Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Nama Haji Abdul Rasyid AS tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industri kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Dari bisnis perkebunan, ekosistem usaha yang dibangun melalui Citra Borneo Indah (CBI) Group kini berkembang mencakup industri hilir, logistik maritim, kawasan industri, peternakan, properti hingga penelitian dan pengembangan.
Skala tersebut membuat perjalanan bisnis Haji Abdul Rasyid menarik untuk dilihat bukan hanya dari sisi perkebunan sawit, tetapi juga bagaimana sebuah bisnis hulu dikembangkan menjadi ekosistem usaha yang terintegrasi dari kebun hingga produk hilir.
Haji Abdul Rasyid merupakan Chairman sekaligus Owner CBI Group dan tercatat sebagai pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) PT Citra Borneo Utama Tbk (CBU). Sementara itu, CBI merupakan pemegang saham terbesar PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).
Dari Perkebunan Menuju Ekosistem Terintegrasi
Salah satu kekuatan utama CBI Group adalah keterhubungan antara bisnis perkebunan dengan industri hilir. Melalui SSMS, kelompok usaha ini mengelola 23 perkebunan dengan total area 115.881 hektare, dengan produksi fresh fruit bunches (FFB) sekitar 1,8 juta ton per tahun berdasarkan informasi CBI Group. Perusahaan juga menyebut seluruh operasional perkebunannya telah memperoleh sertifikasi RSPO dan ISPO.
Dari sisi hilir, CBU menjadi bagian penting dalam rantai nilai tersebut. CBI Group mencatat CBU memiliki kapasitas pemrosesan sekitar 850.000 ton per tahun, serta Kernel Crushing Plant (KCP) berkapasitas 180.000 ton per tahun.
Dengan demikian, bisnis yang dibangun tidak berhenti pada produksi TBS dan CPO. Produk sawit dapat diteruskan ke berbagai proses pengolahan untuk menghasilkan produk turunan yang ditujukan bagi pasar domestik maupun internasional.
Memperluas Bisnis di Luar Sawit
Menariknya, ekosistem bisnis CBI Group juga tidak hanya bertumpu pada perkebunan dan industri pengolahan sawit. CBI Group saat ini menyebut memiliki tujuh unit bisnis terintegrasi, termasuk perkebunan kelapa sawit, industri hilir, logistik maritim, kawasan industri, peternakan sapi, pengembangan properti, serta penelitian dan pengembangan.
Di sektor logistik maritim, misalnya, PT Pelayaran Lingga Marintama mengoperasikan 22 kapal untuk mendukung transportasi laut. Sementara PT Surya Borneo Industri mengembangkan kawasan industri seluas 137,19 hektare.
Di bidang peternakan, PT Sulung Ranch mengembangkan konsep integrasi sapi dengan perkebunan sawit. Adapun Sulung Research Station dikembangkan sebagai pusat penelitian yang memanfaatkan teknologi IoT dan artificial intelligence (AI) untuk mendukung inovasi perkebunan.
Pengembangan lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa strategi bisnis CBI tidak semata-mata memperbesar luas perkebunan, tetapi juga membangun infrastruktur pendukung dan aktivitas ekonomi yang dapat menciptakan nilai tambah di sekitar rantai bisnis utama.
Pengakuan Negara
Perjalanan Haji Abdul Rasyid juga memperoleh pengakuan di tingkat nasional. Pada Agustus 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Pratama kepada Haji Abdul Rasyid AS. Dalam laporan kinerja SSMS, penghargaan tersebut disebut diberikan kepada Haji Abdul Rasyid dalam kapasitasnya sebagai Chairman sekaligus Owner CBI Group dan pemegang saham terbesar SSMS.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan panjang pengusaha asal Kalimantan tersebut, sekaligus menandai kontribusinya yang telah berkembang melampaui aktivitas bisnis perkebunan.
Hulu-Hilir Menjadi Kekuatan Bisnis
Model yang dibangun Haji Abdul Rasyid memperlihatkan pentingnya integrasi dalam industri sawit. Perkebunan menyediakan bahan baku, industri pengolahan menciptakan nilai tambah, sementara logistik dan kawasan industri mendukung rantai pasok. Di saat yang sama, penelitian dan pengembangan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas serta penggunaan teknologi.
Bagi industri sawit Indonesia, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan ketika tantangan sektor perkebunan tidak lagi hanya berkaitan dengan produksi TBS dan CPO, tetapi juga hilirisasi, efisiensi, keberlanjutan, teknologi dan akses pasar global.
CBI Group sendiri menyatakan komitmennya untuk mengintegrasikan keberlanjutan dalam seluruh kegiatan bisnis. Perusahaan juga menempatkan masyarakat, lingkungan, kemakmuran, perdamaian dan kemitraan sebagai bagian dari pendekatan keberlanjutannya.
Dari Kalimantan untuk Pasar yang Lebih Luas
Perjalanan Haji Abdul Rasyid menunjukkan bagaimana bisnis sawit di Kalimantan dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem usaha dengan mata rantai yang semakin panjang. Dari kebun seluas lebih dari 115 ribu hektare, jutaan ton produksi TBS, fasilitas pengolahan dan kernel crushing, hingga logistik, kawasan industri dan penelitian, CBI Group kini memiliki struktur bisnis yang jauh lebih luas daripada sekadar perusahaan perkebunan.
Bagi IPO NEWS, perkembangan tersebut menarik untuk terus dipantau karena arah bisnis Haji Abdul Rasyid dan kelompok usahanya mencerminkan salah satu dinamika penting industri sawit Indonesia: bagaimana kekuatan di sektor hulu dapat dikembangkan menjadi industri terintegrasi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri.
Muslim M. Amin
Editor in Chief
Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS)
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting
























