Memasuki Babak Baru dengan Transformasi, Penguatan Tata Kelola dan Portofolio Perkebunan Sawit Lebih dari 26.000 Hektare
Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Enam dekade bukanlah perjalanan yang singkat bagi sebuah kelompok usaha. Dari sebuah usaha angkutan sungai di Kalimantan Selatan pada 1966, Hasnur Group kini telah berkembang menjadi kelompok usaha dengan portofolio yang jauh lebih luas, mencakup logistik, pertambangan, agribisnis dan kehutanan, teknologi dan jasa, pendidikan, consumer business hingga investasi.
Memasuki usia 60 tahun pada 27 Agustus 2026, Hasnur Group berada pada fase penting. Di bawah kepemimpinan Presiden Direktur Jayanti Sari, generasi kedua keluarga pendiri, perusahaan tidak hanya mempertahankan bisnis yang telah dibangun sejak era sang pendiri, tetapi juga melakukan transformasi organisasi untuk menghadapi perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks.
Bagi Hasnur, perjalanan 60 tahun bukan sekadar perayaan usia. Ini menjadi momentum untuk memperkuat fondasi dan menyiapkan perusahaan menghadapi fase pertumbuhan berikutnya.
Jayanti Sari sendiri telah memimpin Hasnur Group sejak 2006. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya menjaga semangat pantang menyerah yang menjadi bagian dari perjalanan keluarga dan perusahaan sejak awal berdiri.
Hasnur Group didirikan oleh almarhum H. Abdussamad Sulaiman HB dan almarhumah Hj. Nurhayati. Cikal bakalnya adalah usaha angkutan sungai yang dimulai pada 1966. Dari bisnis tersebut, Hasnur kemudian berkembang ke bidang kehutanan, pertambangan, perkebunan, logistik, jasa dan berbagai sektor lainnya.
Tujuh Strategic Business Unit
Transformasi Hasnur Group semakin terlihat ketika perusahaan mengembangkan struktur bisnis menjadi tujuh Strategic Business Unit (SBU), yaitu Logistic, Agro Forestry, Energy, Technology & Services, Education, Consumer dan Investment.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa Hasnur tidak lagi hanya mengandalkan satu atau dua sektor usaha. Diversifikasi menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam membangun bisnis yang lebih resilient dan berkelanjutan.
Namun, semakin besar sebuah kelompok usaha, semakin besar pula tantangan untuk menjaga seluruh unit bergerak dalam arah yang sama.
Dalam Townhall 2026, Jayanti Sari menegaskan bahwa dengan tujuh SBU yang memiliki karakter berbeda, tantangan Hasnur adalah memastikan seluruh unit tetap bergerak dalam satu arah menuju masa depan yang berkelanjutan.
Karena itu, Hasnur memperkuat New Working Culture serta membentuk Komite Transformasi Bisnis. Perusahaan juga memperkenalkan sistem pendukung tata kelola, termasuk Whistle Blowing System serta Knowledge & Innovation Management System.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa transformasi Hasnur bukan hanya menyangkut ekspansi bisnis, tetapi juga menyentuh aspek manusia, budaya kerja, tata kelola dan inovasi.
Perkebunan Sawit Tetap Menjadi Bagian Penting
Di tengah kuatnya identitas Hasnur sebagai grup usaha yang memiliki bisnis pertambangan dan logistik, perkebunan kelapa sawit tetap menjadi salah satu portofolio penting. Bisnis sawit Hasnur Group dijalankan antara lain melalui PT Hasnur Citra Terpadu (HCT) dan PT Barito Putera Plantation (BPP) yang beroperasi di Kalimantan Selatan.
Berdasarkan informasi yang tercantum di situs resmi Hasnur Group, PT Hasnur Citra Terpadu saat ini mengelola areal perkebunan inti seluas 13.708 hektare di Kabupaten Tapin. Sementara halaman bisnis agribisnis Hasnur mencantumkan PT Barito Putera Plantation memiliki areal perkebunan kelapa sawit sekitar 13.006 hektare di Kabupaten Barito Kuala.
Dengan menggunakan angka areal yang tercantum tersebut, portofolio perkebunan yang ditampilkan perusahaan mencapai sekitar 26.714 hektare.
Namun, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai angka areal yang tercantum dalam informasi perusahaan, bukan sebagai klaim consolidated planted area terbaru, karena halaman perusahaan menggunakan basis data yang berbeda. Ini penting agar pembaca memperoleh gambaran yang akurat mengenai skala bisnis sawit Hasnur.
Sebelumnya, data yang pernah dipublikasikan juga mencatat sekitar 22.650 hektare tanaman sawit pada HCT dan BPP, termasuk areal plasma. Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara areal inti, areal tanaman, areal kemitraan dan total area perkebunan.
Memperkuat Hilirisasi dan Produktivitas
Hasnur tidak hanya memiliki perkebunan, tetapi juga telah membangun fasilitas pengolahan CPO, PT Hasnur Citra Terpadu mulai mengoperasikan pabrik kelapa sawit di Kabupaten Tapin pada 2013. Kapasitas awal pabrik tersebut kemudian ditingkatkan hingga 90 ton TBS per jam.
Penguatan kapasitas pengolahan menjadi penting karena keberadaan pabrik memberikan nilai tambah terhadap produksi TBS sekaligus memperkuat integrasi antara kebun dan industri pengolahan.
HCT juga telah memperoleh sertifikasi ISPO pada 2016. Dalam perkembangan terbaru, perusahaan kembali menunjukkan perhatian terhadap aspek lingkungan dengan meraih PROPER Biru untuk periode 2023–2024.
Jayanti Sari menegaskan bahwa keberlanjutan harus menjadi bagian dari kegiatan operasional sehari-hari, bukan sekadar komitmen di atas kertas.
Bagi bisnis sawit, pendekatan tersebut semakin penting karena tantangan industri ke depan tidak hanya berkaitan dengan produksi dan harga CPO, tetapi juga produktivitas kebun, tata kelola, hubungan dengan masyarakat, lingkungan serta tuntutan pasar global terhadap rantai pasok yang berkelanjutan.
Dari Batubara Menuju Solusi Pertambangan Masa Depan
Di sektor energi dan pertambangan, Hasnur juga terus membuka ruang untuk pengembangan teknologi, Salah satu perkembangan penting adalah kerja sama strategis dengan HD Hyundai Construction Equipment. Kedua perusahaan menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan solusi pertambangan, termasuk penyediaan peralatan tambang, pengembangan solusi pertambangan terpadu, pengembangan ekskavator listrik serta sistem manajemen lokasi tambang.
Kerja sama tersebut dimulai antara lain dengan rencana penyediaan large wheel loader. Data operasional dari lokasi tambang Hasnur akan digunakan untuk membantu mengembangkan strategi peningkatan efisiensi operasi. Yang menarik, kerja sama ini tidak berhenti pada penjualan alat berat. Kedua perusahaan juga membidik konsep total mining solution, yang mencakup peralatan, pemeliharaan dan perbaikan, sistem manajemen lokasi hingga pengembangan teknologi elektrifikasi.
Bagi Hasnur, kolaborasi tersebut dapat menjadi bagian dari transformasi menuju operasi pertambangan yang lebih efisien dan berbasis teknologi. Sementara bagi HD Hyundai, Hasnur menjadi mitra strategis untuk menguji dan mengembangkan solusi pertambangan yang sesuai dengan karakteristik pasar Indonesia.
Jayanti Sari dan Babak Baru Hasnur
Kepemimpinan Jayanti Sari menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan transformasi Hasnur. Sebagai generasi kedua, Jayanti menghadapi tantangan untuk menjaga warisan pendiri sekaligus membawa perusahaan masuk ke lingkungan bisnis yang berbeda dari masa awal berdirinya.
Hasnur saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai angkutan sungai atau pertambangan batubara. Grup tersebut telah memiliki ekosistem bisnis yang mencakup logistik, energi, perkebunan, kehutanan, teknologi, jasa, pendidikan, consumer business dan investasi.
Di sisi lain, perusahaan juga harus memastikan bahwa diversifikasi tersebut tetap menghasilkan sinergi dan tidak kehilangan fokus. Karena itu, penguatan tata kelola dan budaya perusahaan menjadi sangat strategis.
Pesan Jayanti dalam Townhall 2026 mengenai perlunya seluruh SBU bergerak dalam satu arah menunjukkan bahwa Hasnur sedang berusaha membangun organisasi yang lebih terintegrasi.
Dari Sungai ke Masa Depan
Enam puluh tahun perjalanan Hasnur Group memperlihatkan bagaimana sebuah bisnis lokal dari Kalimantan dapat berkembang menjadi kelompok usaha dengan portofolio multisektor. Dari angkutan sungai pada 1966, Hasnur berkembang ke kehutanan, pertambangan dan perkebunan pada dekade berikutnya. Kemudian bisnisnya terus melebar ke logistik, jasa, teknologi, pendidikan, media, consumer business dan investasi.
Kini, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana perusahaan bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Perkebunan sawit dengan areal lebih dari 26.000 hektare berdasarkan data areal yang tercantum pada perusahaan, bisnis pertambangan, logistik serta pengembangan solusi teknologi menunjukkan bahwa Hasnur memiliki fondasi yang cukup beragam.
Di bawah kepemimpinan Jayanti Sari, babak berikutnya tampaknya akan ditentukan oleh tiga hal: kemampuan melakukan transformasi, menjaga keberlanjutan dan menciptakan sinergi antar SBU. Memasuki usia 60 tahun, Hasnur Group tidak hanya membawa warisan enam dekade perjalanan bisnis.
Hasnur sedang menyiapkan fondasi untuk memasuki enam dekade berikutnya, Dari sungai di Kalimantan Selatan, Hasnur telah tumbuh menjadi kelompok usaha dengan pandangan yang semakin luas—dan tantangan berikutnya adalah memastikan perjalanan panjang tersebut terus menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perusahaan, masyarakat dan generasi mendatang.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

























