Indonesian Palm Oil News (IPO News) — Jejak investasi IOI Corporation Berhad di Indonesia terus menjadi bagian penting dari bisnis perkebunan grup asal Malaysia ini. Dengan 21.377 hektare tanaman kelapa sawit di Indonesia, sebagian besar di antaranya sudah menghasilkan, IOI memiliki posisi yang cukup signifikan di industri sawit nasional.
Nama IOI Group tentu sudah tidak asing di industri kelapa sawit dunia. Berbasis di Malaysia, IOI Corporation Berhad berkembang menjadi salah satu kelompok usaha besar yang menjalankan bisnis perkebunan kelapa sawit, pengolahan minyak sawit, manufaktur berbasis sumber daya alam, hingga energi terbarukan.
Bagi industri sawit Indonesia, keberadaan IOI juga menarik untuk dicermati. Pasalnya, berdasarkan data resmi perusahaan per 30 Juni 2025, IOI memiliki total 167.883 hektare areal tanaman kelapa sawit, dan 21.377 hektare atau sekitar 13% berada di Indonesia. Dari luas tersebut, 19.550 hektare merupakan tanaman menghasilkan (mature), sedangkan 1.827 hektare masih belum menghasilkan (immature). Artinya, sekitar 91% dari areal sawit IOI di Indonesia telah memasuki fase menghasilkan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar lokasi investasi tambahan bagi IOI, tetapi merupakan salah satu bagian penting dari portofolio perkebunan grup di luar Malaysia.
Indonesia Menjadi Bagian Strategis Bisnis Perkebunan IOI
Secara keseluruhan, IOI pada 30 Juni 2025 memiliki 172.459 hektare total planted area, yang terdiri atas sekitar 167.883 hektare kelapa sawit, 3.616 hektare kelapa, dan sekitar 960 hektare tanaman lainnya.
Dari total areal sawit tersebut, Malaysia masih menjadi basis terbesar dengan 146.506 hektare. Sementara itu, Indonesia menyumbang 21.377 hektare.
Menariknya, tingkat kematangan tanaman IOI di Indonesia relatif tinggi. Sebanyak 19.550 hektare atau 91% merupakan areal mature, sementara 1.827 hektare atau 9% masih immature. Komposisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar perkebunan IOI di Indonesia telah memasuki fase produktif dan berpotensi memberikan kontribusi terhadap produksi tandan buah segar serta minyak sawit grup.
Dalam bisnis perkebunan, komposisi antara tanaman menghasilkan dan tanaman belum menghasilkan merupakan salah satu indikator penting untuk melihat profil produksi suatu perusahaan. Semakin besar proporsi tanaman menghasilkan, semakin besar pula potensi kontribusi produksi dari areal tersebut.
Berbasis di Kalimantan Barat
Jejak IOI di Indonesia terutama terkait dengan operasi perkebunan di Kalimantan Barat, khususnya wilayah Kabupaten Ketapang.
Salah satu perusahaan yang menjadi bagian dari struktur bisnis IOI adalah PT Kalimantan Prima Agro Mandiri (PT KPAM). Dalam laporan tahunan IOI, PT KPAM tercatat sebagai perusahaan yang bergerak di bidang budidaya kelapa sawit dengan kepemilikan efektif grup sebesar 95%. Selain PT KPAM, struktur perkebunan IOI di Indonesia juga mencakup PT Bumi Sawit Sejahtera, PT Berkat Nabati Sejahtera, PT Sukses Karya Sawit, dan PT Ketapang Sawit Lestari.
Dengan demikian, jejak bisnis IOI di Indonesia tidak hanya terdiri dari satu badan usaha, tetapi merupakan sebuah struktur perkebunan yang terdiri dari sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor budidaya kelapa sawit.
Wilayah Ketapang sendiri merupakan salah satu kawasan penting bagi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat. Dalam berbagai dokumen IOI dan RSPO, sejumlah operasi dan pengembangan perkebunan grup dikaitkan dengan wilayah Ketapang.
RSPO juga pernah mencatat proposal PT Kalimantan Prima Agro Mandiri untuk pengembangan areal tanam baru di Desa Sukaramai, Kecamatan Kendawangan dan Manis Mata, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dokumen tersebut menjadi bagian dari prosedur penilaian penanaman baru RSPO.
Dari Investasi 2008 hingga Menjadi Portofolio Perkebunan
Kehadiran IOI di Indonesia bukanlah investasi baru. Jejak akuisisinya sudah berlangsung sejak sekitar 2008, ketika IOI mengambil alih kepemilikan melalui Oleander Capital Resources Pte Ltd yang secara efektif memiliki kepentingan pada sejumlah perusahaan perkebunan di Indonesia.
Dalam laporan tahunan IOI tahun 2008, transaksi tersebut terkait dengan sejumlah perusahaan, antara lain PT Ketapang Sawit Lestari, PT Bumi Sawit Sejahtera, PT Kalimantan Prima Agro Mandiri, PT Berkat Nabati Sejahtera dan PT Sukses Karya Sawit. Pada saat itu, transaksi tersebut dikaitkan dengan estimasi sertifikat HGU seluas sekitar 52.704 hektare.
Perkembangan selama bertahun-tahun kemudian membawa struktur kepemilikan dan areal perkebunan tersebut ke dalam portofolio IOI seperti yang tercermin dalam laporan perusahaan saat ini.
Hal ini menunjukkan bahwa investasi IOI di Indonesia memiliki sejarah panjang dan bukan sekadar ekspansi jangka pendek. Indonesia telah menjadi bagian dari strategi IOI untuk memperkuat bisnis perkebunan kelapa sawitnya.
Kinerja IOI Tetap Solid
Besarnya bisnis perkebunan IOI juga tercermin dari kinerja grup secara keseluruhan.
Untuk tahun buku 2025, IOI membukukan pendapatan sebesar RM11,33 miliar, meningkat dari RM9,60 miliar pada tahun sebelumnya. Profit before interest and tax (PBIT) mencapai RM1,70 miliar, sementara laba bersih mencapai sekitar RM1,54 miliar.
Pada periode yang sama, IOI mencatat produksi 2,84 juta ton FFB (fresh fruit bunches). Produksi minyak sawit mentah atau CPO dari pabrik-pabrik IOI mencapai sekitar 616.307 ton, dengan oil extraction rate sebesar 21,33%.
Perlu dicatat, angka produksi tersebut merupakan angka grup secara keseluruhan, bukan khusus Indonesia. IOI dalam data publiknya tidak memisahkan secara rinci angka produksi FFB dan CPO berdasarkan negara untuk keseluruhan operasi perkebunannya.
Namun, dengan 21.377 hektare areal sawit di Indonesia dan sekitar 19.550 hektare di antaranya telah menghasilkan, Indonesia tetap memiliki arti penting dalam portofolio upstream IOI.
Tantangan dan Komitmen Keberlanjutan
Sebagai salah satu pemain besar industri sawit global, IOI juga menghadapi tuntutan yang semakin tinggi mengenai keberlanjutan, tata kelola lahan, perlindungan lingkungan dan hubungan dengan masyarakat.
IOI menyatakan komitmen terhadap keberlanjutan melalui berbagai kebijakan dan program, termasuk perlindungan kawasan konservasi, pengurangan emisi, rehabilitasi dan pendekatan berbasis solusi alam. Dalam laporan keberlanjutan terbarunya, IOI juga menargetkan berbagai langkah untuk mendukung ambisi menuju karbon netral.
Di Indonesia, isu keberlanjutan juga menjadi bagian dari perjalanan bisnis IOI. Perusahaan mencatat sejumlah persoalan historis terkait operasi di Ketapang dan menyatakan bahwa beberapa pengaduan masyarakat telah ditangani. Salah satu catatan resmi IOI menyebut isu terkait masyarakat Desa Sukaramai di Ketapang mengenai proses kompensasi lahan telah dinyatakan “Has Been Addressed.”
Bagi IOI, menjaga keberlanjutan perkebunan di Indonesia menjadi penting bukan hanya dari sisi kepatuhan, tetapi juga untuk mempertahankan akses ke pasar global yang semakin menuntut rantai pasok minyak sawit yang bertanggung jawab.
Indonesia Tetap Penting bagi IOI
Dengan 21.377 hektare tanaman kelapa sawit di Indonesia, sekitar 91% di antaranya sudah menghasilkan, serta keberadaan sejumlah perusahaan perkebunan di Kalimantan Barat, IOI Corporation Berhad memiliki jejak yang cukup kuat dalam industri sawit Indonesia.
Angka tersebut memang masih lebih kecil dibandingkan basis perkebunan IOI di Malaysia. Namun, keberadaan investasi IOI selama hampir dua dekade memperlihatkan bahwa Indonesia telah menjadi bagian dari strategi jangka panjang grup asal Malaysia tersebut.
Ke depan, perkembangan produktivitas kebun, peremajaan tanaman, pengembangan areal, penguatan hilirisasi, sertifikasi keberlanjutan serta hubungan dengan masyarakat lokal akan menjadi faktor penting yang menentukan bagaimana IOI mengembangkan bisnis sawitnya di Indonesia.
Menurut data Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), perjalanan IOI di Indonesia menarik untuk terus dicermati, terutama karena perusahaan ini merupakan salah satu kelompok usaha sawit Malaysia yang telah membangun basis perkebunan dan struktur perusahaan yang cukup signifikan di Kalimantan Barat.
Dengan kombinasi antara pengalaman panjang, areal tanaman yang telah menghasilkan, serta komitmen terhadap keberlanjutan, IOI Group tetap menjadi salah satu nama penting dalam peta industri kelapa sawit Indonesia dan global.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting



























