Triputra Agro Persada: Di Balik Besarnya Mesin Bisnis Sawit T.P. Rachmat

Triputra Agro Persada, tapg, Triputra Agro

Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Nama Triputra Group selama ini dikenal sebagai salah satu kelompok usaha besar Indonesia dengan bisnis yang tersebar di berbagai sektor. Namun di industri sawit, kekuatan grup yang didirikan oleh Theodore Permadi Rachmat (T.P. Rachmat) bertumpu pada PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Dengan areal sawit tertanam sekitar 159,7 ribu hektare pada 2025 dan produksi CPO mencapai sekitar 953 ribu ton, TAPG merupakan salah satu pemain perkebunan sawit berskala besar di Indonesia. Selain CPO, perusahaan juga menghasilkan palm kernel (PK), palm kernel oil (PKO), serta mengembangkan bisnis berbasis limbah dan energi terbarukan.

Hampir 160 Ribu Hektare Sawit

Laporan resmi TAPG menunjukkan total areal tertanam perkebunan sawit mencapai 159,7 ribu hektare pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 132,8 ribu hektare merupakan kebun inti, sementara sekitar 26,9 ribu hektare merupakan kebun plasma. TAPG juga memiliki sekitar 1,3 ribu hektare perkebunan karet.

Skala tersebut memberikan Triputra basis produksi yang besar untuk memasok industri pengolahan sawit sekaligus mendukung pengembangan bisnis hilir.

Pada 2025, produksi CPO TAPG, termasuk perusahaan asosiasi, mencapai 953 ribu ton, naik sekitar 4% dibandingkan 2024. Produksi PK mencapai 202 ribu ton, sedangkan produksi PKO mencapai 22 ribu ton.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa bisnis Triputra tidak berhenti pada perkebunan dan produksi CPO. Pengolahan produk turunan dari inti sawit juga mulai menjadi bagian penting dari rantai bisnisnya.

Dari CPO Menuju Produk Bernilai Tambah

Menurut informasi yang diterima Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), perkembangan menarik dari TAPG adalah upayanya meningkatkan nilai ekonomi dari produk samping perkebunan dan pabrik kelapa sawit.

TAPG mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dengan memanfaatkan limbah cair pabrik kelapa sawit. Di Sukamara, Kalimantan Tengah, salah satu fasilitas biogas TAPG memiliki kapasitas sekitar 2 MW, dengan pemanfaatan aktual sekitar 1,6 MW. Sebagian energi tersebut digunakan untuk kebutuhan kernel crushing plant dan fasilitas internal perusahaan.

TAPG juga mengembangkan biokokas berbasis cangkang sawit melalui kerja sama dengan perusahaan Jepang Aisin Takaoka. Triputra Group menyebut pengembangan tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan nilai tambah dari hasil samping industri sawit.

Dengan demikian, arah bisnis TAPG mulai bergerak dari model perkebunan konvensional menuju pemanfaatan yang lebih luas terhadap seluruh rantai produksi sawit.

B50 dan Tantangan Produktivitas

Perubahan struktur pasar CPO Indonesia setelah penerapan B50 juga menjadi faktor penting bagi perusahaan dengan skala produksi seperti TAPG.

B50 membuat kebutuhan CPO domestik meningkat, sementara produksi perkebunan menghadapi tantangan cuaca dan umur tanaman. Pada kuartal I 2026, TAPG mencatat produksi TBS sekitar 698 ribu ton, turun 6% secara tahunan, sedangkan produksi CPO turun sekitar 2%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak semata-mata bergantung pada luas areal. Produktivitas per hektare menjadi semakin penting.

TAPG juga menjalankan program peningkatan produktivitas petani melalui pelatihan agronomi bagi perusahaan-perusahaan anaknya di Jambi, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Perkembangan Korporasi Terbaru

Pada September 2026, TAPG kembali menjadi perhatian setelah melakukan transaksi penjualan 99,9% saham PT Alam Belantara Makmur kepada PT Agraus Resources senilai US$450 ribu pada 23 September. Perseroan menyatakan transaksi tersebut tidak memberikan dampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangannya.

Pada periode yang sama, Arif Rachmat, putra T.P. Rachmat, tercatat membeli 500 ribu saham TAPG pada 23 September dengan nilai transaksi sekitar Rp999,5 juta untuk tujuan investasi.

Perkembangan tersebut memberikan gambaran bahwa TAPG tetap aktif melakukan penataan portofolio dan aktivitas korporasi di tengah perubahan industri sawit Indonesia.

Menjaga Produksi di Tengah Perubahan Pasar

Dengan hampir 160 ribu hektare areal sawit tertanam, produksi CPO mendekati 1 juta ton per tahun, serta pengembangan PKO, biogas dan biokokas, Triputra Agro Persada memiliki rantai bisnis yang cukup lengkap dari hulu hingga pemanfaatan produk samping.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga produktivitas kebun ketika industri menghadapi perubahan pola cuaca, sekaligus memenuhi permintaan domestik yang semakin besar akibat B50.

Bagi Triputra, pertumbuhan ke depan bukan hanya soal menambah luas perkebunan. Efisiensi, produktivitas, teknologi, hilirisasi dan pemanfaatan limbah menjadi bagian yang semakin penting dalam membangun bisnis sawit yang lebih terintegrasi.

Dengan fondasi tersebut, Triputra Agro Persada menjadi salah satu aset strategis dalam portofolio agribisnis Triputra Group, sekaligus memperlihatkan bagaimana kelompok usaha besar Indonesia mulai mengembangkan sawit tidak hanya sebagai komoditas CPO, tetapi sebagai ekosistem bisnis dengan berbagai sumber nilai tambah.

 

Muslim M. Amin
Editor in Chief
Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS)

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop