Asian Agri: 100.000 Hektare, 23 PKS dan Lebih dari 30.000 Petani dalam Satu Ekosistem Sawit

asian agri

Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Asian Agri telah membangun salah satu ekosistem bisnis sawit terintegrasi di Indonesia, yang mencakup perkebunan, pabrik kelapa sawit, kemitraan dengan petani, riset dan pengembangan, benih unggul, hingga pemanfaatan energi terbarukan.

Berdiri sejak 1979, Asian Agri saat ini mengelola sekitar 100.000 hektare perkebunan sawit milik perusahaan di Sumatera Utara, Riau dan Jambi. Di luar areal perusahaan, Asian Agri bermitra dengan lebih dari 30.000 petani, dengan sekitar 60.000 hektare kebun plasma milik petani yang menjadi bagian dari ekosistem produksinya.

Dengan demikian, ekosistem perkebunan yang terhubung dengan Asian Agri mencapai sekitar 160.000 hektare. Namun, angka tersebut harus dibaca secara tepat karena Asian Agri membedakan antara 100.000 hektare kebun milik perusahaan dan 60.000 hektare kebun yang dimiliki petani plasma.

23 PKS Menopang Rantai Produksi

Menurut informasi yang diterima Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), Asian Agri mengoperasikan 30 perkebunan dan 23 pabrik kelapa sawit (PKS) yang membentuk jaringan terintegrasi mulai dari perkebunan hingga pengolahan tandan buah segar menjadi produk sawit.

Perusahaan menghasilkan crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO). Selain menghasilkan minyak, proses pengolahan di PKS juga menghasilkan berbagai produk samping yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk energi maupun kebutuhan lainnya.

Jaringan perkebunan Asian Agri didukung lebih dari 22.000 karyawan, berdasarkan profil perusahaan.

Lebih dari 30.000 Petani Menjadi Bagian Ekosistem

Salah satu karakter penting Asian Agri adalah model kemitraannya dengan petani.

Perusahaan menyebut telah bermitra dengan lebih dari 30.000 petani, dengan luas kebun plasma sekitar 60.000 hektare. Dengan demikian, lebih dari 40% dari total ekosistem perkebunan yang terhubung dengan Asian Agri berada pada sisi petani.

Kemitraan tersebut memiliki sejarah panjang. Asian Agri mulai terlibat dalam program PIR-Trans pada 1987 di Riau dan Jambi.

Perusahaan kemudian mengembangkan model One to One Partnership Commitment, yaitu setiap satu hektare kebun perusahaan dipasangkan dengan satu hektare lahan petani dalam skema kemitraan.

Bagi industri sawit yang semakin membutuhkan ketertelusuran, peningkatan produktivitas dan keberlanjutan, jaringan petani tersebut menjadi bagian penting dari rantai pasok Asian Agri.

Riset dan Benih Unggul Menjadi Aset Strategis

Kekuatan Asian Agri tidak hanya berada pada luas perkebunan dan jumlah PKS. Perusahaan juga memiliki kemampuan riset dan pengembangan yang cukup besar.

Asian Agri R&D Centre di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, didirikan pada 1989 dan kini didukung sekitar 50 peneliti dan 150 teknisi riset yang bekerja di bidang agronomi, ilmu tanah, hama dan penyakit, pemuliaan tanaman, bioteknologi serta kultur jaringan.

Asian Agri juga mengembangkan benih sawit Topaz, yang ditujukan untuk menghasilkan produktivitas tinggi, memiliki kemampuan beradaptasi pada kondisi lahan tertentu serta pertumbuhan vertikal yang lebih lambat sehingga dapat mempermudah proses panen.

Perusahaan menyebut lebih dari 170 juta bibit Topaz telah dikirimkan, menunjukkan skala pengembangan dan distribusi material tanam tersebut.

Bagi perusahaan perkebunan berskala besar, kemampuan meningkatkan produktivitas melalui genetika tanaman, agronomi dan pengelolaan kebun menjadi semakin penting, terutama ketika ekspansi areal bukan satu-satunya pilihan untuk meningkatkan produksi.

Inovasi Terbaru: Pengendalian Hama Secara Hayati

Perkembangan terbaru Asian Agri pada September 2026 juga memperlihatkan fokus perusahaan pada teknologi perkebunan.

Pada 18 September 2026, Asian Agri menyoroti penggunaan semut Tahuru, yaitu semut predator dari genus Crematogaster, sebagai bagian dari pendekatan Pengendalian Hama Terpadu untuk membantu mengendalikan ulat kantong pada tanaman kelapa sawit.

Asian Agri melaporkan bahwa penggunaan insektisida tertentu turun dari 102.860 kilogram pada 2022 menjadi 72.981 kilogram pada 2025, atau turun sekitar 29,05% untuk tiga jenis insektisida yang menjadi sasaran program tersebut. Perusahaan menargetkan pengurangan sebesar 50% dari basis 2022 pada 2030 melalui program AA2030.

Pendekatan tersebut dikombinasikan dengan pemantauan lapangan, pengelolaan habitat, pemanfaatan serangga bermanfaat, burung hantu dan aplikasi bahan kimia secara selektif ketika populasi hama melewati ambang tertentu.

Cangkang Sawit Dimanfaatkan Menjadi Energi

Perkembangan lainnya adalah pemanfaatan palm kernel shell (PKS) atau cangkang inti sawit sebagai sumber energi terbarukan.

Asian Agri melaporkan bahwa PKS yang dihasilkan dalam proses pengolahan sawit dimanfaatkan sebagai bahan bakar biomassa untuk menghasilkan panas, uap dan listrik. Sepanjang 2025, PKS yang dimanfaatkan mencapai 509 terajoule energi dalam operasional perusahaan.

Pemanfaatan tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh nilai tambah dari produk samping PKS sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari komitmen keberlanjutan AA2030, termasuk peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dan pengurangan emisi dalam kegiatan operasional.

Asian Agri–Apical dalam Ekosistem RGE

Kekuatan bisnis Asian Agri menjadi semakin menarik ketika dilihat dalam ekosistem agribisnis Royal Golden Eagle (RGE).

RGE menyebut Kelvin Tio, Director RGE Executive Management Board sekaligus Deputy Chairman RGE Palm Business Board, bertanggung jawab atas bisnis agrikultur RGE yang mencakup operasi hulu dan hilir Asian Agri dan Apical. Kelvin Tio juga menjabat sebagai President Apical sejak 2024.

Namun, ada hal penting yang perlu dibedakan. Apical bukan pemilik perkebunan dan PKS di sisi hulu, berdasarkan pengungkapan keberlanjutannya. Apical memperoleh CPO, CPKO dan PK dari pemasok pihak ketiga, dan Asian Agri merupakan salah satu pemasok jangka panjangnya.

Apical melaporkan memiliki 361 pabrik pemasok yang terkontrak pada kuartal IV 2025 serta tingkat ketertelusuran 100% hingga pabrik pemasok.

Artinya, terdapat hubungan hulu–hilir yang kuat dalam ekosistem bisnis sawit RGE, tetapi Asian Agri dan Apical tetap merupakan entitas bisnis dengan fungsi operasional yang berbeda.

Dari Perkebunan Menuju Ekosistem Sawit Terintegrasi

Asian Agri kini tidak lagi hanya dapat dilihat sebagai perusahaan perkebunan.

Dengan 100.000 hektare perkebunan perusahaan, sekitar 60.000 hektare kebun plasma, 23 PKS, lebih dari 30.000 petani mitra, benih Topaz, pusat R&D dan pengembangan energi terbarukan, Asian Agri memiliki ekosistem bisnis yang mencakup berbagai tahapan penting industri sawit.

Hubungannya dengan bisnis hilir Apical dalam ekosistem RGE juga memberikan gambaran lebih luas mengenai bagaimana produk sawit bergerak dari perkebunan dan PKS menuju proses pengolahan dan pasar.

Di tengah meningkatnya kebutuhan domestik CPO setelah penerapan B50, sekaligus tuntutan pasar global terhadap ketertelusuran dan keberlanjutan, kemampuan mengelola rantai nilai—mulai dari produktivitas kebun, kemitraan petani, pengolahan, energi hingga pasar hilir—menjadi semakin penting.

Bagi Asian Agri, tantangan ke depan bukan semata-mata berapa banyak CPO yang dapat diproduksi, tetapi bagaimana meningkatkan produktivitas, memperkuat ketertelusuran, menciptakan nilai tambah dari produk samping dan membangun rantai bisnis sawit yang semakin terintegrasi.

Muslim M. Amin
Editor in Chief
Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS)

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop