Indonesian Palm Oil News (IPO News), Medan — Permata Hijau Group (PHG), yang kini menggunakan nama Permata Group, merupakan salah satu kelompok usaha sawit terintegrasi yang menarik perhatian di industri kelapa sawit Indonesia.
Didirikan pada 1984, perusahaan membangun bisnis dari sektor perkebunan dan kemudian berkembang ke pengolahan CPO, refinery, kernel crushing, biodiesel, specialty fats hingga oleokimia. Permata Group menyebut operasinya kini mencakup seluruh rantai nilai sawit, dari upstream hingga downstream, dengan produk yang dipasarkan ke pelanggan di berbagai negara.
Yang membuat kelompok usaha ini menarik bukan hanya bisnis perkebunannya, tetapi bagaimana bahan baku sawit dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.
21.000 Hektare Tanaman Sawit
Data terbaru yang dipublikasikan Permata Group dalam Sustainability Report 2024 menunjukkan bahwa perusahaan mengelola perkebunan dengan total planted area sekitar 21.000 hektare. Dari area tersebut, kebun Permata Group menghasilkan lebih dari 200.000 ton TBS per tahun. Namun, kebutuhan bahan baku pabrik tidak hanya berasal dari kebun sendiri. Permata Group juga memperoleh TBS dari pemasok pihak ketiga, termasuk perusahaan perkebunan besar, koperasi petani dan petani swadaya.
Pada 2024, enam pabrik kelapa sawit milik kelompok tersebut menghasilkan sekitar 352.000 ton CPO dan 103.000 ton palm kernel (PK). Angka produksi CPO tersebut memperlihatkan bahwa skala industri Permata Group jauh lebih besar dibandingkan sekadar produksi dari kebun sendiri, karena rantai pasoknya juga ditopang oleh pembelian TBS dari pihak ketiga.
Dari Perkebunan ke Industri Hilir
Strategi integrasi menjadi salah satu kekuatan utama Permata Group. Setelah TBS diolah menjadi CPO dan PK, bahan baku tersebut dapat diteruskan ke fasilitas refinery, kernel crushing plant, biodiesel dan oleokimia. Dengan model seperti ini, perusahaan tidak hanya menjual komoditas mentah, tetapi dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Permata Group sendiri menyatakan bahwa integrasi bisnis tersebut memungkinkan perusahaan menghasilkan berbagai produk bernilai tambah dan mengirimkannya ke pasar dunia melalui jaringan logistik yang terintegrasi.
Enam Holding Company Menopang Operasi
Struktur bisnis Permata Group juga cukup luas, Dalam dokumen perusahaan, kelompok usaha ini menyebut sejumlah holding company utama, antara lain PT Permata Hijau Palm Oleo, PT Nubika Jaya, PT Permata Hijau Indonesia, PT Permata Hijau Sawit, PT Pelita Agung Agrindustri dan PT Damai Nusa Sekawan.
Masing-masing holding company membawahi sejumlah entitas atau unit operasi. Sebagai contoh, Pelita Agung Agrindustri mengelola tiga operasi, yakni Dumai, Duri dan KID, sedangkan Nubika Jaya mengelola dua operasi. Struktur tersebut memperlihatkan bahwa Permata Group bukan hanya satu perusahaan perkebunan, melainkan sebuah kelompok usaha dengan berbagai entitas yang bergerak di sepanjang rantai industri sawit.
Oleokimia Menjadi Bagian Penting
Salah satu bagian yang paling menarik dari bisnis Permata Group adalah industri oleokimia, Melalui PT Permata Hijau Palm Oleo, kelompok usaha ini mengembangkan industri fatty acids dan produk turunannya. Produk oleokimia berbasis minyak sawit tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, termasuk kebutuhan pangan, personal care, consumer products dan industri kimia.
Inilah salah satu bentuk nyata hilirisasi sawit: bahan baku yang awalnya berasal dari perkebunan kemudian diproses menjadi produk industri dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Bukan Hanya CPO, Portofolio Permata Group juga mencakup refinery, kernel crushing plant dan biodiesel. Artinya, satu ekosistem bisnis dapat menghasilkan berbagai produk dari komoditas yang sama.
CPO dapat diproses menjadi produk minyak dan bahan baku industri. Palm kernel dapat masuk ke kernel crushing untuk menghasilkan palm kernel oil dan produk turunannya. Sementara fasilitas biodiesel memberikan akses kepada kelompok usaha terhadap industri energi berbasis minyak sawit. Kombinasi tersebut membuat bisnis Permata Group memiliki eksposur terhadap beberapa pasar sekaligus.
Pasar Internasional Menjadi Bagian dari Strategi
Permata Group sejak lama memiliki aktivitas perdagangan internasional, Salah satu entitas yang pernah menjadi bagian penting dalam perdagangan kelompok adalah Virgoz Oils & Fats Pte. Ltd. yang berbasis di Singapura. Dokumen perdagangan yang dipublikasikan PORAM mencatat bahwa Virgoz pada periode sebelumnya telah melakukan perdagangan dalam volume besar untuk produk minyak sawit dan fatty acids, dengan pasar yang mencakup Asia, Timur Tengah, Afrika Selatan, kawasan Mediterania dan Eropa Barat.
Data tersebut bersifat historis, tetapi menunjukkan bahwa jaringan perdagangan internasional telah menjadi bagian dari perjalanan bisnis Permata Group sejak lama.
Produksi Besar, tetapi Bahan Baku Juga Berasal dari Mitra
Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika membaca angka produksi Permata Group adalah sumber bahan bakunya. Perusahaan tidak hanya mengandalkan kebun sendiri, Data perusahaan menunjukkan adanya pasokan dari large plantation companies, farmer cooperatives dan independent smallholders. Dengan demikian, kapasitas pengolahan kelompok dapat jauh lebih besar daripada produksi TBS yang berasal dari perkebunan sendiri. Model ini membuat jaringan pemasok menjadi bagian penting dari keberlangsungan operasi pabrik.
Komitmen terhadap Rantai Pasok Berkelanjutan
Permata Group juga terus mengembangkan kebijakan keberlanjutan dan keterlacakan rantai pasok. Dalam dashboard NDPE perusahaan, sejumlah fasilitas Permata Group telah menjalani penilaian NDPE IRF untuk aspek seperti deforestasi dan peat. Untuk 2025, misalnya, Permata Hijau Sawit tercatat memiliki nilai 90% pada indikator No Deforestation & Peat, sementara beberapa fasilitas lain juga tercatat dalam sistem penilaian tersebut.
Perusahaan sebelumnya juga memperoleh penghargaan PROPER Hijau melalui sejumlah anak usahanya.
Permata Group dan Masa Depan Hilirisasi Sawit
Perjalanan Permata Hijau Group menunjukkan bagaimana sebuah bisnis sawit dapat berkembang dari perkebunan menjadi kelompok usaha yang memiliki rantai industri relatif lengkap. Dengan sekitar 21.000 hektare planted area, enam PKS, produksi 352.000 ton CPO dan 103.000 ton PK pada 2024, serta bisnis refinery, biodiesel dan oleokimia, Permata Group memiliki posisi pada berbagai mata rantai industri sawit.
Yang menarik untuk terus dicermati bukan hanya pertumbuhan produksi perkebunannya, tetapi juga seberapa jauh kelompok usaha ini mampu memperbesar porsi produk hilir bernilai tambah, khususnya oleokimia dan produk turunan sawit.
Bagi industri sawit Indonesia, model Permata Group memberikan gambaran bahwa masa depan komoditas sawit tidak berhenti pada CPO. Nilai ekonomi yang lebih besar justru dapat dibangun ketika bahan baku tersebut diproses lebih jauh menjadi produk industri, energi dan berbagai kebutuhan konsumen global.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

























