Indonesian Palm Oil News (IPO News) — Wilmar International, Bumitama Agri, dan First Resources merupakan tiga grup perkebunan kelapa sawit besar yang berbasis di Singapura dan tercatat di Singapore Exchange (SGX). Ketiganya memiliki jaringan perkebunan dan industri pengolahan sawit di Indonesia dengan total luas tertanam sekitar 691.417 hektare secara global.
Indonesia masih menjadi basis utama kegiatan perkebunan ketiga grup tersebut. Dengan dukungan perkebunan, pabrik kelapa sawit (PKS), serta jaringan pemasaran produk sawit, ketiganya memiliki posisi strategis dalam industri minyak sawit nasional.
Berdasarkan laporan tahunan 2025, ketiga perusahaan memperlihatkan kekuatan operasional yang cukup besar. Namun, luas perkebunan dan volume produksi masing-masing perlu dibaca dengan memperhatikan cakupan wilayah serta perbedaan metode pelaporan perusahaan.
1. WILMAR INTERNATIONAL: GRUP TERINTEGRASI DENGAN JARINGAN BISNIS GLOBAL
Wilmar International merupakan salah satu grup agribisnis terbesar yang berbasis di Singapura dan tercatat di Singapore Exchange. Grup ini dikendalikan oleh Kuok Group dan menjalankan bisnis terintegrasi mulai dari perkebunan, pengolahan minyak sawit, perdagangan, hingga produk pangan dan oleokimia.
Hingga akhir 2025, Wilmar memiliki total perkebunan kelapa sawit tertanam seluas 234.334 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 66% berada di Indonesia, 25% di Malaysia Timur, dan 9% di Afrika.
Di Indonesia, perkebunan Wilmar tersebar di Sumatera, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Dari sisi produksi, perkebunan kelapa sawit Wilmar menghasilkan sekitar 4,04 juta ton TBS sepanjang 2025. Angka tersebut turun sekitar 2% dibandingkan produksi 2024 sebesar 4,11 juta ton, terutama akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung di sejumlah wilayah operasional.
Wilmar juga mengoperasikan jaringan PKS yang menerima TBS dari perkebunan sendiri maupun pemasok pihak ketiga. Dalam laporan keberlanjutan 2025, perusahaan mencatat sekitar 7,9 juta ton TBS diproses oleh jaringan PKS-nya.
Untuk produksi CPO, Wilmar tidak menyajikan angka produksi CPO khusus perkebunan dan penggilingan sawit dalam format yang dapat langsung dibandingkan dengan dua perusahaan lainnya. Hal ini perlu diperhatikan karena Wilmar memiliki kegiatan pengolahan dan perdagangan minyak sawit yang terintegrasi secara global.
2. BUMITAMA AGRI: MEMILIKI 184.467 HEKTARE PERKEBUNAN
Bumitama Agri merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang didirikan pada 1996 dan tercatat di Singapore Exchange sejak 2012. Grup ini memiliki keterkaitan historis dengan Harita Group.
Pada akhir 2025, Bumitama mengelola perkebunan kelapa sawit seluas 184.467 hektare yang seluruhnya berada di Indonesia. Perkebunannya terkonsentrasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Sekitar 94,7% dari total areal tertanam tersebut telah memasuki usia menghasilkan (mature), dengan rata-rata usia tanaman sekitar 14,4 tahun.
Sepanjang 2025, Bumitama menghasilkan sekitar 3,4 juta ton TBS dari perkebunan inti dan plasma. Sementara itu, total TBS yang diolah oleh 17 PKS miliknya mencapai 5,65 juta ton, termasuk pasokan dari petani dan pemasok independen.
Dari pengolahan tersebut, Bumitama mencatat penyaluran CPO kepada pembeli sebesar sekitar 1,18 juta ton sepanjang 2025. Selain itu, perusahaan juga menyalurkan sekitar 254 ribu ton Palm Kernel (PK).
Bumitama memiliki kapasitas pengolahan TBS sekitar 1.165 ton per jam atau mendekati 7 juta ton per tahun. Tingkat ekstraksi minyak sawit (Oil Extraction Rate/OER) pada 2025 mencapai 22,2%.
Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa Bumitama tidak hanya mengandalkan luas perkebunan, tetapi juga memiliki jaringan pengolahan yang cukup besar untuk mendukung produksi minyak sawit.
3. FIRST RESOURCES: PRODUKSI CPO MENEMBUS 1,3 JUTA TON
First Resources merupakan grup perkebunan kelapa sawit yang berbasis di Singapura dan tercatat di Singapore Exchange. Grup ini memiliki keterkaitan kepemilikan dengan keluarga Fangiono.
Hingga akhir 2025, total luas perkebunan kelapa sawit First Resources mencapai 272.616 hektare. Perkebunannya tersebar di Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Luas tersebut meningkat dibandingkan 215.128 hektare pada 2024. Pertumbuhan ini antara lain didukung akuisisi PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJ) pada Mei 2025.
Dari sisi operasional, First Resources mencatat produksi TBS sebesar 4,68 juta ton sepanjang 2025, meningkat 23,2% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3,80 juta ton.
Peningkatan produksi tersebut turut mendorong produksi CPO menjadi 1,30 juta ton, naik 29,8% dibandingkan 1,00 juta ton pada 2024.
Produktivitas TBS First Resources juga mencapai 20,8 ton per hektare tanaman menghasilkan, sedangkan produktivitas CPO tercatat sekitar 4,5 ton per hektare.
Kinerja tersebut memperlihatkan pertumbuhan kapasitas produksi yang cukup signifikan, terutama setelah masuknya kontribusi aset perkebunan ANJ ke dalam grup.
PERSAINGAN TIGA GRUP DALAM INDUSTRI SAWIT INDONESIA
Ketiga grup tersebut memiliki karakteristik bisnis dan kekuatan operasional yang berbeda.
Wilmar International menonjol melalui model bisnis terintegrasi yang mencakup perkebunan, pengolahan, perdagangan, hingga produk hilir. Bumitama Agri memiliki basis perkebunan yang kuat di Kalimantan dengan dukungan 17 PKS. Sementara itu, First Resources menunjukkan pertumbuhan produksi yang signifikan setelah memperluas basis perkebunannya melalui akuisisi.
Dari sisi luas perkebunan global, First Resources memiliki areal tertanam 272.616 hektare, disusul Wilmar International 234.334 hektare dan Bumitama Agri 184.467 hektare.
Namun, perbandingan luas tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan penguasaan lahan di Indonesia karena sebagian perkebunan Wilmar berada di luar negeri.
Dengan luas perkebunan, kapasitas pengolahan, serta volume produksi yang besar, ketiga grup tersebut tetap menjadi pemain penting dalam peta industri kelapa sawit Indonesia.
Perkembangan investasi, produktivitas perkebunan, ekspansi PKS, dan penguatan industri hilir akan menjadi faktor penting yang menentukan posisi kompetitif masing-masing perusahaan pada tahun-tahun mendatang.
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting




























