Mengurangi beban limbah, membuka peluang nilai tambah bagi PKS
Melalui AquaSync dan CompoSync, Wastech Resources mengembangkan jalur pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi pelet biomassa dan kompos. Keduanya ditujukan untuk membantu pabrik kelapa sawit mengelola residu sekaligus memanfaatkan potensi produknya.
Bagi pabrik kelapa sawit (PKS), pengelolaan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan bagian penting dari kegiatan operasional. Material yang tersisa setelah proses perontokan ini perlu ditangani secara terencana. Pada saat yang sama, limbah cair pabrik, yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent (POME), juga memerlukan pengelolaan
yang tepat.
Wastech Resources melihat peluang untuk menghubungkan kebutuhan pengelolaan tersebut dengan pengolahan produk bernilai tambah. Perusahaan mengembangkan dua jalur utama: AquaSync untuk produksi pelet biomassa dan CompoSync untuk pengomposan TKKS secara terkendali.
Menurut Bpk. Harta Susanto, selaku Direktur Wastech Resource, fokus perusahaan adalah penanganan TKKS di pabrik sawit, termasuk pemanfaatan limbah padat dan limbah cair dalam proses pengolahan lanjutan. “Fokus kami pada penanganan TKKS di pabrik sawit, terutama limbah padat dan limbah cair. TKKS dapat kami olah menjadi kompos,” ujarnya.
“ Dari TKKS Menjadi Tiga Peluang ” Tiga jalur pengolahan TKKS sesuai kebutuhan pabrik kelapa sawit
AquaSync untuk pelet biomassa
AquaSync dirancang untuk mengolah TKKS menjadi bahan bakar biomassa dalam bentuk pelet. Berdasarkan skema proses yang disampaikan kepada IPO NEWS, material melalui tahapan pencucian, perendaman dengan aliran berlawanan arah, pengepresan, pengeringan, dan peletisasi.
Tahapan tersebut membentuk jalur pengolahan dari TKKS hingga produk akhir yang dapat diarahkan untuk industri pengguna panas, seperti boiler dan kiln. Kesesuaian penggunaannya tetap perlu ditentukan berdasarkan mutu pelet dan persyaratan peralatan pengguna.
Harta Susanto menyampaikan bahwa Wastech Resources telah membangun satu unit pabrik pelet TKKS berkapasitas 5 ton per jam di Sumatera Utara. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pengembangan jalur pemanfaatan TKKS sebagai produk biomassa.
Bagi pemilik PKS, jalur ini membuka peluang untuk menyalurkan TKKS ke produk energi. Potensi pendapatannya perlu dinilai bersama kebutuhan investasi, biaya produksi, mutu produk, dan ketersediaan pasar.
CompoSync untuk kompos dan produk granul
CompoSync dikembangkan untuk mengolah TKKS menjadi kompos melalui proses yang terkendali. Dalam skema yang diperlihatkan, TKKS terlebih dahulu dipres menggunakan Empty Bunch Press (EBP), kemudian dicacah sebelum masuk ke area pengomposan.
Di area tersebut, proses pengomposan berlangsung dengan pengaturan aerasi melalui pembalikan material menggunakan mesin turner dan pengelolaan ventilasi. Setelah proses selesai, material dipanen, diayak, dan dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos granul atau produk pupuk organik granul sesuai persyaratan mutu yang dituju.
Skema CompoSync juga mencakup pengumpulan dan pengelolaan lindi, yaitu cairan yang keluar dari material selama pengomposan. Pengelolaan lindi menjadi bagian dari rancangan proses agar cairan tersebut dapat ditangani secara terpisah dan terkendali.
Menurut Bpk. Harta Susanto, Wastech Resources memiliki pengalaman membangun dua pabrik kompos, masing-masing di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Ia juga menyampaikan rencana pembangunan dua hingga tiga pabrik kompos pada 2027, berdasarkan kontrak yang disebutkannya.

Pemanfaatan POME dalam pengomposan
Selain TKKS, konsep yang dikembangkan turut mempertimbangkan pemanfaatan POME dalam proses pengomposan. Menurut Bpk. Harta Susanto, pemanfaatan tersebut berpotensi mengurangi sebagian limbah cair
yang harus ditangani PKS.
“Limbah padat bisa berkurang dan dimanfaatkan. Limbah cair (POME) juga bisa berkurang dan dimanfaatkan untuk fermentasi EFB,” ujarnya. EFB merupakan singkatan dari Empty Fruit Bunches, atau TKKS.
Pemanfaatan POME perlu disesuaikan dengan kebutuhan proses dan kondisi material. Dengan demikian, besarnya
volume yang dapat dimanfaatkan mengikuti rancangan dan kapasitas pengomposan, bukan berarti seluruh POME dapat diserap oleh jalur ini.
Menilai manfaat bagi pemilik PKS
AquaSync dan CompoSync menawarkan dua arah pemanfaatan yang berbeda. AquaSync mengarah pada pasar bahan bakar biomassa, sedangkan CompoSync mengarah pada produk organik yang dapat dimanfaatkan kembali
di perkebunan sesuai mutu dan kebutuhan pengguna.
Pemilihan jalur perlu dimulai dari jumlah dan karakteristik TKKS yang tersedia, lalu dilanjutkan dengan perhitungan
neraca massa, kebutuhan lahan, utilitas, investasi, dan biaya operasi. Hasil pengujian produk serta kepastian pengguna atau pembeli menjadi dasar untuk menilai kelayakan ekonominya.
ThermaSync sebagai konsep pengembangan
Di luar kedua jalur tersebut, Wastech Resources juga menyiapkan ThermaSync. Menurut Bpk. Harta Susanto, konsep yang masih dalam tahap pengembangan ini diarahkan pada penanganan TKKS melalui pembakaran dengan sistem pengendalian emisi yang dirancang untuk memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku.
Melalui pengembangan ini, Wastech Resources berupaya menyediakan pilihan pengelolaan TKKS yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing PKS. Nilai tambahnya akan ditentukan oleh ketepatan rancangan, kinerja pengolahan, dan pemanfaatan produk akhir.
email : info@wastech.co.id | website : wastech.co.id
Mobile: (+62) 852 8130 9122
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting






























