Indonesian Palm Oil (IPO News) – Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) adalah salah satu perusahaan kelapa sawit yang memiliki kinerja yang terus meningkat dalam sepuluh tahun terakhir (2015-2024). Berbagai langkah ekspansi yang dilakukan termasuk akuisisi perkebunan sawit berjalan sukses. Disaat banyak kompetitornya sulit meningkatkan laba, bahkan banyak yang mengalami kerugian, kinerja SSMS justru terus menjulang. SSMS salah satu perusahaan sawit dengan peningkatan aset yang cepat. Pada tahun 2015 total aset SSMS hanya sebesar Rp 6,98 triliun, ditahun 2021 asetnya melesat menjadi Rp 10,70 triliun dan ditahun 2024 melebihi Rp 11 triliun. Suatu pencapaian yang sangat fantastis.
Menurut catatan IPO NEWS, salah satu langkah akuisisi terbesar SSMS adalah ditahun 2015 lalu Melalui anak usahanya PT Mitra Mendawai Sejati mengakuisisi 100% saham PT Menteng Kencana Mas (MKM) senilai Rp 472,5 miliar. MKM memiliki lahan perkebunan sawit seluas 20.800 hektar yang berlokasi di Sei Tewu, Kanamit, Badirih, Desa Puntik Sanggang, Pangkoh Sebrang, Dandang Maliku, Pandih Batu, Pulau Pisang, Kalimantan Tengah. Saat itu lahan tertanam (inti) seluas 5.857 hektar dan lahan plasma 1.400 hektar.
Dalam empat tahun terakhir (2018-2021), hanya ditahun 2019 kinerja nya menurun dan tidak sesuai ekspektasi. Laba bersih SSMS turun 86,45% menjadi Rp 11,68 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp 86,20 miliar Pada tahun 2019 SSMS membukukan penjualan sebesar Rp 3,27 triliun atau turun dibanding tahun sebelumnya Rp 3,71 triliun. Penurunan ini disebabkan turunnya harga CPO awal tahun 2019, walaupun di akhir-akhir bulan tahun 2019 sempat menguat. Total produksi TBS mencapai 1,52 juta ton dengan yield 21,98 ton per hektar atau turun dibanding tahun sebelumnya 1,61 juta ton dengan yield 24,4 ton per hektar. Ditahun ini SMSS menambah 2 unit pabrik kelapa sawit (PKS).
Ditahun 2020 banyak langkah ekspansi yang dilakukan SSMS sehingga menyiapkan belanja modal yang cukup besar yaitu Rp 617 miliar. Ditahun ini SSMS membangun 1 pembangkit listrik biogas lagi sehingga memiliki 2 unit pembangkit listrik biogas dengan total kapasitas 3,4 MW. SSMS menghabiskan investasi US$ 4 juta untuk membangun kedua pembangkit listrik biogas ini. Langkah pembangunan pembangkit listrik biogas merupakan bagian dari proyek hilirisasi yang sedang ditingkatkan. Belanja modal juga digunakan SSMS untuk menyelesaikan pembangunan pabrik kelapa sawit dan pembangunan jetty yang seluruhnya mencapai Rp 128 miliar. Belanja modal terbesar yaitu Rp 444 miliar digunakan untuk kegiatan non penanaman dan Rp 45 miliar untuk lini perkebunan.
Memasuki tahun 2021 kinerja SSMS disemua lini meningkat tinggi. Hingga September 2021 laba yang dihasilkan meningkat 287,93% menjadi Rp 1,03 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 264,97 miliar. Total penjualan meningkat 34,69% menjadi Rp 3,68 trililun dari sebelumnya Rp 2,74 triliun. Kontribusi penjualan terbesar yaitu 88% berasal dari anak usahanya PT Citra Borneo Utama mencapai Rp 3,26 triliun. Tingginya penjualan dan laba pada periode ini akibat produksi CPO yang meningkat menjadi 340.559 ton atau naik 7% dari periode yang sama tahun lalu 319.533. SSMS juga menikmati tingginya harga CPO dari Rp 7,78 juta per ton menjadi Rp 9,3 juta per ton. Utilisasi pabrik juga meningkat 64% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 58%.
OPTIMALKAN HILIRISASI INDUSTRI CPO
Menyambut tantangan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan hilirisasi industri sawit, SSMS akan mengotimalkan produk hilir sawit melalui anak usahanya PT. Citra Borneo Utama (CBU) yang memproduksi stearin dan olein, melalui PT. Citra Borneo Energy (CBE) yang memproduksi biodiesel dan glycerin dan nantinya akan menghasilkan fatty acid, fatty alcohol dan produk oleochemical lainnya melalui PT. Citra Borneo Chemical (CBC), serta produk massal seperti minyak goreng, bahan plastik, obat obatan dan kosmetika.
Agar produk hilir SSMS diterima di dengan baik di pasar dunia, CBU diarahkan pada pengujian sertifikasi standar prinsip prinsip keberlanjutan untuk memenuhi standarisasi internasional mengenai bisnis berkelanjutan. Dengan sertifikasi ini, seluruh rangkaian proses bisnis baik dari pemasok maupun produk yang dihasilkan telah memenuhi proses standarisasi internasional.
Menurut Sekretaris SSMS, Swasti Kartikaninyas salah satu strategi penjualan CPO pada tahun 2021 dengan menyalurkan sebagian besar CPO ke sektor hilir, karena selain tidak dikenakan bea keluar sawit, hasil penjualan produk hilir memiliki nilai jual tinggi, sehingga meningkatkan pendapatan. Pengurangan bea keluar berdampak positif untuk meningkatkan ekspor CPO yang secara otomatis meningkatkan devisa negara.
SSMS memiliki beberapa kelebihan yang bisa menjadi katalis positif terhadap kinerja kedepan, seperti mengelola bisnis sawit secara terintegarsi, mulai dari perkebunan sawit hingga terus mengembangkan produk turunannya. Selain itu seluruh perkebunan sawit berada dilokasi strategis dan dikelola dengan baik, sehingga memiliki nilai tambah dibanding emiten sawit lainnya.
Hingga tahun 2021 total kapasitas terpasang pabrik kelapa sawit, pabrik olein, stearin dan PFAD baru mencapai 60% dari total kapasitas terpasang yang mencapai 855.000 ton per tahun. Dengan kapasitas yang besar tersebut SSMS masih memiliki peluang untuk tumbuh lebih cepat ditengah tren kenaikan harga CPO. Pabrik tersebut dikelola melalui PT. Citra Borneo Utama (CBU).
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting





























