Indonesian Palm Oil News (IPO News), Bali — Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menegaskan bahwa secara fundamental produksi sawit nasional masih cukup untuk mendukung implementasi biodiesel B50. Namun, peningkatan penyerapan sawit untuk kebutuhan energi domestik akan membawa konsekuensi terhadap ketersediaan minyak sawit untuk pasar ekspor.
Hal tersebut disampaikan Eddy Martono dalam sesi “Global Palm Bioenergy Outlook: Yields, Innovation, and B50 Mandate Execution” pada 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Jumat (18/9/2026).
Menurut Eddy, implementasi B50 pada 2026 masih dapat didukung oleh ketersediaan produksi sawit nasional. Namun, tekanan terhadap volume ekspor akan semakin terasa pada 2027, ketika produksi diperkirakan mengalami penurunan sementara kebutuhan domestik meningkat.

Produksi 2026 Diproyeksikan 58,8 Juta Ton
Dalam paparannya, Eddy memperkirakan total produksi CPO dan PKO Indonesia pada 2026 mencapai 58,8 juta ton.
Dari jumlah tersebut, konsumsi domestik diproyeksikan sekitar 27,1 juta ton, sedangkan ekspor mencapai sekitar 31,1 juta ton.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pasar ekspor masih memiliki peranan besar dalam menyerap produksi sawit nasional. Namun, meningkatnya kebutuhan domestik untuk energi akan mengubah keseimbangan tersebut.
Eddy menyampaikan bahwa secara fundamental pasokan saat ini cukup untuk mendukung B50. Tetapi, semakin besar volume sawit yang diserap untuk biodiesel, semakin kecil volume yang tersedia untuk pasar ekspor.
2027: Produksi Turun, Kebutuhan Dalam Negeri Naik
Tantangan yang lebih besar diproyeksikan terjadi pada 2027.
Eddy memperkirakan produksi CPO dan PKO nasional turun menjadi sekitar 56,6 juta ton, antara lain akibat pengaruh kondisi cuaca.
Pada saat yang sama, konsumsi domestik justru diperkirakan meningkat menjadi 30,2 juta ton.
Khusus untuk biodiesel, penyerapan diproyeksikan meningkat 18,4% menjadi 17,4 juta ton.
Kombinasi antara produksi yang lebih rendah dan konsumsi domestik yang lebih tinggi tersebut membuat ruang untuk ekspor semakin terbatas. Ekspor diproyeksikan turun dari 31,1 juta ton pada 2026 menjadi 26,4 juta ton pada 2027.
Dengan demikian, terdapat potensi penurunan ekspor sekitar 4,7 juta ton, atau mendekati 5 juta ton, dalam satu tahun. Secara persentase, penurunan tersebut sekitar 14,87%.
B50 Bukan Sekadar Persoalan Biodiesel
Paparan Eddy menunjukkan bahwa implementasi B50 tidak hanya berkaitan dengan kemampuan industri biodiesel menyerap bahan baku.
Kebijakan tersebut juga berkaitan langsung dengan keseimbangan pasokan sawit nasional, kebutuhan industri pangan dan oleokimia, ekspor, serta penerimaan negara.
Jika ekspor turun secara signifikan, penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak dan pungutan ekspor juga berpotensi terdampak. Di sisi lain, penerimaan dari sektor tersebut selama ini memiliki peran dalam mendukung keberlanjutan program biofuel.
Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi semakin penting ketika Indonesia meningkatkan pemanfaatan sawit untuk kebutuhan energi domestik.
Produktivitas Petani Menjadi Kunci
Menurut Eddy, Indonesia perlu mencari jalan untuk meningkatkan produksi tanpa harus mengandalkan pembukaan lahan baru, terutama ekspansi ke hutan primer.
Fokus utama harus diarahkan pada peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada, termasuk perkebunan rakyat.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui peremajaan tanaman, penggunaan bahan tanam berkualitas, penerapan teknologi budidaya, serta peningkatan kemampuan pekebun dalam mengelola kebun.
Persoalan produktivitas memang menjadi salah satu tantangan struktural industri sawit Indonesia. Sebelumnya, kajian yang didukung BPDP juga mencatat adanya stagnasi produktivitas sektor hulu dan menempatkan peningkatan produktivitas sebagai salah satu strategi penting untuk menjaga pertumbuhan produksi jangka panjang.
Dengan demikian, tantangan B50 pada akhirnya bukan hanya bagaimana menyediakan biodiesel, tetapi juga bagaimana meningkatkan produksi sawit dari lahan yang sudah tersedia.
Menjaga Tiga Kepentingan Sekaligus
Indonesia kini menghadapi kebutuhan untuk menjaga tiga kepentingan utama secara bersamaan: ketahanan pangan, ketahanan energi, dan kinerja ekspor.
Program B50 memperbesar porsi sawit yang dimanfaatkan di dalam negeri untuk energi. Hal ini memberikan nilai tambah melalui pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan memperbesar pemanfaatan sumber daya domestik.
Namun, pada saat yang sama, ekspor tetap menjadi salah satu sumber penting devisa bagi Indonesia.
Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi titik temu dari berbagai kepentingan tersebut. Semakin tinggi produktivitas perkebunan yang sudah ada, semakin besar pula peluang Indonesia meningkatkan produksi tanpa harus memperluas areal secara agresif.
Bagi industri sawit nasional, pesan Eddy Martono di forum biodiesel tersebut cukup jelas: Indonesia memiliki kemampuan fundamental untuk menjalankan B50, tetapi keberlanjutan program tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan meningkatkan produktivitas sawit nasional.
Dengan produksi yang lebih tinggi, Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan energi domestik sekaligus mempertahankan kapasitas ekspornya. Sebaliknya, jika produksi stagnan sementara kebutuhan biodiesel terus meningkat, tekanan terhadap volume ekspor akan semakin besar.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

























