Agrinas Palma – Pertamina Siapkan Pabrik Biodiesel 600.000 Ton Per Tahun, Perkuat Rantai Pasok B50

Agrinas Palma, Pertamina

Kolaborasi dua BUMN ini membuka peluang integrasi industri sawit dan energi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga penyerapan produk biodiesel

Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Pertamina (Persero) memperkuat rencana kerja sama pengembangan bioenergi melalui persiapan reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 600.000 ton fatty acid methyl ester (FAME) per tahun, komponen utama biodiesel berbasis minyak nabati.

Rencana ini menjadi salah satu proyek prioritas dalam perluasan kerja sama kedua BUMN untuk memperkuat rantai pasok biodiesel nasional. Jika dapat direalisasikan sesuai rencana, fasilitas tersebut berpotensi menambah sumber pasokan FAME sekaligus memperkuat keterlibatan badan usaha milik negara dalam industri bahan bakar nabati.

Menurut informasi resmi PT Agrinas Palma Nusantara yang dipublikasikan pada 13 September 2026, pembahasan proyek ini dilakukan bersama Pertamina dan PT Pertamina Power Indonesia dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, di Jakarta pada 10 September 2026.

Pertemuan tersebut membahas pengembangan bioenergi terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku, fasilitas pengolahan, infrastruktur energi, logistik dan distribusi, hingga kepastian penyerapan produk.

KAPASITAS 600.000 TON MENJADI MODAL PENGEMBANGAN

Pabrik Bayas Biofuels menjadi salah satu bagian penting dari rencana kolaborasi tersebut. Dengan kapasitas sekitar 600.000 ton FAME per tahun, fasilitas ini memiliki potensi untuk berkontribusi terhadap kebutuhan biodiesel nasional.

Namun, kapasitas terpasang tidak serta-merta berarti produksi sebesar itu sudah berjalan. Reaktivasi pabrik masih perlu ditindaklanjuti melalui penyelesaian kajian teknis dan bisnis, kesiapan operasional, kepastian pasokan bahan baku, serta pengaturan penyerapan produk.

Bagi industri sawit, keberadaan fasilitas pengolahan biodiesel yang terintegrasi dengan sumber bahan baku merupakan faktor penting. Kelancaran produksi tidak hanya bergantung pada mesin dan kapasitas pabrik, tetapi juga pada ketersediaan minyak nabati secara berkelanjutan dan efisiensi distribusi.

Dalam kerja sama ini, Agrinas Palma diarahkan mengambil peran di sisi hulu dengan mendukung penyediaan bahan baku. Sementara itu, Pertamina memiliki kapabilitas pada pengembangan energi, pengolahan, infrastruktur, serta pemasaran dan penyerapan produk.

Pembagian peran tersebut membuka peluang pembentukan rantai pasok yang lebih terkoordinasi, dari sektor perkebunan hingga pemanfaatan biodiesel.

B50 MEMPERBESAR ARTI STRATEGIS PASOKAN FAME

Penguatan pasokan biodiesel semakin relevan seiring dengan pelaksanaan mandatori B50, yakni bahan bakar diesel yang mengandung 50% biodiesel dan 50% solar berbasis fosil.

Pemerintah menargetkan implementasi penuh B50 mulai Oktober 2026. Pada saat yang sama, pemerintah telah mengkaji rencana peningkatan campuran menjadi B60 pada 2027.

Perubahan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan bahan baku dan kapasitas pengolahan. Karena itu, proyek reaktivasi Bayas Biofuels dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan industri, meskipun kontribusi aktualnya akan bergantung pada jadwal operasional dan realisasi produksinya.

Ketersediaan FAME juga perlu didukung oleh sistem pengangkutan, penyimpanan, pengendalian mutu, dan distribusi yang memadai. Tanpa kesiapan menyeluruh, tambahan kapasitas produksi belum tentu langsung menjamin kelancaran penyaluran biodiesel di seluruh wilayah.

INTEGRASI HULU–HILIR MEMBUKA PELUANG BISNIS

Kerja sama Agrinas Palma dan Pertamina tidak terbatas pada pabrik biodiesel. Kedua perusahaan juga membahas perluasan kolaborasi dalam bidang bioenergi, investasi, pemanfaatan produk samping, penyediaan bahan baku, pembangkit listrik, keberlanjutan, riset dan teknologi, serta logistik dan distribusi.

Pendekatan terintegrasi ini penting karena pengembangan bioenergi memerlukan keterhubungan antara produksi bahan baku, fasilitas pengolahan, infrastruktur, dan kepastian pasar.

Bagi perusahaan pendukung industri sawit, pengembangan proyek semacam ini juga berpotensi membuka kebutuhan terhadap mesin pengolahan, peralatan industri, jasa rekayasa, sistem otomasi, laboratorium pengujian, teknologi pengendalian mutu, serta layanan logistik.

Peluang tersebut tetap bergantung pada keputusan investasi dan tahap pelaksanaan proyek. Namun, arah kerja sama ini memperlihatkan bahwa pengembangan biodiesel dapat menciptakan kebutuhan bisnis di luar sektor perkebunan dan pengolahan minyak sawit itu sendiri.

Selain biodiesel, Agrinas Palma dan Pertamina turut membahas pengembangan ekosistem bioetanol terintegrasi berbasis singkong di Kalimantan Timur. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa ruang lingkup kolaborasi bioenergi kedua BUMN berpotensi berkembang melampaui bahan bakar berbasis sawit.

TAHAP BERIKUTNYA MENENTUKAN REALISASI

Agrinas Palma dan Pertamina selanjutnya akan memfinalisasi perluasan ruang lingkup nota kesepahaman serta mempercepat kajian teknis dan bisnis terhadap proyek-proyek yang dinilai siap dilaksanakan. Tahap tersebut akan menentukan bagaimana rencana reaktivasi Bayas Biofuels diterjemahkan menjadi kegiatan operasional, termasuk kepastian jadwal, kebutuhan investasi, ketersediaan bahan baku, dan mekanisme penyerapan produk.

Bagi Indonesia, penguatan fasilitas biodiesel merupakan salah satu elemen penting dalam upaya meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik untuk kebutuhan energi. Bagi industri sawit, proyek ini juga memperlihatkan semakin pentingnya sinergi antara perusahaan perkebunan, pengolah bahan baku, dan pelaku usaha energi.

Apabila berjalan sesuai rencana, reaktivasi Bayas Biofuels berpotensi memperkuat keterhubungan antara sektor perkebunan dan industri energi nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan kapasitas yang direncanakan benar-benar dapat beroperasi secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata terhadap pasokan biodiesel Indonesia.

Muslim M. Amin, Pemimpin Redaksi IPO NEWS

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Majalah IPO News

Majalah Indonesian Palm Oil News Edisi Mei - Juni 2026
Majalah IPO News Hasnur Group 2025
Majalah IPO News Palmex Medan 2025
Majalah IPO News Edisi IPOC Bali 2025
PALMEX Jakarta 2027
Palmex Medan 2026

Produk CDMI Consulting

Berital Lainnya

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop