Indonesian Palm Oil News (IPO News), Medan — Permata Hijau Group (PHG) merupakan salah satu kelompok usaha sawit yang membangun bisnisnya secara terintegrasi, mulai dari perkebunan kelapa sawit, pengolahan TBS menjadi CPO dan produk turunannya, hingga industri hilir dan pemasaran ke pasar domestik maupun internasional.
Didirikan pada 1984, Permata Group saat ini mengoperasikan bisnis di sepanjang rantai nilai industri sawit, dari sektor hulu hingga industri hilir. Perusahaan menyebut integrasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun efisiensi sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah untuk pasar global.
Salah satu entitas penting dalam bisnis hulu grup adalah PT Permata Hijau Sawit (PHS). Data terbaru Permata Group juga menempatkan PHS dalam fasilitas yang dinilai melalui kerangka NDPE Independent Verification Framework (NDPE IRF). Pada penilaian 2025, PHS tercatat memperoleh skor 90% untuk aspek No Deforestation dan No Peat dalam tabel penilaian grup.
Dari Perkebunan hingga Oleokimia
Kekuatan Permata Group tidak hanya berada pada produksi minyak sawit mentah. Grup ini juga mempunyai kegiatan pengolahan dan manufaktur yang menghasilkan berbagai produk turunan sawit. Produk yang ditawarkan mencakup CPO, RBD Palm Oil, RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin, PFAD dan minyak goreng kemasan. Dari sisi inti sawit, grup juga menghasilkan CPKO, RBD Palm Kernel Oil, Palm Kernel Expeller dan produk turunannya.
Pada sektor oleokimia dan produk khusus, Permata Group memproduksi antara lain fatty acid, stearic acid, oleic acid, glycerine, soap noodles, fatty alcohol, specialty fats, margarine dan frying fats. Grup juga memiliki bisnis biodiesel berbasis Palm Methyl Ester (PME). Dengan struktur tersebut, Permata Group tidak hanya menjual komoditas sawit dalam bentuk bahan baku, tetapi juga mengembangkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Jhonny Virgo: Keberlanjutan Menjadi Bagian Strategi
Komitmen terhadap keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama manajemen Permata Group. Dalam Sustainability Report 2023, Jhonny Virgo selaku President Director menyampaikan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian dari strategi utama perusahaan.
“At Permata Group, sustainability is not just a responsibility it is embedded in our core strategy, guiding us toward long-term success and shared prosperity.”
Pernyataan tersebut menunjukkan arah manajemen Permata Group untuk menempatkan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola bukan sekadar sebagai kewajiban, tetapi sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Jhonny Virgo juga menekankan pentingnya penguatan ketertelusuran rantai pasok, sertifikasi serta pemenuhan standar bebas deforestasi untuk menjaga akses pasar di tengah semakin ketatnya tuntutan pasar internasional.
Dalam laporan 2023, Permata Group menyebut telah mencapai 100% traceability to mills, sementara traceability ke perkebunan meningkat dari 66% menjadi 82%. Lebih dari 75% pemasok juga disebut telah mengadopsi prinsip NDPE.
Menjaga Akses Pasar Global
Bagi perusahaan sawit terintegrasi seperti Permata Group, kemampuan memenuhi tuntutan pasar global menjadi semakin penting. Perubahan regulasi dan tuntutan konsumen membuat perusahaan harus mampu membuktikan asal-usul bahan baku serta standar keberlanjutan produknya.
Permata Group menyatakan terus memperkuat sistem ketertelusuran, sertifikasi dan penerapan prinsip NDPE untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok. Di sisi produksi, perusahaan juga mengembangkan pemanfaatan energi berbasis biomassa dari limbah pengolahan kelapa sawit. Permata Group menyebut fasilitasnya telah menerapkan teknologi penangkapan metana pada sejumlah instalasi pabrik sawit untuk mengurangi emisi.
PHS Tetap Menjadi Bagian Penting
Sebagai salah satu entitas dalam grup, PT Permata Hijau Sawit tetap menjadi bagian penting dalam struktur bisnis Permata Group. Data NDPE IRF terbaru yang dipublikasikan perusahaan menunjukkan PHS masih tercatat sebagai salah satu fasilitas yang dipantau dalam sistem keberlanjutan grup. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas hulu perusahaan menjadi bagian dari sistem pengelolaan rantai pasok secara keseluruhan.
Dengan kombinasi perkebunan, pabrik kelapa sawit, pengolahan minyak nabati, oleokimia, specialty fats dan biodiesel, Permata Group memiliki model bisnis yang mencakup hampir seluruh rantai nilai industri sawit. Ke depan, tantangan perusahaan bukan hanya mempertahankan kapasitas produksi, tetapi juga meningkatkan produktivitas, memperkuat ketertelusuran bahan baku dan memperbesar kontribusi produk hilir bernilai tambah.
Bagi kelompok usaha sawit terintegrasi, arah tersebut menjadi penting untuk menjaga daya saing Indonesia di pasar minyak nabati dan produk turunannya yang semakin kompetitif.
Menurut data Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), Permata Hijau Group menjadi salah satu kelompok usaha yang menarik untuk terus dipantau, terutama melihat perkembangan bisnisnya dari sektor perkebunan, pengolahan CPO dan PK hingga industri oleokimia serta produk hilir.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

























