Indonesian Palm Oil News (IPO News) – Fantastis! Begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan kinerja WILMAR Group dalam lima tahun terakhir (2021-2025). Selama tahun 2025 WILMAR Group sukses meningkatkan kinerja keuangannya dengan meraih pendapatan sebesar US$ 70,41 miliar dengan laba yang juga fantastis sebesar US$ 1,55 miliar. Kinerja tahun 2025 ini meningkat pesat dibanding dengan kinerja tahun 2024 yang membukukan pendapatan sebesar US$ 67,37 miliar dengan laba sebesar US$ 1,22 miliar.
Wilmar adalah perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia dan di dunia yang berbasis di Singapura. Luas lahan kelapa sawit yang dikuasai di Indonesia mencapai 320.000 ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan hingga ke Papua. Luas lahan yang tertanam mencapai 275.000 ha, terdiri dari kebun inti seluas 190.000 ha dan kebun plasma seluas 85.000 ha. WILMAR mampu memproduksi Tandan Buah Segar (TBS) sebanyak 2,7 juta ton per tahun dan produksi CPO mencapai 1,4 juta ton per tahun.
Menurut penelusuran IPO NEWS, Wilmar Group berkantor pusat di Singapura dengan alamat Singapore Corporate Office, 28 Biopolis Road, Singapore 138568. Wilmar tercatat terdaftar di Bursa Singapura, namun tidak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Heboh terkait ada 10 perusahaan yang melakukan under-invoicing, nama Wilmar disebut sebut juga ikut terseret dalam kasus ini.
Menurut Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dia telah mengantongi data 10 group perusahaan kelapa sawit yang diduga melakukan manipulasi nilai ekspor atau under-invoicing dalam perdagangan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
Hal itu terungkap saat Purbaya menjawab pertanyaan wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026). Modus yang dilakukan oleh group perusahaan sawit raksasa tersebut adalah praktik ekspor sawit (CPO) dari Indonesia ke Singapura yang diekspor kembali ke Amerika Serikat dengan manipulasi harga (Under-Invoicing).
Menurut pantauan IPO News, terkait nama WILMAR disebut pada kasus under-invoicing, saham perusahaan ini yang tercatat di Bursa Singapura pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026 sempat anjlok 3,98% menjadi 3,38 dolar Singapura.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting





























