Indonesian Palm Oil News (IPO News) – Siapa yang bilang bahwa dunia mahasiswi ada yang beranggapan alergi terhadap dunia riset. Faktanya justru sebaliknya.
Kini, seiring dengan perkembangan zaman yang dikaitkan dengan perkembangan teknologi, riset dalam dunia mahasiswi atau mahasiswa adalah dunia proses yang paling penting untuk berpikir kritis, menguji data dan mencari solusi nyata.
Kegiatan riset ini, khususnya riset yang berhubungan dengan kelapa sawit adalah upaya kegiatan melatih mahasiswi menjadi pencipta ilmu baru, bukan hanya pengikut teori.
Di edisi kali ini. IPO News menyajikan sekelumit riset mengenai kelapa sawit yang dihubungkan dengan penyakit Parkinson. Menarik bukan. Inilah paparan riset singkat dari Maureen Livita, mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (UBAYA).
Memang apa hubungannya minyak sawit dengan penyakit Parkinson? Pertanyaan itu sering muncul ketika saya menceritakan penelitian yang sedang saya lakukan. Banyak orang yang tidak membayangkan bahwa minyak sawit suatu hari dapat menjadi bagian dari penelitian penyakit Parkinson. Selama ini hilirisasi sawit identik dengan transformasi tandan buah segar menjadi minyak goreng sebagai pemanfaatan pangan, bioenergi seperti biodiesel, ataupun produk oleokimia lainnya. Namun bagi saya seorang mahasiswa farmasi, menurut saya hilirisasi memiliki perspektif yang justru berbeda. Menurut saya, potensi sawit Indonesia jauh lebih dari sekedar itu. Di laboratorium, melalui penelitian mengenai Red Palm Olein saya belajar bahwa senyawa bioaktif yang disimpan seperti skualena, karotenoid, tokotrienol dan tokoferol juga dapat membuka peluang baru yang ditransformasikan menjadi sumber inovasi di bidang kesehatan. Perspektif inilah yang membawa saya melihat bahwa hilirisasi sawit juga dapat tumbuh melalui riset farmasi.
Lalu, mengapa saya memilih berfokus pada penyakit parkinson? Hingga saat ini, terapi penyakit Parkinson masih berfokus pada pengendalian gejala dalam membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, namun belum mampu menghentikan proses neurodegenerasi yang terus berlangsung. Kondisi ini kami bertanya, apakah ada pendekatan yang tidak hanya meredakan gejala, tetapi juga berpotensi melindungi sel saraf dari kerusakan? Sehingga kesempatan ini membuka ruang bagi pengembangan pendekatan terapi yang lebih protektif.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi tersebut dapat benar-benar dimanfaatkan oleh tubuh manusia. Banyak senyawa alami memiliki aktivitas biologis yang baik, tetapi belum tentu mudah diserap sehingga manfaatnya menjadi terbatas. Dan di sinilah farmasi berperan, bukan hanya mengidentifikasi potensi suatu bahan, tetapi juga mampu merancang teknologi yang mampu meningkatkan efektivitasnya. Bagi saya, inilah makna sesungguhnya dari inovasi, yaitu mengubah potensi menjadi solusi yang lebih aplikatif.
Salah satu pendekatan yang kami lakukan adalah pengembangan Red Palm Olein berbasis Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS). Sebuah sistem penghantaran obat yang mampu membentuk nanoemulsi oil-in-water secara spontan saat kontak dengan cairan saluran cerna dan dirancang untuk meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas senyawa lipofilik sehingga potensinya sebagai neuroprotektor dapat bekerja lebih optimal.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting
























