Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) merevisi perkiraan dampak El Niño terhadap produksi minyak sawit Indonesia pada 2027. Jika sebelumnya penurunan produksi diperkirakan mencapai sekitar 4–5 juta ton, estimasi terbaru GAPKI berada di kisaran 2,5–3 juta ton.
Revisi tersebut disampaikan Ketua Umum GAPKI Eddy Martono pada 7 September 2026. Menurut Eddy, sejumlah wilayah perkebunan sawit masih mendapatkan hujan sehingga perkiraan penurunan produksi tidak sebesar proyeksi sebelumnya. Namun, dampak cuaca panas dan kering tetap berpotensi memengaruhi hasil panen tahun depan.
Dampak El Niño Baru Terlihat pada 2027
Menurut informasi yang diterima Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), salah satu persoalan utama dari fenomena El Niño adalah adanya jeda waktu antara kondisi cuaca ekstrem dengan dampaknya terhadap produksi tandan buah segar dan CPO.
Kondisi panas dan kering yang berlangsung pada 2026 dapat memengaruhi proses pertumbuhan tanaman dan produktivitas kebun, sehingga dampaknya baru lebih terlihat pada hasil panen 2027.
Eddy Martono menyebut produksi CPO Indonesia pada 2027 berpotensi turun sekitar 2,5–3 juta ton akibat dampak El Niño. Angka tersebut menjadi perhatian karena industri sawit juga sedang menghadapi peningkatan kebutuhan CPO untuk pasar domestik, terutama biodiesel.
Dengan demikian, meskipun revisi tersebut menunjukkan dampak yang lebih rendah dibanding perkiraan awal, potensi penurunan produksi tetap signifikan bagi keseimbangan pasokan sawit nasional.
B50 Sudah Berjalan, B60 Menjadi Tantangan
Risiko produksi tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia telah menjalankan program B50, sementara pemerintah juga memiliki rencana menuju B60. GAPKI sebelumnya memperkirakan implementasi B50 akan meningkatkan kebutuhan CPO untuk biodiesel menjadi sekitar 16,3–17 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan domestik yang semakin besar, ruang CPO yang tersedia untuk ekspor dapat semakin terbatas apabila pertumbuhan produksi tidak mampu mengimbanginya.
Eddy Martono bahkan menyatakan bahwa target B60 pada 2027 akan menghadapi tantangan apabila produksi CPO mengalami penurunan akibat El Niño. Dalam pernyataannya pada September, ia memperkirakan kondisi produksi 2027 belum cukup mendukung penerapan B60.
Situasi tersebut memperlihatkan adanya dua tekanan yang berlangsung bersamaan: produksi berpotensi turun, sementara kebutuhan domestik terus meningkat.
Ekspor Berpotensi Menjadi Penyesuaian
Bagi pasar global, kondisi tersebut menjadi perhatian karena Indonesia merupakan salah satu pemasok utama minyak sawit dunia. Jika produksi nasional turun sementara kebutuhan domestik tetap diprioritaskan, penyesuaian pasokan kemungkinan lebih banyak terjadi pada volume ekspor.
GAPKI sebelumnya telah menegaskan bahwa kebutuhan domestik akan menjadi prioritas. Karena itu, apabila pasokan CPO menurun, volume yang tersedia untuk pasar ekspor yang berpotensi mengalami penurunan.
Kondisi ini dapat memberikan dampak terhadap keseimbangan pasar CPO global, terutama apabila produksi negara produsen lain tidak cukup untuk menutup berkurangnya pasokan dari Indonesia.
Produktivitas Menjadi Kunci
Revisi proyeksi GAPKI memberikan gambaran bahwa risiko El Niño masih perlu diperhitungkan secara serius, meskipun dampaknya kini diperkirakan lebih rendah dibanding estimasi awal. Bagi industri sawit Indonesia, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan luas areal perkebunan, tetapi juga meningkatkan produktivitas per hektare.
Peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, pemupukan yang tepat, pengelolaan kebun, serta penerapan teknologi menjadi semakin penting untuk menjaga pertumbuhan produksi.
Apalagi ketika kebutuhan domestik untuk biodiesel terus meningkat. Setiap tambahan kebutuhan CPO domestik harus diimbangi dengan peningkatan produksi agar tidak terlalu mengurangi pasokan untuk industri hilir dan pasar ekspor.
Dengan proyeksi penurunan produksi 2,5–3 juta ton pada 2027, industri kini memiliki waktu untuk melakukan mitigasi. Pertanyaannya adalah seberapa cepat peningkatan produktivitas dapat dilakukan sebelum dampak El Niño benar-benar tercermin pada produksi tahun depan.
Muslim M. Amin
Editor in Chief
Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS)
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting



























