorong pertumbuhan pendapatan petani sawit rakyat/smallholder farmers secara luas, meningkatkan produktivitas, serta menjadikan sektor pertanian layak secara bisnis bagi generasi mendatang.

Q: Salah satu komoditas penting dalam agribisnis Indonesia adalah kelapa sawit. Bagaimana TechnoServe melihat posisi sawit dalam rantai pasok minyak nabati, khususnya untuk memenuhi kebutuhan industri minyak goreng?

A: TechnoServe melihat kelapa sawit sebagai komoditas strategis bagi ketahanan pangan, pendapatan masyarakat pedesaan, serta bioekonomi Indonesia secara luas. Pada tahun 2024, Indonesia memproduksi 45,4 juta ton CPO di atas lahan seluas 16,8 juta hektar, di mana petani sawit rakyat mengelola sekitar 41% dari total luas perkebunan. Karena minyak sawit memenuhi lebih dari 95% kebutuhan minyak goreng domestik, menjaga keterjangkauan harganya sangat penting bagi konsumen berpenghasilan rendah.

Namun, peluang pertumbuhan utama terletak pada penambahan nilai dari lahan yang sudah ada, bukan melalui ekspansi lahan. Peremajaan kebun yang sudah tua, peningkatan produktivitas, penguatan ketahanan iklim, serta peningkatan akses terhadap pembiayaan, layanan pendampingan, dan bibit unggul secara bersamaan akan meningkatkan kesejahteraan petani, ketahanan pangan nasional, serta keberlanjutan lingkungan.

Inovasi di tingkat budidaya maupun pengolahan sama pentingnya. Proses produksi dan Pabrik Kelapa Sawit/PKS yang efisien serta rendah karbon—dengan memanfaatkan biomassa dan limbah—dapat mengurangi intensitas penggunaan sumber daya. Industri hilir dapat mengolah minyak sawit dan fraksinya menjadi bahan baku pangan bernilai tinggi, oleokimia, dan specialty fats, alih-alih berfokus pada minyak sawit mentah atau bahan bakar berbasis komoditas massal. Selain itu, fortifikasi minyak sawit dengan vitamin A melalui jaringan distribusi domestik yang luas menawarkan sarana langsung dan masif untuk mengatasi masalah kekurangan gizi.

Pada akhirnya, tujuannya adalah menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi per hektar: produktivitas dan pendapatan petani sawit rakyat yang lebih tinggi, operasional yang lebih rendah karbon, produksi produk turunan bernilai tinggi, serta peningkatan kualitas gizi bagi konsumen Indonesia.

Q: Bagaimana TechnoServe melihat perkembangan industri minyak goreng Indonesia saat ini, terutama dari sisi ketersediaan bahan baku dan kebutuhan konsumen?

A: Sepuluh tahun terakhir, produksi minyak sawit Indonesia melonjak dari 30-35 juta ton menjadi lebih dari 45 juta ton, dan memainkan peran vital dalam menjaga ketahanan pangan domestik sekaligus memasok kebutuhan negara-negara berkembang. Namun, kebijakan permintaan baru-khususnya mandat biodiesel B50-memperketat ketersediaan bahan baku, di mana GAPKI mengestimasi kebijakan ini dapat mengalihkan sekitar 4 juta ton CPO per tahun dari alokasi pangan. Selain itu, pengelolaan ekspor komoditas melalui badan pengelola investasi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mengharuskan penyesuaian opera-sional bagi para eksportir.

Untuk melindungi konsumen domestik dan menstabilkan pasokan, pemerintah meluncurkan Minyakita. Kebijakan ini tidak hanya mengamankan akses minyak goreng dalam negeri dan menstabilkan harga, tetapi juga mempercepat transisi dari minyak goreng curah ke minyak goreng kemasan sehingga meningkatkan standar higienitas dan mengoptimalkan fortifikasi Vitamin A untuk mengatasi kekurangan gizi.

Q: Dalam rantai pasok minyak sawit, mulai dari petani, pengumpulan TBS, PKS, refinery hingga produk minyak goreng sampai ke konsumen, di bagian mana TechnoServe melihat masih terdapat persoalan terbesar yang perlu diperbaiki, dan apa solusi yang paling efektif untuk mengatasinya?

A: TechnoServe melihat bottleneck paling krusial berada pada interaksi antara petani sawit rakyat dan PKS. Sektor swasta dan perkebunan kelapa sawit komersial di Indonesia sudah sangat efisien, namun 2,9 juta petani sawit kecil independen—yang menguasai 41% dari luas perkebunan nasionali—masih menghadapi kendala produktivitas yang rendah serta keterbatasan akses ke pembiayaan, teknologi, dan pasar formal.

Untuk mengatasi hal ini tanpa bergantung pada ekspansi lahan, TechnoServe mendorong model komersialisasi petani sawit rakyat terintegrasi yang berfokus pada tiga intervensi utama:

  • Konsolidasi Kelembagaan Petani (Farmer Aggregation) dan Kemitraan Pasar Langsung: Membangun koperasi yang mampu mengonsolidasikan Tandan Buah Segar (TBS), mengoptimalkan penjadwalan panen, menyediakan layanan bisnis, dan bernegosiasi langsung dengan PKS—sehingga memangkas rantai perantara yang tidak efisien dan meningkatkan kualitas TBS.
  • Keterlacakan Digital di Tingkat Kebun (Digital Farm-Level Traceability): Melakukan pemetaan kebun secara digital untuk menghubungkan petani secara langsung ke dalam rantai pasok. Hal ini mencegah hilangnya data asal-usul TBS saat proses pengumpulan, sekaligus membantu petani memenuhi persyaratan wajib ISPO dan regulasi pasar inter-nasional (seperti kepemilikan e-STDB).
  • Peningkatan Produktivitas, Keberlanjutan, dan Akses Pembiayaan: Memanfaatkan kelembagaan petani sebagai wadah untuk menyalurkan benih bersertifikat unggul, memberikan pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), serta membuka akses pembia-yaan replanting—hal yang sangat krusial mengingat realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat saat ini masih di bawah separuh dari target nasional.

Dengan mengonsolidasikan petani sawit rakyat dan menghubungkan mereka secara langsung dan transparan ke PKS, pendekatan ini dapat meningkatkan pendapatan petani, menjamin pasokan yang pasokannya terlacak bagi pengolah, serta memperkuat daya saing secara keseluruhan.

TechnoServe
TechnoServe Palm Oil Program in Latin America

Q: Bagaimana memastikan perbaikan rantai pasok tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada petani sawit?

A: TechnoServe meyakini bahwa efisiensi rantai pasok harus dirancang untuk memaksimalkan nilai yang diterima oleh petani sawit rakyat, bukan sekadar menekan biaya operasional bagi perusahaan di hilir. Hal ini merupakan fokus yang sangat penting mengingat petani-petani sawit rakyat ini mengelola sekitar 41% dari total lahan sawit di Indonesia.

Agar efisiensi rantai pasok dapat memberikan manfaat ekonomi langsung bagi petani, terdapat tiga prinsip utama yang harus diterapkan:

  • Meningkatkan Produktivitas dan Menekan Biaya Operasional: Meningkatkan produktivitas TBS petani sawit rakyat saat ini (yang rata-ratanya masih berkisar 3 ton/ha) melalui penggunaan bibit unggul bersertifikat, pendampingan agronomi, pembiayaan replanting, mekanisasi, dan penyuluhan berbasis digital untuk meningkatkan margin keuntungan di tingkat petani secara signifikan.
  • Meningkatkan Daya Tawar Petani: Koperasi petani dengan tata kelola yang baik dapat mengonsolidasikan volume TBS, mengoptimalkan logistik, bernegosiasi langsung dengan PKS, dan mengakses layanan keuangan dalam skala besar. Penerapan timbangan digital, penilaian kualitas yang objektif, transparansi harga, dan sistem keterlacakan dapat mengurangi ketimpangan informasi, sehingga efisiensi rantai pasok dapat berdampak langsung pada penerimaan petani.
  • Memperluas Penciptaan Nilai di Luar Penjualan TBS Mentah: Membangun kemitraan bisnis yang memungkinkan kelembagaan petani berpartisipasi dalam aktivitas pengumpulan, transportasi, pengolahan, sertifikasi keberlanjutan, hingga kegiatan di sektor hilir.

Pada akhirnya, kemitraan rantai pasok harus diukur berdasarkan indikator riil di tingkat petani—yaitu peningkatan pendapatan bersih per hektar, penurunan biaya transaksi, dan ketahanan finansial yang lebih baik—bukan sekadar diukur dari kepastian pasokan TBS ke PKS.

TechnoServe
TechnoServe Palm Oil Program in Latin America

Q: Indonesia merupakan salah satu produsen CPO terbesar dunia, tetapi harga minyak goreng di tingkat konsumen tetap menjadi perhatian. Menurut TechnoServe, apa faktor utama yang mempengaruhi kondisi tersebut?

A: TechnoServe melihat harga minyak goreng di tingkat konsumen sebagai cerminan dari dinamika pasar global yang saling terhubung, pergeseran kebijakan, serta kompetisi alokasi pasokan. Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, pasar domestik Indonesia tetap terikat erat dengan perdagangan internasional; gejolak geopolitik dan gangguan rantai pasok global baru-baru ini telah mendorong kenaikan harga acuan minyak nabati dunia, yang pada akhirnya menekan harga eceran di dalam negeri.

Di tingkat domestik, tekanan ini diperkuat oleh peningkatan mandat bioenergi—khususnya transisi dari B40 ke B50 yang mengalihkan volume CPO dalam jumlah signifikan dari industri pangan dan memperketat ketersediaan bahan baku bagi produsen minyak goreng. Menyeimbangkan ambisi bioekonomi ini dengan penyediaan minyak goreng yang terjangkau bagi konsumen dalam negeri, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, memerlukan pengelolaan prioritas kebutuhan di sepanjang value chain CPO guna menjaga stabilitas harga tanpa mengorbankan ketahanan pangan.

Q: Seberapa penting peran petani sawit rakyat dalam menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku untuk industri minyak goreng Indonesia?

A: TechnoServe memandang petani sawit rakyat sebagai elemen yang sangat vital bagi kepastian, ketahanan, dan keberlanjutan pasokan minyak goreng Indonesia jangka panjang. Dengan menguasai ~41% dari total luas kebun sawit nasional, porsi produksi petani sawit rakyat terlalu besar untuk diabaikan.

Karena produktivitas petani sawit rakyat saat ini masih berada di bawah rata-rata kebun komersial/swasta, peningkatan hasil panen petani menjadi peluang terbesar untuk mengamankan tambahan pasokan CPO bagi kebutuhan pangan domestik tanpa harus melakukan pembukaan lahan baru. Inisiatif kebijakan seperti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), subsidi pupuk, sertifikasi ISPO, dan pendataan digital (e-STDB) menunjukkan keselarasan komitmen pemerintah, namun program-program ini harus dipastikan berjalan efektif secara komersial di lapangan.

Kuncinya terletak pada integrasi penuh petani ke dalam value chain yang transparan dan berbasis pasar. Alih-alih memberikan dukungan secara terpisah, TechnoServe mendorong pendekatan terpadu: mengkonsolidasi petani ke dalam wadah koperasi, meningkatkan kualitas TBS, membangun kerja sama penyerapan (offtake) langsung dengan PKS, serta memanfaatkan keterlacakan berbasis kebun untuk membuka akses pembiayaan dan investasi keberlanjutan.

Ini adalah bentuk sinergi nilai bersama. Petani sawit rakyat yang produktif akan memasok TBS yang stabil dan terlacak bagi PKS dan refinery, menjaga ketersediaan minyak goreng yang terjangkau bagi masyarakat, sekaligus menghasilkan pendapatan bersih yang lebih tinggi dan berkelanjutan bagi rumah tangga petani di pedesaan.

Q: Menurut TechnoServe, apa yang harus dilakukan agar industri minyak sawit Indonesia tidak hanya menjadi produsen CPO terbesar dunia, tetapi juga mampu menciptakan value chain minyak goreng yang memberikan manfaat lebih besar bagi petani sawit dan konsumen Indonesia?

A: TechnoServe meyakini Indonesia dapat menjadi tolok ukur global, tidak hanya dalam volume produksi CPO mentah, tetapi juga dalam memaksimalkan total nilai tambah per hektar bagi smallholder farmers dan konsumen. Pada tahun 2024, Indonesia memproduksi 45 juta ton CPO dari luas lahan 16,8 juta hektar, di mana petani kecil rakyat mengelola 41% lahan dan menjadi tumpuan hidup bagi lebih dari 3 million rumah tangga.

Untuk mengkonversi skala produksi ini menjadi kesejahteraan bersama, terdapat empat prioritas strategis utama:

  • Mentransformasi Petani Sawit Rakyat Menjadi Mitra Komersial yang Bankable: Mengonsolidasikan petani ke dalam koperasi yang dikelola secara profesional atau entitas bisnis petani yang mampu menjual TBS secara kolektif, mengamankan pasokan saprodi agronomi, dan bernegosiasi langsung dengan PKS. Langkah ini memperkuat—bukan berjalan sendiri-sendiri dari—program nasional seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
  • Membangun Rantai Pasok Berbasis Digital yang Transparan: Menerapkan pemetaan kebun, penimbangan digital, dan keterlacakan hingga ke tingkat batch (batch-level traceability) mulai dari tempat pengumpulan TBS hingga ke refinery. Hal ini menghilangkan ketimpangan informasi, menjamin penetapan harga yang adil, serta menempatkan minyak sawit Indonesia pada posisi yang siap memenuhi regulasi keberlanjutan global yang semakin ketat.
  • Mendorong Inovasi Produk Hilir Bernilai Tinggi: Transformasi dari sekadar produsen CPO massal dan minyak goreng mentah menuju pengembangan specialty fats, oleokimia, ekstraksi mikronutrien, serta produk turunan berbasis hayati (bio-based derivatives). Peningkatan efisiensi pengolahan dan pemanfaatan biomassa/limbah sawit akan membuka pasar ekspor bernilai tinggi tanpa memerlukan perluasan lahan.
  • Memberikan Nilai Tambah Nutrisi dan Kesejahteraan bagi Konsumen Nasional: Memanfaatkan jaringan distribusi minyak goreng yang sangat masif di dalam negeri untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Menjamin pasokan minyak goreng kemasan yang stabil dan higienis—seperti Minyakita untuk rumah tangga berpenghasilan rendah—yang dikombinasikan dengan wajib fortifikasi Vitamin A, menja-dikan bahan pokok harian ini sebagai sarana efektif untuk mendukung kesehatan masya-rakat dan ketahanan pangan.

Tujuan akhirnya adalah menciptakan nilai lebih dari setiap hektar: meningkatkan margin pendapatan petani sawit rakyat, mempercepat industrialisasi hilir yang rendah karbon, serta menyediakan minyak goreng yang terjangkau dan bergizi bagi keluarga Indonesia.

Didirikan pada tahun 1968, TechnoServe memanfaatkan kekuatan sektor swasta untuk membantu masyarakat lepas dari kemiskinan secara permanen. Organisasi nirlaba yang aktif di sekitar 20 negara ini bekerja bersama warga lokal menciptakan masa depan yang lebih baik—melalui pertanian regeneratif, bisnis, dan pasar yang meningkatkan penghasilan.

Visi kami: dunia yang berkelanjutan tempat setiap orang di komunitas berpenghasilan rendah punya peluang untuk sejahtera.

Info selengkapnya:

Twitter @TechnoServe | Facebook @TechnoServe | LinkedIn @TechnoServe

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop