MPOC Proyeksikan Ekspor Sawit Malaysia 16 Juta Ton Pada 2027, Ekspor Indonesia Berpotensi Turun

MPOC

Indonesian Palm Oil News (IPO News), Kuala Lumpur — Perdagangan minyak sawit global diperkirakan menghadapi perubahan pola pasokan pada 2027. Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memproyeksikan ekspor minyak sawit Malaysia berada di sekitar 16 juta ton pada 2027, sementara ekspor Indonesia diperkirakan mengalami penurunan.

Proyeksi tersebut disampaikan MPOC pada 22 September 2026 dengan mengacu pada analisis Oil World. Dalam proyeksi tersebut, produksi sawit Indonesia pada 2027 diperkirakan turun sekitar 1,9 juta ton, sedangkan produksi Malaysia diperkirakan turun sekitar 700.000 ton.

Yang menarik, ekspor Indonesia diperkirakan turun hampir 3 juta ton pada 2027. Salah satu faktor yang disebut adalah meningkatnya kebutuhan domestik untuk blending biodiesel, sehingga sebagian produksi CPO Indonesia semakin banyak diserap oleh pasar dalam negeri.

Malaysia Pertahankan Ekspor 16 Juta Ton

Di tengah perkiraan penurunan produksi, Malaysia justru diproyeksikan mampu mempertahankan ekspor sawit sekitar 16 juta ton pada 2027. Angka tersebut relatif sama dengan proyeksi ekspor Malaysia untuk 2026. Artinya, Malaysia diperkirakan tetap memiliki kapasitas untuk memasok pasar internasional dalam jumlah besar meskipun produksi domestiknya menghadapi sejumlah tekanan.

Hingga Agustus 2026, ekspor sawit Malaysia telah mencapai sekitar 10,4 juta ton, meningkat sekitar 806.000 ton dibandingkan periode yang sama sebelumnya. Namun, ekspor pada Agustus 2026 tercatat sekitar 1,29 juta ton, turun 7,5% dibandingkan Juli. Penurunan terutama dipengaruhi melemahnya pengiriman ke sejumlah pasar di Asia Selatan dan Timur Tengah.

Produksi Malaysia Juga Menghadapi Tekanan

Di sisi produksi, Malaysia tidak sepenuhnya terbebas dari tantangan. Produksi minyak sawit pada Agustus 2026 meningkat 1,4% secara bulanan menjadi sekitar 1,81 juta ton. Namun, secara tahunan produksi masih lebih rendah dan telah mengalami penurunan year-on-year selama enam bulan berturut-turut sejak Maret 2026.

Kondisi tersebut membuat perkembangan cuaca menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan pasokan sawit pada 2027. MPOC mencatat kondisi yang lebih kering terkait El Niño mulai terlihat di Malaysia dan Indonesia sejak awal Agustus. Dampaknya terhadap tanaman sawit diperkirakan baru dapat terlihat dalam beberapa bulan berikutnya, sehingga kondisi cuaca pada akhir 2026 menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan industri.

Ekspor Indonesia Berpotensi Tertekan Biodiesel

Bagi Indonesia, perkembangan biodiesel menjadi salah satu faktor utama dalam perhitungan ekspor. Indonesia merupakan produsen sawit terbesar dunia, tetapi pada saat yang sama memiliki kebutuhan domestik yang terus meningkat. Penggunaan CPO untuk program biodiesel membuat semakin banyak minyak sawit dialokasikan untuk pasar domestik.

Oil World, sebagaimana dikutip MPOC, memperkirakan ekspor sawit Indonesia pada 2027 dapat berkurang hampir 3 juta ton. Angka tersebut penting bagi pasar global karena perubahan volume ekspor Indonesia akan berdampak terhadap jumlah minyak sawit yang tersedia bagi pembeli internasional.

Dengan kondisi tersebut, pasar global akan semakin memperhatikan keseimbangan antara produksi CPO, konsumsi domestik, kebutuhan biodiesel, stok dan ekspor dari dua produsen utama dunia, Indonesia dan Malaysia.

Permintaan Minyak Nabati Jadi Faktor Kunci

Persoalan pasokan tersebut terjadi ketika pertumbuhan konsumsi minyak nabati dunia diperkirakan lebih cepat daripada pertumbuhan produksi. MPOC menyebut produksi empat minyak nabati utama dunia pada 2027 diperkirakan hanya meningkat sekitar 3,1 juta ton, sementara konsumsi diperkirakan bertambah sekitar 6,1 juta ton.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, pertumbuhan permintaan akan lebih besar daripada tambahan produksi. Kondisi ini dapat membuat keseimbangan pasar minyak nabati global menjadi lebih ketat.

Bagi industri sawit, perkembangan produksi Indonesia dan Malaysia akan menjadi sangat penting. Peningkatan produksi di Amerika Latin diperkirakan dapat membantu menambah pasokan global, tetapi belum tentu sepenuhnya mengimbangi potensi penurunan produksi di Asia Tenggara.

Pasar Sawit 2027 Akan Sangat Dipengaruhi Pasokan

Proyeksi MPOC memberikan gambaran bahwa tahun 2027 akan menjadi periode yang menarik bagi industri sawit dunia. Malaysia diperkirakan mempertahankan ekspor sekitar 16 juta ton, sedangkan ekspor Indonesia berpotensi turun hampir 3 juta ton. Pada saat yang sama, konsumsi minyak nabati global diperkirakan tumbuh lebih cepat dibandingkan produksinya.

Namun, seluruh angka tersebut masih merupakan proyeksi, bukan hasil akhir. Produksi aktual akan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, produktivitas perkebunan, perkembangan harga minyak nabati dan energi, kebijakan biodiesel, serta dinamika permintaan negara-negara importir.

Karena itu, perkembangan produksi dan ekspor Indonesia–Malaysia sepanjang akhir 2026 hingga awal 2027 akan menjadi indikator penting untuk melihat seberapa ketat pasokan minyak sawit dunia pada tahun depan.

Dilansir IPO NEWS dari pernyataan resmi Malaysian Palm Oil Council (MPOC) dan sumber terkait.

Muslim M. Amin
Editor in Chief
Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS)

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop