PT Agrinas Palma Nusantara Perusahaan Biodiesel B50 Terbesar Di Dunia, Bisa Kalahkan Singapura

Biodiesel B50

Indonesian Palm Oil News (IPO News) – Ini adalah sebuah berita yang sangat ironi..! Singapura telah mencatatkan prestasi yang gemilang dalam dunia ekspor biodiesel dalam tiga tahun terkhir (2021-2024). Menurut informasi yang diterima IPO NEWS, rata-rata ekspor Singapura mencapai US$ 5,11 miliar atau sekitar Rp. 85 triliun pertahun dengan total volume ekspor mencapai 585.324 metrik ton dan tingkat pertumbuhannya rata-rata sebesar 9,7 persen pertahun, ini adalah pencapaian yang luar biasa melihat Singapura tidak memiliki lahan sawit, namun berhasil memproduksi biodiesel dalam jumlah yang sangat besar.

Kenapa dikatakan ironi, karena untuk memproduksi biodiesel sebanyak itu diperlukan lahan seluas lebih kurang 120 ribu hektar atau dengan kata lain hampir dua kali lipat dari negara itu sendiri. Dengan kondisi tidak memiliki lahan perkebunan sawit, Singapura telah menikmati devisa yang besar dari hasil alam Indonesia. Tapi kini, dibawah pemerintahan Prabowo Subianto, Singapura akan menghadapi pemain baru yang datang dari Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak khusus disektor energi terbarukan terutama biodiesel yakni PT Agrinas Palma Nusantara. Perusahaan ini bukan hanya sekedar memiliki keunggulan modal, lahan yang luas dan teknologi dan kualitas produksi tetapi juga kesepakatan kerjasama dengan berbagai negara, seperti Cina, Jepang, Korea Selatan hingga ke negara-negara eropa, lantas bagaimana cara PT Agrinas akan menjadi perusahaan biodiesel terbesar di dunia..? Berikut adalah penjelasannya.

PT Agrinas Palma Nusantara resmi berdiri pada Februari 2025 sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang lahir dari merjer dengan PT Indra Karya, PT Virama Karya dan PT Yodya Karya yang sebelumnya dikenal sebagai perusahaan yang bergerak dibidang konsultasi teknik dan manajemen konstruksi namun kini PT Agrinas berfokus pada pengelolan perkebunan kelapa sawit sekaligus pengembangan energi terbarukan, dengan suntikan modal sebesar 8 triliun rupiah yang telah diterima pada tahun 2025 ini, kini Agrinas telah siap untuk beroperasi tanpa ketergantungan pada APBN, karena nantinya perusahaan ini akan dimasukkan dalam kelompok Danantara.

Keistimewaan PT Agrinas Palm Nusantara semakin tampak dengan pengambilan alih lahan atau akuisisi lahan seluas 438 ribu hektar dari Kejaksaan Agung dan satuan tugas penertiban kawasan hutan pada Maret 2025, dan diprediksi luas lahan perkebunan yang akan dikuasi bisa melebihi 1,5 juta hektar, lahan terbesar yang diakuisi berasal dari PT Duta Palma Nusantara.

Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperbaiki tata kelola industri sawit yang sering menjadi sorotan karena isu lingkungan dan sosial, dengan pengambil alihan perusahaan yang bermasalah Agrinas tidak hanya memperluas kendali atas sumber daya strategis tetapi juga mendukung program ketahanan energi nasional melalui pengembangan biodiesel B40, B50 atau bahkan nanti B100.

Kehadiran PT Agrinas Palma Nusantara juga membuka peluang terciptanya lapangan kerja yang signifikan di sektor perkebunan dengan mengubah lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi sumber ekonomi yang lebih menguntungkan. PT Agrinas Palma Nusantara akan membuka Lapangan kerja dengan jumlah yang besar dan berkualitas, karena PT Agrinas merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dimana seringkali menawarkan gaji yang lebih tinggi dibandingkan

perusahaan swasta, tak hanya itu PT Agrinas Palma Nusantara juga berperan penting dalam meningkatkan kontribusi sektor kelapa sawit terhadap energi terbarukan baik dikonsumsi domestik maupun untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Pertanyaannya, bagaimana cara PT Agrinas Palma Nusantara menjadi menjadi sebuah perusahaan biodiesel terbesar didunia. Menurut GAPKINDO, saat ini produksi minyak sawit mentah atau CPO Indonesia sekitar 48 juta ton dan ditambah 4.6 juta ton dari sawit, sehingga totalnya menjadi 52,7 ton, sedangkan implementasi biodiesel B50 membutuhkan CPO sebanyak 17,9 juta ton dan diperkirakan memerlukan tambahan lahan perkebunan sawit seluas 2,3 juta hektar, tentu sampai disini ada kekhawatiran jika B50 diterapkan akan mengancam harga kebutuhan pangan seperti minyak goreng dan lain-lain, maka dari itu dengan mengambil alih lahan sitaan dari perusahaan perkebunan yang melanggar aturan, maka tidak perlu lagi khawatir kekurangan CPO untuk memproduksi B50 tanpa mengganggu pasokan domestik maupun ekspor.

Saat ini Indonesia mengekspor sekitar 60 persen hingga 70 persen dari total produksi CPO nasional, mesikipun harga sawit baru-baru ini cukup baik, ini menandakan indonesia masih bergantung pada fluktuasi harga pasar global, jika B50 diterapkan sekitar 25 persen ekspor CPO akan berkurang, atau dengan kata lain 75 persen CPO akan dikonsumsi didalam negeri, hal ini membuat Indonesia lebih kuat terhadap fluktuasi harga sawit dipasar global. Dari langkah inilah peran Singapura yang sangat penting pada bisnis ini, perlahan akan dikurangi atau bahkan dihentikan.

Hasil investigasi IPO NEWS, pemain utama sebagai produsen biodiesel Indonesia yang disubsidi dari duit Pungutan Ekspor (PE) BPDPKS itu adalah perusahaan raksasa yang berkantor pusat di Singapura, seperti Wilmar Group, Musim Mas Group, Asian Agri Group atau Apical Group, Darmex Group dan beberapa yang lain. Dari Rp.110,03 triliun total dana yang digelontorkan BPDPKS untuk mensubsidi biodiesel sebesar Rp. 77,17 triliun justru mengalir ke empat group raksasa ini.  Bisnis Wilmar Group di Biodiesel melalui 4 anak perusahaannya; PT Multi Nabati Sulawesi, PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Wilmar Bioenergi Indonesia dan PT Energi Unggul Persada.

Wilmar Bioenergi Indonesia dan Wilmar Nabati Indonesia mulai ikut memproduksi biodiesel bersubsidi itu sejak tahun 2015. PT Multinabati menyusul setahun kemudian dan Energi Unggul Persada pada 2021. Persis bersamaan dengan PT Jhonlin Agro Raya, milik Samsuddin Andi Arsyad alias Haji Isam. Dari tahun 2015 hingga tahun 2021 dari bisnis biodiesel Wilmar Group mendapat dana dari BPDPKS sebesar Rp.39,5 triliun.

Sementara itu Musim Mas dengan tiga anak perusahaannya; PT Intibenua Perkasatama, PT Musim Mas dan PT Sukajadi Sawit Mekar hampir sama seperti itu. Musim Mas mulai masuk bisnis biodiesel pada tahun 2015. PT Inti Benua Perkasatama di 2017 dan PT Sukajadi Sawit Mekar menyusul setahun kemudian. Dan hingga 2021, group ini mendapat dana sebesar Rp18,6 triliun.

Sedangkan Apical Group dengan tiga anak usahanya; PT Kutai Refinery Nusantara, PT Cemerlang Energi Perkasa/PT Sari Dumai Sejati dan PT Sari Dumai Oleo mulai bermain di 2016, kemudian PT Kutai Refinery Nusantara dan Sari Dumai Oleo menyusul di tahun 2021.

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Informasi

Jaringan Media

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop