Lebih dari 3 juta petani menghasilkan 30% pasokan minyak sawit dunia. Penguatan kelembagaan, pengetahuan, dan akses pasar dinilai penting untuk memperluas praktik perkebunan berkelanjutan
Indonesian Palm Oil News (IPO News), Bangkok — Peran petani swadaya menjadi salah satu perhatian penting dalam pembahasan masa depan industri kelapa sawit berkelanjutan di tingkat internasional. Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada (PSPD UGM) menyoroti perlunya memperkuat kapasitas petani kecil agar mereka dapat berpartisipasi lebih luas dalam rantai pasok sawit global dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik.
Isu tersebut disampaikan Direktur PSPD UGM sekaligus Chairholder WTO Chair Programme Indonesia, Dr. Maharani Hapsari, S.IP., MA., saat menjadi panelis dalam seminar “Plantation 360: Mobilizing Private Capital for More and Better Jobs” di Queen Sirikit National Convention Center, Bangkok, Thailand, pada 13 Oktober 2026.
Seminar tersebut merupakan bagian dari kegiatan pendamping Pertemuan Tahunan IMF dan Grup Bank Dunia 2026, yang berlangsung pada 12–18 Oktober di Bangkok. Kegiatan diselenggarakan oleh Kantor Direktur Eksekutif Kelompok Asia Tenggara (EDS16) Bank Dunia bersama Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).
Forum ini membahas potensi perkebunan dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, serta memperkuat ketahanan ekonomi. Dalam konteks industri sawit, keterlibatan petani kecil menjadi penting karena keberlanjutan sektor ini tidak hanya ditentukan oleh produktivitas perusahaan perkebunan, tetapi juga oleh kemampuan petani dalam memenuhi tuntutan pasar.
KESENJANGAN SERTIFIKASI MENJADI PERHATIAN
Dalam paparannya, Maharani menyoroti kesenjangan antara besarnya kontribusi petani kecil terhadap pasokan minyak sawit dunia dan tingkat kepemilikan sertifikasi keberlanjutan. Mengutip data yang disampaikan dalam forum tersebut, lebih dari 3 juta petani kecil menghasilkan sekitar 30% pasokan minyak sawit dunia. Namun, hanya sekitar 2% dari pasokan yang dihasilkan kelompok petani tersebut yang memiliki sertifikasi keberlanjutan, sebagaimana dipaparkan dalam pemberitaan UGM.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kontribusi petani kecil terhadap industri sawit global belum sepenuhnya diikuti oleh kemampuan untuk memenuhi persyaratan keberlanjutan yang semakin diperhatikan pasar internasional. Menurut Maharani, petani kecil merupakan penopang sosial industri sawit masa depan, tetapi pada saat yang sama menjadi kelompok yang rentan tertinggal apabila tidak memperoleh dukungan yang memadai.
Tantangan yang dihadapi bukan hanya persoalan teknis budidaya. Keterbatasan pengetahuan, kapasitas kelembagaan, pendampingan, serta akses terhadap informasi dan pasar turut memengaruhi kemampuan petani untuk meningkatkan praktik perkebunannya.
REGULASI GLOBAL DAN AKSES PASAR
Salah satu tantangan yang disoroti adalah dampak regulasi antideforestasi Uni Eropa atau European Union Deforestation Regulation (EUDR) terhadap petani kecil dan keluarganya.
Persyaratan pasar yang semakin kompleks dapat menambah beban bagi petani yang belum memiliki kapasitas memadai untuk memenuhi ketentuan terkait keberlanjutan dan ketertelusuran produk. Birokrasi yang rumit juga berpotensi mempersempit akses mereka ke pasar.
Di sisi lain, dukungan publik untuk penelitian, pengembangan pengetahuan, dan fasilitasi kerja sama antarpelaku petani dinilai masih perlu diperkuat. Perubahan dari sistem produksi padat karya menuju penggunaan teknologi yang lebih intensif juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam menarik dan mempertahankan generasi muda di sektor perkebunan.
Karena itu, penguatan daya saing petani kecil perlu dilakukan secara menyeluruh. Peningkatan produktivitas di tingkat kebun harus berjalan seiring dengan pengembangan kemampuan organisasi, pemahaman standar keberlanjutan, dan perluasan akses pasar.
KOPERASI MENJADI CONTOH KEBERHASILAN
Sebagai contoh praktik yang berhasil, Maharani mengangkat Koperasi Tani Subur di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Koperasi petani swadaya tersebut memiliki 1.639 anggota dan telah memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) serta Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sejak 2017.
Koperasi ini mengelola 1.460,84 hektare kebun bersertifikat RSPO dan mengembangkan sembilan unit usaha, termasuk simpan pinjam dan agrowisata. Unit agrowisatanya dilaporkan menarik sekitar 139.000 pengunjung per tahun.
Selain mengembangkan usaha pendukung, koperasi tersebut memanfaatkan masa peremajaan tanaman kelapa sawit atau replanting untuk menanam jagung dan beternak ayam. Langkah ini menjadi contoh upaya diversifikasi usaha guna mendukung sumber pendapatan anggota selama kebun menjalani peremajaan.
Pengalaman Koperasi Tani Subur memperlihatkan bahwa penguatan kelembagaan dapat membantu petani mengembangkan usaha melampaui kegiatan produksi tandan buah segar (TBS). Koperasi juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kegiatan ekonomi, memperluas akses pembiayaan, dan meningkatkan kemampuan memenuhi standar keberlanjutan.
INVESTASI PADA PENGETAHUAN DAN KELEMBAGAAN PETANI
Maharani mendorong perubahan pendekatan dari pendampingan teknis semata menuju penguatan yang lebih struktural, terutama melalui investasi pada sumber daya manusia dan pengetahuan petani kecil.
Petani perlu memperoleh ruang untuk berorganisasi, mendapatkan pengakuan atas pengetahuan lokal, serta memiliki keterwakilan ketika standar keberlanjutan dirumuskan, termasuk dalam forum internasional.
Pendekatan ini penting agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memiliki kapasitas untuk memahami perubahan pasar, memperbaiki praktik perkebunan, dan mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi usaha mereka.
Bagi industri kelapa sawit Indonesia, penguatan petani swadaya merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan rantai pasok. Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan perkebunan, lembaga penelitian, organisasi petani, koperasi, dan lembaga sertifikasi diperlukan agar peningkatan standar keberlanjutan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi petani.
Dengan dukungan yang tepat, petani kecil berpeluang meningkatkan produktivitas, memperluas akses ke pasar yang mensyaratkan sertifikasi, serta memperkuat kontribusinya terhadap daya saing minyak sawit Indonesia di pasar global.
Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pusat Studi Perdagangan Dunia UGM (PSPD UGM/CWTS), 22 Oktober 2026.
Muslim M. Amin, Editor in Chief
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting



























