Indonesia memiliki bahan baku sawit melimpah, tetapi pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi masih perlu dipercepat. Malaysia menjadi pembanding dalam hal efisiensi dan produktivitas industri
Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengungkapkan kegelisahannya terhadap perkembangan hilirisasi kelapa sawit di Indonesia. Meski Indonesia memiliki perkebunan sawit terbesar di dunia, pengembangan industri hilir dinilainya masih berjalan lambat dan belum sepenuhnya memanfaatkan potensi bahan baku nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Faisol dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026 di The Langham, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Faisol bahkan menyampaikan perlunya meminta masukan dari Saleh Husin, Menteri Perindustrian periode 2014–2016, terkait pengembangan hilirisasi sawit.
“Ada satu yang menarik, yang saya gelisah sekarang, mungkin saya harus minta bantuan kepada Pak Menteri Saleh Husin, Karena hilirisasi sawit ini kelihatannya agak mandek,” ujar Faisol, sebagaimana diberitakan detikFinance.
PRODUKTIVITAS MALAYSIA MENJADI PEMBANDING
Faisol menyoroti perbandingan industri sawit Indonesia dengan Malaysia. Menurutnya, produktivitas industri Malaysia dinilai lebih tinggi dan efisien, meskipun Indonesia memiliki keunggulan besar dari sisi ketersediaan bahan baku. Persoalan tersebut menjadi perhatian karena pengembangan hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan besarnya produksi minyak sawit. Indonesia juga perlu meningkatkan kemampuan industri dalam mengolah bahan baku menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan daya saing yang kuat di pasar internasional.
Faisol turut menyinggung persoalan ekspor fatty alcohol atau alkohol lemak yang tengah menghadapi kendala di pasar Amerika Serikat. Produk ini merupakan salah satu bahan penting bagi industri oleokimia yang memasok kebutuhan berbagai sektor manufaktur.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan industri hilir membutuhkan dukungan bukan hanya berupa ketersediaan bahan baku, melainkan juga efisiensi produksi, akses pasar, dan kemampuan bersaing menghadapi produsen negara lain.
PELUANG PRODUK TURUNAN MASIH TERBUKA
Menurut Faisol, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperluas pengembangan produk turunan kelapa sawit, khususnya produk oleokimia yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri lain. Beberapa produk yang disorotnya meliputi gliserin, surfaktan, dan karoten. Ketiganya memiliki kegunaan berbeda dan dapat mendukung pengembangan rantai nilai industri yang lebih luas.
Gliserin digunakan antara lain dalam industri kosmetik, farmasi, dan perawatan pribadi. Surfaktan dimanfaatkan dalam berbagai produk pembersih, perawatan tubuh, serta aplikasi industri. Sementara itu, karoten memiliki nilai ekonomi sebagai bahan untuk sektor pangan, nutrisi, dan aplikasi tertentu dalam industri lainnya.
Pengembangan produk tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri oleokimia, memperluas pasar produk turunan sawit, serta meningkatkan nilai ekonomi yang diperoleh dari pengolahan bahan baku di dalam negeri. Dengan demikian, hilirisasi sawit memiliki ruang pengembangan yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan minyak goreng, olein, stearin, maupun bahan bakar nabati.
HILIRISASI JANGAN HANYA BERTUMPU PADA B50
Faisol juga menyoroti perkembangan pemanfaatan sawit sebagai bahan bakar nabati. Menurutnya, setelah bertahun-tahun pengembangan hilirisasi, program biodiesel B50 menjadi salah satu perkembangan yang kini terlihat nyata. B50 merupakan campuran bahan bakar yang mengandung 50% biodiesel berbasis minyak sawit dan 50% solar berbasis fosil. Namun, pengembangan energi berbasis sawit semestinya berjalan beriringan dengan pengembangan produk turunan lainnya.
Diversifikasi menjadi penting agar industri sawit nasional memiliki lebih banyak sumber pertumbuhan, tidak hanya bergantung pada permintaan minyak sawit untuk pangan dan energi. Pengembangan oleokimia, misalnya, berpotensi memperluas keterkaitan industri sawit dengan sektor kimia, kosmetik, farmasi, produk pembersih, serta berbagai industri manufaktur lainnya.
Semakin beragam produk yang dapat dihasilkan, semakin besar pula peluang untuk memperluas pasar dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.
KADIN DIMINTA MENJADIKAN HILIRISASI SEBAGAI PRIORITAS
Faisol berharap pengembangan hilirisasi sawit dapat menjadi salah satu agenda prioritas Kadin Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha diperlukan untuk mempercepat pemanfaatan potensi bahan baku yang tersedia di dalam negeri.
“Kalau ini juga bisa jadi agenda yang prioritas di Kadin, saya kira kita bisa bersama-sama menjadikan subsektor ini menjadi salah satu hilirisasi yang optimal dan lebih sukses. Karena sebenarnya semua bahan mentahnya ada di dalam negeri,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya membangun industri hilir yang lebih kuat, mulai dari pengolahan bahan baku hingga produksi bahan kimia turunan bernilai tambah tinggi.
Bagi industri sawit nasional, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi kapasitas produksi yang kompetitif, inovasi produk, serta perluasan pasar domestik dan ekspor. Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri tersebut. Namun, sebagaimana disoroti Wamenperin, potensi itu masih membutuhkan percepatan agar keunggulan sebagai negara produsen sawit utama dunia dapat menghasilkan nilai tambah industri yang lebih optimal.
Sumber: detikFinance, Bisnis.com, dan pernyataan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam Rakornas Kadin Indonesia 2026, 13 Oktober 2026.
—
Muslim M. Amin
Pemimpin Redaksi IPO NEWS
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting




























