``` Hardaya Plantation : Jejak Kerajaan Sawit Murdaya Poo di Sulawesi hingga Kalimantan

Hardaya Plantation : Jejak Kerajaan Sawit Murdaya Poo di Sulawesi hingga Kalimantan

Hardaya Plantation

Indonesian Palm Oil News (IPO News) — Bukan hanya Hardaya Inti Plantations di Buol. Jejak bisnis sawit keluarga Murdaya juga membentang hingga Kalimantan Utara melalui sejumlah perusahaan perkebunan. Dengan areal yang telah ditanam mencapai ribuan hektare dan dukungan fasilitas pengolahan CPO, Hardaya Plantation Group menjadi salah satu kelompok usaha sawit swasta yang menarik untuk dicermati.

Nama Hardaya Plantation tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bisnis keluarga Murdaya. Kelompok usaha ini berada dalam ekosistem Central Cipta Murdaya (CCM) Group, kelompok usaha yang dibangun oleh almarhum Murdaya Widyawimarta Poo bersama keluarga.

Salah satu perusahaan utama dalam bisnis perkebunannya adalah PT Hardaya Inti Plantations (HIP). Perusahaan ini didirikan pada 1995 dan bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit serta pengolahan minyak sawit. Saat ini, profil perusahaan menyebut HIP sebagai anak usaha CCM Group dengan kegiatan operasional di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.

Yang menarik, Hardaya Plantation Group ternyata memiliki jejak operasional yang lebih luas. Selain Sulawesi Tengah, kelompok ini juga memiliki kegiatan perkebunan di Kalimantan Utara, antara lain melalui PT Sebakis Inti Lestari (SIL) dan PT Sebuku Inti Plantation (SIP) di Kabupaten Nunukan. Profil perusahaan dan informasi rekrutmen terbaru menunjukkan bahwa wilayah operasional Hardaya Plantation Group mencakup Sulawesi Tengah dan Kalimantan Utara.

Buol Menjadi Basis Utama

Di Kabupaten Buol, PT Hardaya Inti Plantations memiliki sejarah panjang. Data yang tersedia menunjukkan bahwa HIP memperoleh Hak Guna Usaha (HGU) sekitar 22.780,87 hektare pada 1998. Wilayah perkebunannya berada di sejumlah kecamatan di Kabupaten Buol, termasuk Bukal, Tiloan, Momunu dan Lipunoto.

Namun, angka luas lahan Hardaya perlu dibaca secara hati-hati. Dalam sebuah laporan IPO NEWS pada 2025, disebutkan bahwa informasi yang diterima redaksi menunjukkan total lahan yang dikuasai melalui HIP mencapai sekitar 51.000 hektare, sementara luas yang disebut memiliki HGU sekitar 22.780 hektare. Data yang sama mencatat areal planted sekitar 13.400 hektare, dengan 8.398 hektare mature.

Perbedaan antara lahan yang dikuasai, HGU, planted area dan mature area sangat penting dalam membaca ukuran sebenarnya sebuah perusahaan perkebunan. Karena itu, angka 51.000 hektare tidak dapat langsung disamakan dengan luas kebun sawit yang telah ditanami.

Lima Kawasan Kebun Hardaya di Buol

Informasi yang dihimpun IPO NEWS sebelumnya juga mencatat sejumlah kawasan perkebunan yang terkait dengan HIP, antara lain Mudo, Yugut, Jatimulya, Panilan Jaya dan Binuang.

Luas yang tercatat dalam data tersebut meliputi:

– Mudo: sekitar 2.119,48 hektare
– Yugut: sekitar 2.334 hektare
– Jatimulya: sekitar 4.380,77 hektare
– Panilan Jaya: sekitar 7.598,72 hektare
– Binuang: sekitar 6.346,48 hektare

Angka-angka tersebut menggambarkan bagaimana operasi perkebunan HIP terbagi ke dalam sejumlah kawasan kebun di Buol.

Dari sisi industri, keberadaan perkebunan tersebut juga didukung oleh fasilitas pengolahan sawit. Data yang dihimpun IPO NEWS dari Kementerian Perindustrian sebelumnya mencatat kapasitas produksi awal HIP sebesar sekitar 156.200 ton TBS per tahun, dengan kapasitas produksi sekitar 36.200 ton CPO per tahun dan 8.233 ton palm kernel per tahun.

Ekspansi ke Kalimantan Utara

Salah satu hal yang membuat Hardaya Plantation Group menarik adalah keberadaannya di Nunukan, Kalimantan Utara. Di wilayah ini terdapat setidaknya dua nama perusahaan yang terkait dengan kelompok tersebut, yakni PT Sebakis Inti Lestari dan PT Sebuku Inti Plantation.

Sebuah laporan operasional kedua perusahaan yang tersedia untuk 2022 mencatat total areal sekitar 10.478,20 hektare, terdiri dari sekitar 6.476,59 hektare milik PT Sebakis Inti Lestari dan 4.001,61 hektare milik PT Sebuku Inti Plantation.

Dari total tersebut, sekitar 10.414 hektare merupakan tanaman menghasilkan (TM) dan sekitar 63,88 hektare merupakan tanaman belum menghasilkan (TBM). Laporan yang sama mencatat produksi TBS hingga Agustus 2022 mencapai 99.426 ton.

Angka tersebut memang bukan data produksi terbaru 2026, tetapi memberikan gambaran penting mengenai skala operasi Hardaya Plantation Group di Kalimantan Utara.

Menariknya lagi, informasi rekrutmen Hardaya Plantation Group pada April 2026 masih menunjukkan kebutuhan tenaga profesional untuk posisi Asisten Afdeling di wilayah Nunukan. Ini menjadi indikasi bahwa operasi perkebunan kelompok tersebut di Kalimantan Utara masih berjalan dan membutuhkan penguatan manajemen lapangan.

Memiliki Fasilitas Pengolahan Sawit

Hardaya bukan hanya bermain di sisi perkebunan, PT Hardaya Inti Plantations juga menjalankan bisnis pengolahan TBS menjadi Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK). Profil perusahaan secara jelas menyebut HIP sebagai perusahaan perkebunan dan industri CPO.

Sementara itu, informasi mengenai operasional SIL dan SIP di Nunukan juga menunjukkan keberadaan fasilitas pengolahan yang menangani CPO dan kernel. Data operasional 2022 mencatat produksi TBS kedua perusahaan secara kumulatif mencapai 99.426 ton hingga Agustus tahun tersebut.

Dengan demikian, struktur bisnis Hardaya Plantation Group memperlihatkan model yang cukup lengkap: perkebunan, pengumpulan TBS, pengolahan dan produksi CPO serta palm kernel.

Dari Buol hingga Nunukan

Jika seluruh data tersebut dibaca secara bersama-sama, terlihat bahwa bisnis sawit keluarga Murdaya memiliki dua wilayah penting. Sulawesi Tengah menjadi basis utama melalui PT Hardaya Inti Plantations, dengan sejarah investasi sejak 1990-an dan HGU sekitar 22.780 hektare.

Sementara itu, Kalimantan Utara menjadi wilayah penting lainnya melalui PT Sebakis Inti Lestari dan PT Sebuku Inti Plantation. Data publik yang tersedia belum memungkinkan untuk menyatakan secara pasti berapa total luas seluruh perkebunan Hardaya Plantation Group pada 2026. Namun, data yang tersedia menunjukkan skala operasi yang jelas bukan kecil.

Bahkan jika hanya menggunakan angka planted area HIP sekitar 13.400 hektare yang dilaporkan pada 2025 dan areal SIL-SIP sekitar 10.478 hektare berdasarkan laporan operasional 2022, terdapat lebih dari 23.800 hektare areal tertanam yang tercatat dalam dua kelompok operasi tersebut. Angka ini tidak boleh dianggap sebagai total aset terkini grup karena periode datanya berbeda dan masih terdapat perusahaan/areal lain yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

Perjalanan Panjang yang Tidak Lepas dari Tantangan

Sebagai perusahaan perkebunan besar, perjalanan Hardaya di Buol juga tidak lepas dari berbagai persoalan. Pada masa lalu, operasi HIP pernah berkaitan dengan perkara hukum yang melibatkan Siti Hartati Murdaya dan mantan Bupati Buol. Perkara tersebut berkaitan dengan proses perizinan perkebunan. Pemerintah kemudian juga menerbitkan keputusan terkait pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan HIP di Buol.

Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan kemitraan plasma dengan masyarakat juga menjadi sorotan. Sejumlah petani di Buol menyampaikan keberatan terkait skema kemitraan dan pembagian hasil. Isu tersebut bahkan berkembang menjadi konflik yang panjang antara sebagian petani dan perusahaan.

Karena itu, perjalanan Hardaya Plantation tidak hanya menarik dilihat dari besarnya bisnis dan aset perkebunannya, tetapi juga dari bagaimana perusahaan mengelola hubungan dengan masyarakat, petani plasma, pekerja dan pemangku kepentingan lainnya.

Hardaya dan Masa Depan Bisnis Sawit

Terlepas dari berbagai dinamika yang pernah terjadi, Hardaya Plantation tetap memiliki posisi yang menarik dalam peta industri sawit Indonesia. Perusahaan memiliki pengalaman hampir tiga dekade, basis perkebunan di Sulawesi Tengah dan Kalimantan Utara, fasilitas pengolahan CPO, serta struktur perusahaan yang mendukung kegiatan perkebunan dalam skala besar.

Di tengah industri sawit yang semakin menuntut efisiensi, produktivitas dan keberlanjutan, tantangan Hardaya ke depan adalah bagaimana meningkatkan produktivitas tanaman, memperkuat tata kelola, memperbarui tanaman yang sudah tua, mengoptimalkan kapasitas pabrik serta membangun hubungan yang semakin baik dengan masyarakat dan petani mitra.

Menurut data Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), Hardaya Plantation merupakan salah satu kelompok usaha sawit swasta yang menarik untuk terus dicermati. Bukan hanya karena sejarahnya yang panjang, tetapi juga karena jejak operasionalnya yang membentang dari Sulawesi Tengah hingga Kalimantan Utara.

Dengan basis perkebunan dan industri pengolahan yang telah dibangun selama puluhan tahun, Hardaya Plantation menjadi bagian penting dari cerita panjang bisnis sawit keluarga Murdaya di Indonesia.

 

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email 

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

Share Link:

Baca Juga

English Version

Company Report

Majalah IPO News

Majalah Indonesian Palm Oil News Edisi Mei - Juni 2026
Majalah IPO News Hasnur Group 2025
Majalah IPO News Palmex Medan 2025
Majalah IPO News Edisi IPOC Bali 2025
PALMEX Jakarta 2027
Palmex Medan 2026

Produk CDMI Consulting

Berital Lainnya

Ikuti Kami

Copyright @ 2024 IPO News. All right reserved

Silahkan Akses melalui Perangkat Mobile, PC atau Laptop