Indonesian Palm Oil News (IPO News) – Bumitama Gunajaya Agro Group (BGA Group) atau BUMITAMA AGRI LTD, adalah perusahaan kelapa sawit terkemuka di Indonesia dan di dunia dengan landbank yang dimiliki seluas 234.000 hektar. Hingga tahun 2024 BGA memiliki lahan sawit yang tertanam seluas 187.021 hektar, dengan perincian di Riau seluas 2.000 hektar. Di Kalimantan Barat 80.000 hektar dan Kalimantan Tengah 105.000 hektar. Total tanaman sawit yang telah menghasilkan (mature) seluas 124.408 hektar (inti) seluas 62.623 hektar (plasma).
Dari sekitar 42 anak usaha yang dimiliki, BGA memiliki 66 kebun (estate) yang tersebar di Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. BGA memiliki 17 Pabrik Kelapa Sawit (Mill) dengan kapasitas 1.165 ton per jam. Lokasi pabrik berada di Riau 1 pabrik, Kalimantan Barat 7 pabrik dan Kalimantan Tengah 9 pabrik. Kapasitas pengolahan setiap pabrik berbeda beda, ada yang berkapasitas 45 ton TBS per jam, 60 ton per jam dan ada yang 75 ton per jam.
Memasuki tahun 2025 kinerja BGA terus ditingkatkan, karena menyadari tingginya permintaan global terhadap minyak sawit (CPO), termasuk minyak nabati yang terus meningkat, didorong oleh transisi energi yang sedang berlangsung di beberapa negara, sedangkan didalam negeri program B40 tahun 2025 membutuhkan ketersediaan CPO yang cukup besar hingga mencapai 8,34 juta ton. Apalagi sepanjang tahun 2025 harga CPO sedang tinggi-tingginya.
Melihat kenyataan ini, BGA akan terus meningkatkan produksi TBSnya. Untuk mencapai hal tersebut, BGA menyiapkan belanja modal sebesar Rp 1,2 triliun, guna membiayai berbagai inisiatif yang sejalan dengan target perusahaan untuk meningkatkan produksi TBS, salah satunya mengakuisisi perusahaan pupuk, yaitu PT. Pupuk Lapan Harsa di Gresik, Jawa Timur. Akuisisi perusahaan pupuk yang memiliki fasilitas pencampuran pupuk di Gresik akan menjadi landasan utama BGA untuk meningkatkan produktivitasnya di masa mendatang.
Menurut Gunawan H. Lim, dengan akuisisi PT Pupuk Lapan Harsa akan memungkinkan tim riset dan pengembangan BGA untuk memproduksi pupuk yang disesuaikan dengan karakteristik tanah yang berbeda dan memenuhi kebutuhan nutrisi spesifik setiap wilayah, serta pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan hasil panen, sambil mengurangi ketergantungan kami pada pasokan pupuk eksternal.
Menurut investigasi yang dilakukan Indonesian Palm Oil News (IPO News), PT Pupuk Lapan Harsa sejak awal merupakan bagian dari BGA sendiri, terlihat dari pemegang sahamnya. Perusahaan ini terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (DEPKUMHAM) pada 10 Agustus 2022 dengan modal awal Rp 10 miliar, modal ditempatkan dan disetor Rp 2,5 miliar. Pemegang saham saat itu adalah Lim Gunardi Hariyanto, kelahiran Samarinda 1965 dan Lim Gunawan Hariyanto, kelahiran Samarinda 1960. Saat itu perusahaan dipimpin oleh Drs. Panjang Yuswanto sebagai direktur dan Drs. H. Ghufron sebagai komisaris. Surat keputusan ini telah disyahkan oleh DEPKUMHAM melalui surat No. AHU-0053974.AH.01.01. Tahun 2022.
PT Pupuk Lapan Harsa terjadi beberapa kali perubahan akte, yaitu pada Februari 2023 modal awalnya ditingkatkan menjadi Rp 17,5 miliar. Saat itu pemegang sahamnya PT Berkat Megah Sejahtera, PT Dharma Guna Jaya dan PT Megah Jagad Wiyarta. Saat itu perusahaan dipimpin oleh Johannes Tanuwijaya sebagai Presiden Direktur dan Masziwa Bachrum sebagai Direktur, sedangkan Ghufron adalah sebagai Komisaris.
Ditahun yang sama aktenya kembali berubah dengan meningkatkan modal awalnya menjadi Rp 35 miliar, modal ditempatkan dan disetor Rp 10 miliar. Yang menjadi pemegang sahamnya adalah PT Bumitama Gunajaya Agro dan PT Karya Manunggal Sawitindo. Pemimpin perusahaan sama yaitu Johannes Tanuwijaya, Masziwa Bachrum dan Ghufron.
Pada 17 Januari 2025 Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengganti susunan pengurus PT Pupuk Lapan Harsa menjadi Kamses Saragih sebagai Direktur Utama, Ir. Wedy Sulistyo sebagai Direktur, Drs. Panjang Yuswanto sebagai Komisaris Utama dan Drs. Haroan Ritongga sebagai Komisaris.
Belanja modal, selain digunakan untuk akuisisi PT Pupuk Lapan Harsa, juga digunakan untuk melakukan re-planting. BGA mengalokasikan 3.000 ha hingga 4.000 ha untuk penanaman ulang dan sekitar 1.000-1.500 ha untuk penanaman baru. Produksi tahun 2025 di prediksi meningkat 5% hingga 9% dibanding tahun 2024.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting





























