Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali mendapat tekanan kuat di pasar global. Pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, kontrak CPO pengiriman Desember 2026 di Bursa Malaysia Derivatives turun RM100 menjadi RM4.672 per ton, atau sekitar 2 persen dari perdagangan sebelumnya.
Menurut informasi yang diterima Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), pelemahan harga CPO tersebut menjadi perhatian pelaku industri sawit karena terjadi di tengah perkembangan positif dari sisi kebijakan impor India. Pemerintah India pada 24 September 2026 memangkas Basic Customs Duty (BCD) untuk CPO dari 10 persen menjadi 5 persen, yang secara langsung menurunkan biaya masuk minyak sawit mentah ke pasar India.
Namun, kebijakan tersebut belum mampu mengangkat sentimen pasar CPO pada perdagangan berikutnya. Pasar justru lebih banyak merespons kekhawatiran terhadap peningkatan produksi, perlambatan ekspor dan potensi kenaikan stok sawit Malaysia.
Stok Malaysia Menjadi Perhatian Utama
Senior analyst Fastmarkets Palm Oil Analytics Sathia Varqa mengatakan stok minyak sawit Malaysia pada akhir September berpotensi menembus 3 juta ton.
Menurutnya, kenaikan produksi yang disertai perlambatan ekspor mendorong persediaan lebih tinggi dan menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga CPO.
Kondisi tersebut menjadi perhatian penting bagi pasar karena persediaan yang semakin besar menunjukkan bahwa pertumbuhan pasokan belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan permintaan.
India Pangkas Bea Masuk CPO
Menariknya, tekanan harga tersebut muncul hanya sehari setelah India mengambil kebijakan yang berpotensi memberikan dukungan terhadap permintaan minyak sawit.
Pemerintah India mengumumkan bahwa BCD untuk crude palm oil dan crude soybean oil dipangkas dari 10 persen menjadi 5 persen, sedangkan BCD untuk crude sunflower oil diturunkan menjadi nol. Kebijakan tersebut bertujuan menurunkan harga minyak nabati domestik dan membantu meredam tekanan inflasi.
Bagi eksportir CPO, penurunan bea masuk secara teori dapat memperbaiki daya saing minyak sawit di pasar India karena biaya landed cost menjadi lebih rendah. Namun, reaksi pasar pada Jumat menunjukkan bahwa faktor pasokan masih menjadi perhatian yang lebih besar.
Tekanan Datang dari Berbagai Arah
Selain faktor stok Malaysia, harga CPO juga mendapat tekanan dari pelemahan harga minyak kedelai dan minyak mentah. Penguatan ringgit Malaysia turut memberikan tekanan terhadap harga CPO karena komoditas tersebut diperdagangkan dalam mata uang ringgit.
Pada perdagangan Jumat, kontrak Oktober 2026 ditutup turun RM89 menjadi RM4.475 per ton, sementara kontrak November turun RM95 menjadi RM4.578 per ton. Kontrak Januari dan Februari 2027 masing-masing juga turun RM102.
Pasar Menunggu Data Stok dan Ekspor
Pergerakan CPO selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan produksi, ekspor dan persediaan Malaysia. Jika stok benar-benar menembus 3 juta ton pada akhir September, pasar akan mendapatkan sinyal bahwa pasokan masih cukup besar. Sebaliknya, apabila ekspor kembali meningkat dan mampu menyerap tambahan produksi, tekanan terhadap harga dapat berubah.
Bagi industri sawit Indonesia, perkembangan ini penting dicermati karena pergerakan harga CPO regional dapat memengaruhi sentimen perdagangan, harga TBS dan prospek ekspor produk sawit.
Dengan demikian, penurunan harga CPO lebih dari 2 persen bukan hanya cerita mengenai pelemahan harga komoditas. Pasar saat ini sedang menghadapi pertarungan antara potensi tambahan permintaan dari India dan kekhawatiran terhadap membesarnya stok sawit Malaysia.
Muslim M. Amin
Editor in Chief
Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS)
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting




























