Aspendo Dorong E5, Industri Bioetanol Masih Menunggu Kepastian Pasar

Aspendo

Indonesian Palm Oil News (IPO News), Bali — Indonesia memiliki kapasitas produksi Fuel Grade Ethanol (FGE) yang cukup besar untuk mendukung pengembangan bahan bakar nabati. Namun, kapasitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena industri bioetanol masih menghadapi persoalan utama berupa keterbatasan penyerapan pasar atau offtake.

Hal tersebut disampaikan Chairman Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia (APSENDO), Geovanni Garias Pradhana, dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, 17 September 2026. Dalam sesi bertema “Accelerating the Energy Transition: A Multi-Sectoral Roadmap for Biofuels, Bioethanol, and Sustainable Aviation Fuel (SAF)”, Geovanni mengungkapkan bahwa kapasitas terpasang FGE nasional telah mencapai sekitar 70.500 kiloliter per tahun.

Namun, proyeksi pemanfaatannya pada 2025 hanya sekitar 840 kiloliter. Artinya, tingkat utilisasi industri FGE baru sekitar 1,2%. Menurut Geovanni, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama industri bioetanol Indonesia bukan semata-mata kemampuan produksi, melainkan bagaimana menciptakan pasar yang mampu menyerap produk tersebut secara berkelanjutan.

Pasar Menjadi Tantangan Utama

Geovanni menilai pengembangan bioetanol membutuhkan kepastian pasar dan ekosistem yang mendukung. Tanpa kepastian offtake, pelaku industri akan menghadapi kesulitan dalam mengambil keputusan investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Karena itu, APSENDO mendorong pemerintah mempercepat penerapan mandatori E5, yaitu pencampuran 5% bioetanol ke dalam bensin, sekaligus membangun ekosistem pasar yang dapat memberikan kepastian bagi produsen.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan bioetanol akan meningkat seiring dengan perluasan implementasi E5. Dari sisi bahan baku, Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar. Produksi molases atau tetes tebu nasional pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 1,7 juta ton, sementara sekitar 1,1 juta ton digunakan oleh industri yang sudah ada.

Dengan demikian, terdapat sekitar 500 ribu ton lebih molases yang berpotensi diarahkan untuk produksi etanol bahan bakar.

APSENDO memperkirakan volume tersebut dapat dikonversi menjadi sekitar 126.000–142.000 kiloliter etanol per tahun, yang dapat menopang sekitar 7–8% kebutuhan awal E5 secara nasional.

Namun, angka tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan E5 membutuhkan strategi pasokan bahan baku yang lebih luas. Molases saja belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan apabila program E5 diterapkan secara nasional.

APSENDO Usulkan Kepastian Investasi

Untuk memperkuat industri bioetanol, APSENDO menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis kepada pemerintah. Salah satunya adalah pembaruan formula Harga Indeks Pasar (HIP) bioetanol. Menurut APSENDO, formula tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi biaya produksi dan logistik saat ini agar lebih mencerminkan keekonomian industri.

APSENDO juga mendorong adanya kontrak penyerapan jangka panjang dari pengembang atau badan usaha bahan bakar nasional. Kepastian offtake dinilai penting untuk memberikan kepastian investasi kepada produsen bioetanol.

Selain itu, pembangunan infrastruktur penyimpanan dan fasilitas pencampuran atau blending juga menjadi perhatian. Infrastruktur transportasi, terminal penyimpanan dan fasilitas blending perlu dikembangkan agar distribusi bioetanol dapat berjalan efisien.

Dengan adanya kepastian pasar, harga yang lebih mencerminkan biaya produksi, kontrak penyerapan dan infrastruktur yang memadai, industri akan memiliki dasar yang lebih kuat untuk meningkatkan investasi.

Aspendo

E5 dan Masa Depan Biofuel Indonesia

Pengembangan bioetanol merupakan bagian dari agenda Indonesia untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi. Jika biodiesel berbasis sawit berperan dalam substitusi solar, maka bioetanol dapat mengambil peran dalam substitusi sebagian konsumsi bensin.

Keduanya menunjukkan bahwa strategi biofuel Indonesia semakin berkembang dari satu jenis bahan bakar menuju ekosistem energi nabati yang lebih beragam. Bagi industri bioetanol, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membangun kapasitas produksi, tetapi memastikan produk tersebut memiliki pasar yang jelas dan berkelanjutan.

Pesan Geovanni di forum 6th Palm Biodiesel Conference menjadi penting dalam konteks tersebut. Indonesia memiliki potensi bahan baku dan kapasitas industri, tetapi diperlukan kebijakan yang mampu mempertemukan produksi, harga, infrastruktur dan kepastian pasar.

Dengan percepatan mandatori E5 dan terbentuknya ekosistem pasar yang sehat, industri bioetanol memiliki peluang untuk berkembang lebih besar sekaligus memberikan kontribusi terhadap diversifikasi energi dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop