Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Grup Djarum terus memperluas portofolio bisnisnya. Di sektor agribisnis, salah satu kendaraan utama keluarga Hartono adalah PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro), perusahaan yang membangun bisnis perkebunan kelapa sawit secara terintegrasi di Kalimantan Barat.
HPI Agro berdiri pada 2008 dan hingga kini kelapa sawit masih menjadi bagian terbesar dari bisnisnya. Informasi perusahaan yang tersedia menunjukkan HPI Agro mengelola lebih dari 30 estate, enam pabrik kelapa sawit (PKS) dan satu kernel crushing plant. Selain sawit, perusahaan juga mengembangkan bisnis gula tebu serta minyak atsiri dan rempah-rempah.
Skala tersebut memperlihatkan bahwa bisnis sawit Djarum bukan sekadar investasi perkebunan, tetapi telah berkembang menjadi rantai agribisnis terintegrasi, mulai dari kebun, pengolahan TBS, produksi minyak sawit hingga aktivitas perdagangan.
Robert Halim di Balik Pengembangan HPI Agro
HPI Agro saat ini dipimpin Robert Halim, yang tercatat sebagai Chief Executive Officer sekaligus Direktur Utama HPI Agro. Dalam penjelasan perusahaan, Robert menekankan pentingnya integritas, kemampuan beradaptasi, kolaborasi dan keunggulan sebagai fondasi pengelolaan bisnis.
Di bawah pengelolaan tersebut, HPI Agro juga melakukan digitalisasi operasional. Penggunaan SAP Business All-in-One menjadi salah satu fondasi untuk mendukung fungsi keuangan, pengadaan, produksi, pemeliharaan, SDM dan kegiatan perkebunan.
Bagi perusahaan yang mengoperasikan puluhan estate dan pabrik, digitalisasi menjadi penting karena rantai bisnis sawit membutuhkan pengendalian biaya, produksi, logistik dan penjualan secara terintegrasi.
Jaringan Entitas yang Menopang Bisnis Sawit
Besarnya struktur bisnis HPI Agro juga tercermin dari sejumlah entitas yang pernah tercantum dalam dokumen pemetaan perusahaan. Di antaranya PT Bamboe Jaya Plantation, PT Borneo Muria Plantation, PT Daya Sumber Makmur, PT Gemilang Sawit Kencana, PT Kapuas Rimba Sejahtera, PT Lingkar Indah Plantation, PT Palma Asri Sejahtera, PT Palma Megah Mulia, PT Peniti Sungai Purun, PT Tanjung Indah Plantation, PT Global Kalimantan Makmur, PT Saban Sawit Subur, PT Landak Subur Plantation, PT Gapura Alas Makmur, PT Semai Lestari dan PT Nusaraya Permai.
Namun, daftar tersebut perlu dibaca sebagai pemetaan historis, bukan otomatis daftar anak perusahaan terkini, karena struktur korporasi dapat berubah dan terdapat dokumen tanggapan perusahaan terhadap beberapa entitas yang tercantum dalam laporan tersebut.
Secara operasional, jejak HPI Agro juga terlihat dalam database rantai pasok industri. Salah satu database Fuji Oil, misalnya, mencatat Global Kalimantan Makmur – Kepodang sebagai mill HPI Agro yang berstatus aktif dalam daftar tersebut.
Luas Lahan Masih Menjadi Pertanyaan Menarik
Mengenai luas lahan, terdapat beberapa angka berbeda dalam sumber publik. Sebuah laporan pemetaan pernah mencatat 153.562 hektare berdasarkan data IUP, sementara sumber lain menyebut lebih dari 85.000 hektare dengan 32 estate, enam PKS dan satu kernel crushing plant.
Karena terdapat perbedaan antara data IUP, areal kelola, areal tertanam dan tanaman menghasilkan, angka-angka tersebut tidak dapat langsung disamakan.
Menurut data Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), justru di sinilah ruang riset yang menarik: berapa sebenarnya luas areal HPI Agro saat ini, berapa yang sudah tertanam, berapa tanaman menghasilkan, berapa tanaman belum menghasilkan dan berapa yang sedang diremajakan?
Pertanyaan tersebut penting karena angka luas lahan akan menentukan gambaran sebenarnya mengenai potensi produksi sawit HPI Agro.
Bukan Hanya Memproduksi, HPI Agro Juga Trading CPO
Bagian yang paling menarik dari penelusuran IPO NEWS adalah sisi komersial dan perdagangan HPI Agro.
Jonathan Widakdo, Head of Sales and Business Development HPI Agro, tercatat menangani pengembangan pasar dan Palm Oil Trading, termasuk CPO, PKO dan PKE. Sebelumnya, ia juga menangani produk CPO, PKO dan palm kernel serta perencanaan penjualan dan omzet.
Sementara Ricky Suryadinata tercatat sebagai CPO Trader and Market Insight Manager HPI Agro. Profilnya menunjukkan bahwa ia menangani aktivitas perdagangan dan analisis pasar CPO di HPI Agro sejak 2018. Sebelumnya, Ricky juga memiliki pengalaman sebagai trader CPO di Wilmar Nabati Indonesia.
Nama lain yang menarik adalah Fredrick Herman Soetikno, Commercial Manager HPI Agro. Dalam profil profesionalnya disebutkan bahwa ia menangani penjualan CPO dan palm kernel, sekaligus pembelian TBS dan cangkang.
Dengan demikian, rantai bisnis HPI Agro tidak berhenti ketika TBS masuk ke PKS. Ada fungsi komersial yang secara khusus menangani penjualan CPO dan produk kernel serta pemantauan pasar.
Lalu, Ke Mana CPO HPI Agro Mengalir?
Pertanyaan ini menjadi salah satu bagian paling menarik untuk dibongkar lebih lanjut, Dokumen rantai pasok yang tersedia di publik menunjukkan adanya jejak entitas HPI Agro dalam rantai pasok industri hilir. Dalam salah satu database Wilmar, misalnya, Hartono Plantation Indonesia – Peniti Sungai Purun tercatat sebagai salah satu mill dalam data traceability di Kalimantan Barat.
Database Fuji Oil yang lebih baru juga mencatat HPI Agro – Global Kalimantan Makmur – Kepodang sebagai mill aktif dalam daftar rantai pasoknya. Namun, data tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa Wilmar atau Fuji Oil merupakan pembeli utama seluruh produksi HPI Agro. Begitu pula, hubungan komersial dengan perusahaan hilir tertentu harus dibedakan antara hubungan pemasok, traceability dan transaksi penjualan langsung.
Artinya, peta pembeli CPO HPI Agro masih menjadi salah satu informasi yang menarik untuk dikonfirmasi langsung kepada manajemen.
Replanting dan Efisiensi Menjadi Agenda Berikutnya
Memasuki 2026, HPI Agro juga memperlihatkan aktivitas penguatan operasional dan sumber daya manusia. Rekrutmen untuk berbagai posisi perkebunan menunjukkan perusahaan masih memperkuat basis SDM operasional.
Di sisi kebun, replanting menjadi bagian penting dari siklus bisnis. Bagi perusahaan dengan areal luas, peremajaan tanaman akan menentukan kesinambungan produksi TBS dan CPO dalam jangka panjang.
Sementara itu, pengelolaan PKS juga diarahkan pada efisiensi, pengendalian oil losses, pemanfaatan teknologi dan pengelolaan limbah. Dengan enam PKS dan satu kernel crushing plant, integrasi pengolahan menjadi salah satu kekuatan penting HPI Agro.
Diversifikasi di Luar Sawit
Meski sawit masih menjadi bisnis terbesar, HPI Agro tidak berhenti pada komoditas tersebut. Perusahaan juga mengembangkan gula tebu, minyak atsiri dan rempah-rempah, sehingga portofolio agribisnisnya semakin beragam.
Diversifikasi tersebut menunjukkan bahwa Grup Djarum melalui HPI Agro tidak hanya membangun bisnis berbasis satu komoditas, tetapi mencoba mengembangkan berbagai potensi agribisnis Indonesia.
IPO NEWS: Peta Bisnis HPI Agro Masih Menyimpan Banyak Data
Menurut data Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), HPI Agro merupakan salah satu bisnis sawit swasta yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam karena memiliki rantai usaha yang relatif lengkap: kebun, estate, PKS, kernel crushing plant, trading, hingga fungsi pengembangan pasar.
Yang masih perlu dibuka adalah data terbaru mengenai luas kebun aktual, jumlah tanaman menghasilkan, kapasitas masing-masing PKS, produksi TBS, CPO dan kernel, tujuan penjualan CPO, komposisi pasar domestik dan ekspor, serta program replanting 2026–2027.
Dengan informasi tersebut, gambaran mengenai bisnis sawit Grup Djarum akan jauh lebih lengkap. Satu hal yang sudah jelas dari penelusuran ini: bisnis sawit Djarum melalui HPI Agro bukan sekadar memiliki kebun dalam skala besar, tetapi telah membangun ekosistem agribisnis dari hulu hingga perdagangan.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting
























