POME Sawit Naik Kelas, Toyota Tsusho Dan KIS Group Bisnis Biomethane

POME

Dari Limbah PKS Menjadi Energi, Membuka Babak Baru Hilirisasi Sawit

Indonesian Palm Oil News (IPO News) — Selama puluhan tahun, Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit lebih banyak dipandang sebagai persoalan lingkungan yang harus dikelola dengan baik. Kini, cara pandang tersebut mulai berubah. POME mulai dilihat sebagai sumber bahan baku energi terbarukan yang memiliki nilai ekonomi.

Perubahan ini terlihat dari langkah Toyota Tsusho Indonesia bersama KIS Group yang mengembangkan bisnis biomethane berbasis POME di Indonesia. Keduanya membentuk perusahaan patungan PT KIS Toyota Tsusho Biomethane Indonesia (KTBI) untuk mengembangkan proyek biomethane secara komersial.

Proyek pertama dikembangkan di Sumatera Selatan. Fasilitas tersebut ditargetkan menghasilkan sekitar 150.000 MMBTU biomethane per tahun dan mulai beroperasi secara komersial pada 2027. Groundbreaking proyek dilakukan pada 5 Oktober 2026.

Bagi industri sawit, angka tersebut memang belum besar jika dibandingkan dengan kebutuhan energi nasional. Namun, nilai strategis proyek ini justru terletak pada model bisnis yang sedang dibangun.

Ketika Limbah Mulai Memiliki Nilai Ekonomi

POME mengandung bahan organik yang dapat menghasilkan biogas. Biogas tersebut kemudian dapat ditangkap dan dimurnikan sehingga menghasilkan biomethane dengan kualitas yang sesuai untuk pemanfaatan energi.

Perubahan ini penting, Selama ini perusahaan sawit mengeluarkan biaya untuk mengelola POME agar memenuhi ketentuan lingkungan. Dengan teknologi pengolahan biogas dan pemurnian gas, POME berpotensi berubah dari sekadar biaya pengelolaan menjadi sumber pendapatan baru. Dengan kata lain, instalasi pengolahan limbah di PKS berpotensi berkembang menjadi bagian dari bisnis energi perusahaan, Inilah yang membuat biomethane menarik.

Sumatera Selatan Menjadi Titik Awal

Pemilihan Sumatera Selatan juga mempunyai alasan strategis. Provinsi ini merupakan salah satu kawasan penting bagi perkebunan dan industri kelapa sawit, sehingga memiliki sumber POME yang dapat dikembangkan menjadi bahan baku biomethane. Namun proyek ini tidak berhenti pada produksi gas di Sumatera.

Biomethane yang dihasilkan direncanakan masuk ke jaringan infrastruktur gas milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk kemudian disalurkan kepada pelanggan industri di Jawa Barat. Toyota Tsusho menyebut proyek ini sebagai proyek pertama di Indonesia yang akan memasok biomethane yang diproduksi di Sumatera kepada pelanggan di Pulau Jawa.

Model tersebut mempertemukan sumber bahan baku di Sumatera dengan pusat kebutuhan energi industri di Jawa. Infrastruktur jaringan gas menjadi penghubung antara keduanya. PGN berperan sebagai offtaker sekaligus transporter biomethane.

Artinya, gas yang berasal dari limbah PKS tidak lagi hanya menjadi produk sampingan yang dimanfaatkan di sekitar pabrik, tetapi dapat masuk ke rantai pasok energi yang lebih luas.

150.000 MMBTU Bukan Sekadar Angka

Target produksi sekitar 150.000 MMBTU per tahun setara dengan kira-kira 2.885 ton LNG berdasarkan konversi energi yang digunakan Toyota Tsusho. Namun, biomethane tersebut tentu tidak dijual dalam bentuk LNG. Angka tersebut hanya memberikan gambaran mengenai skala energi proyek.

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah proyek ini beroperasi. Jika produksi biomethane dapat dilakukan secara stabil, memiliki pembeli yang jelas dan memberikan tingkat keekonomian yang menarik, model tersebut berpotensi dikembangkan pada proyek-proyek lainnya.

Dengan demikian, nilai proyek ini bukan hanya berada pada 150.000 MMBTU. Nilai strategisnya berada pada kemungkinan replikasi.

Potensi Indonesia Jauh Lebih Besar

Potensi tersebut menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan pemetaan PGN mengenai sumber biomethane nasional. Dalam laporan keberlanjutannya, PGN pernah mencatat potensi metana dari limbah kelapa sawit Indonesia sekitar 195 MMSCFD.

Angka tersebut tersebar di berbagai wilayah dan menunjukkan besarnya sumber bahan baku yang tersedia dari industri sawit. Namun angka 195 MMSCFD tidak boleh dibaca sebagai produksi yang sudah siap direalisasikan. Untuk mengubah potensi menjadi bisnis, masih dibutuhkan investasi, teknologi, jaringan transportasi, pasokan POME yang konsisten, pembeli, kualitas gas yang memenuhi standar serta keekonomian proyek.

Justru di sinilah proyek Sumatera Selatan menjadi penting, Proyek tersebut dapat menjadi salah satu uji komersial terhadap model pemanfaatan POME sebagai sumber biomethane yang terintegrasi dengan jaringan gas.

Toyota Tsusho dan KIS Membawa Kekuatan Berbeda

Kolaborasi Toyota Tsusho dan KIS Group juga memberikan gambaran mengenai bagaimana bisnis baru ini kemungkinan akan berkembang. KIS Group memiliki pengalaman dalam pengembangan proyek biogas dan biomethane. Toyota Tsusho, di sisi lain, mempunyai jaringan bisnis dan basis pelanggan industri yang luas, termasuk perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia.

Dalam pengembangan biomethane, teknologi saja tidak cukup. Diperlukan sumber bahan baku, fasilitas pengolahan, teknologi pemurnian, pembeli, infrastruktur transportasi dan standar kualitas. Semua mata rantai tersebut harus berjalan secara bersamaan agar biomethane dapat menjadi bisnis komersial. Karena itu, kerja sama Toyota Tsusho dan KIS memiliki arti penting: menghubungkan teknologi biomethane dengan pasar energi industri.

Dari POME ke Industri

Ada satu aspek yang membuat proyek ini berbeda dari pemanfaatan biogas pada umumnya. Biomethane tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal PKS. Gas tersebut diarahkan menuju jaringan PGN dan kemudian kepada pelanggan industri di Jawa Barat.

Model seperti ini membuat nilai POME menjadi lebih besar. Sebuah PKS pada akhirnya bukan hanya menghasilkan CPO dan produk samping, tetapi juga dapat menjadi sumber energi terbarukan yang terhubung dengan konsumen industri.

Jika model tersebut dapat direplikasi, maka akan terbentuk rantai bisnis baru yang melibatkan perusahaan perkebunan, pengelola PKS, perusahaan teknologi, perusahaan energi, operator jaringan gas dan industri pengguna energi.

Ada Nilai Dekarbonisasi

Biomethane dari POME juga mempunyai dimensi lingkungan yang kuat. POME menghasilkan gas yang mengandung metana. Dengan menangkap dan memanfaatkan gas tersebut, emisi metana dapat dikurangi sekaligus menghasilkan sumber energi terbarukan.

Toyota Tsusho dan KIS juga menargetkan sertifikasi ISCC untuk proyek tersebut. Sertifikasi ini penting untuk meningkatkan pengakuan atas aspek keberlanjutan dan membantu memenuhi kebutuhan pelanggan industri yang semakin memperhatikan jejak karbon dalam rantai pasoknya. Dengan demikian, nilai biomethane ke depan bukan hanya ditentukan oleh harga energinya. Ada nilai tambahan yang berasal dari pengurangan emisi, keberlanjutan dan kebutuhan dekarbonisasi industri.

Hilirisasi Sawit Memasuki Babak Baru

Selama ini hilirisasi sawit identik dengan peningkatan nilai tambah CPO menjadi minyak goreng, biodiesel, oleokimia, oleofood dan berbagai produk turunannya. Namun perkembangan biomethane memperluas pengertian hilirisasi.

Kini, limbah pun mulai masuk dalam rantai nilai. POME yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai kewajiban lingkungan mulai dilihat sebagai bahan baku energi yang mempunyai nilai komersial.

Jika proyek Toyota Tsusho dan KIS Group di Sumatera Selatan berhasil beroperasi secara komersial pada 2027, lalu model tersebut dapat direplikasi di lebih banyak PKS, industri sawit Indonesia berpotensi memiliki sumber pendapatan baru dari bagian proses produksi yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.

Bagi perusahaan perkebunan, ini membuka pertanyaan yang menarik:

Berapa banyak PKS di Indonesia yang sebenarnya dapat dikembangkan menjadi produsen biomethane?

Dan yang lebih penting:

Berapa besar nilai ekonomi yang dapat diciptakan jika POME tidak lagi hanya dilihat sebagai limbah, tetapi sebagai aset energi?

Proyek 150.000 MMBTU per tahun di Sumatera Selatan mungkin baru merupakan langkah awal. Namun apabila model ini berhasil secara komersial, POME berpotensi menjadi salah satu bagian penting dalam babak baru hilirisasi industri sawit Indonesia.

POME sawit tidak lagi sekadar limbah. POME mulai naik kelas menjadi bahan baku energi.

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop