Produksi CPO Semester I 2026 Naik 5,6%, Laba Bersih Tumbuh 20,6%
Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Kencana Agri Limited memasuki tahun 2026 dengan momentum yang cukup positif. Di tengah tantangan produktivitas perkebunan dan meningkatnya biaya operasional, perusahaan mampu mencatat pertumbuhan kinerja pada semester pertama 2026. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, Kencana Agri juga sedang menghadapi fase penting dalam pengelolaan perkebunannya, yakni replanting atau peremajaan tanaman kelapa sawit.
Data terbaru menunjukkan, produksi crude palm oil (CPO) Kencana Agri pada semester I 2026 mencapai 99.201 ton, meningkat sekitar 5,6% dibandingkan 93.981 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terjadi bersamaan dengan membaiknya oil extraction rate (OER), yang naik dari 21,0% menjadi 21,4%.
Dari sisi keuangan, kinerja perusahaan juga menunjukkan perkembangan positif. Pendapatan semester I 2026 mencapai sekitar US$110,8 juta, naik 27,1% dibandingkan periode yang sama 2025. Sementara itu, laba bersih meningkat 20,6% menjadi US$11,8 juta. Penjualan CPO sendiri mencapai US$94,3 juta, tumbuh sekitar 30%, didukung kenaikan volume penjualan dan harga jual rata-rata.
Produksi Meningkat, Tetapi Tantangan Kebun Mulai Terlihat
Kenaikan produksi tersebut menjadi sinyal positif. Namun, Kencana Agri tidak menutup mata terhadap tantangan dari sisi perkebunan. Pada semester I 2026, produksi TBS inti mengalami penurunan sekitar 5%, sementara hasil TBS inti per hektare turun sekitar 2,9% menjadi 6,6 ton per hektare. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah komposisi tanaman yang semakin banyak berada pada kategori tanaman muda maupun tanaman yang mulai memasuki usia tua.
Kondisi ini membuat replanting menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Kencana Agri, Replanting memang bukan strategi yang memberikan hasil instan. Ketika tanaman tua ditebang dan digantikan dengan tanaman baru, produksi dalam beberapa tahun pertama justru dapat mengalami tekanan. Namun, langkah tersebut diperlukan untuk membangun kembali basis tanaman produktif dan menjaga kemampuan perusahaan menghasilkan TBS serta CPO secara berkelanjutan.
Dengan kata lain, Kencana Agri saat ini berada pada sebuah fase transisi: mempertahankan produktivitas kebun yang sudah ada sekaligus menyiapkan fondasi produksi untuk masa depan.
Landbank Sekitar 67.885 Hektare
Skala perkebunan menjadi modal penting dalam strategi tersebut. Profil perusahaan menunjukkan Kencana Agri memiliki area tertanam sekitar 67.885 hektare pada FY2025, memberikan basis produksi yang cukup besar untuk menopang pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.
Pada 2025, Kencana Agri memproses sekitar 898.505 ton TBS dan menghasilkan sekitar 187.295 ton CPO. Angka tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan memiliki basis produksi yang cukup signifikan, sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga produktivitas tanaman seiring perubahan umur tanaman di dalam kebun.
Kencana Agri juga memiliki tujuh pabrik kelapa sawit dengan kapasitas gabungan sekitar 335 ton TBS per jam, serta dua fasilitas kernel crushing dengan kapasitas sekitar 435 ton per hari. Infrastruktur tersebut memberikan keuntungan karena perusahaan memiliki rantai bisnis yang terintegrasi dari perkebunan hingga pengolahan.
2025 Menjadi Fondasi Pertumbuhan
Kinerja 2025 juga memberikan gambaran mengenai momentum yang dibawa perusahaan memasuki 2026. Volume penjualan CPO Kencana Agri pada 2025 meningkat 17,3% menjadi 203.314 ton, dibandingkan 173.323 ton pada 2024. Harga jual rata-rata CPO juga meningkat sekitar 6%, dari US$785 menjadi US$832 per ton.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja Kencana Agri tidak hanya ditopang oleh harga komoditas, tetapi juga oleh pertumbuhan volume produksi dan penjualan. Memasuki semester II 2026, tantangannya adalah bagaimana perusahaan mempertahankan momentum tersebut ketika program replanting terus berjalan.
Replanting untuk Menjaga Produktivitas Jangka Panjang
Bagi industri sawit, replanting merupakan investasi jangka panjang. Tanaman baru membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum mencapai produktivitas optimal. Karena itu, perusahaan harus mampu mengatur keseimbangan antara tanaman menghasilkan, tanaman muda, biaya peremajaan, serta kebutuhan arus kas.
Kencana Agri tampaknya memahami tantangan tersebut. Perusahaan tetap meningkatkan produksi dan penjualan pada semester I 2026, sambil melanjutkan program peremajaan tanaman.
Strategi ini menjadi semakin penting karena pertumbuhan industri sawit ke depan tidak hanya ditentukan oleh harga CPO, tetapi juga oleh produktivitas per hektare, kualitas tanaman, efisiensi pabrik, pengelolaan biaya, serta kemampuan perusahaan menjaga keberlanjutan produksi.
Menatap 2026–2027
Dengan produksi CPO yang meningkat, kinerja keuangan yang positif dan basis lahan sekitar 67.885 hektare, Kencana Agri memiliki modal untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Namun, keberhasilan strategi tersebut akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengelola masa transisi akibat replanting. Tanaman baru yang ditanam hari ini merupakan investasi untuk produksi beberapa tahun mendatang.
Bagi Kencana Agri, replanting bukan sekadar mengganti tanaman tua dengan tanaman baru. Ini merupakan upaya membangun kembali mesin produksi perusahaan untuk menghadapi siklus pertumbuhan berikutnya.
Jika produktivitas tanaman baru nantinya dapat mencapai tingkat optimal dan efisiensi pengolahan terus membaik, program replanting berpotensi menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat kinerja Kencana Agri dalam jangka panjang.
Dengan demikian, cerita Kencana Agri pada 2026 bukan hanya tentang kenaikan produksi dan laba. Lebih jauh dari itu, perusahaan sedang mempersiapkan fondasi baru agar pertumbuhan bisnis sawitnya dapat berlanjut dalam jangka panjang.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

























