Indonesian Palm Oil News (IPO News) – PT. Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) didirikan pada 16 April 1993 dengan nama PT Austindo Teguh Jaya dengan modal awal saat itu sebesar Rp 50.200.000.000,- modal ditempatkan dan disetor Rp 50.200.000.000,-. Pendiri dan pemegang sahamnya adalah PT Austindo Nusantara Jaya-Indonesia, Eastern Island Base Pte Ltd-Singapore dan Sinnedind Value BV-Netherlands.
Setelah terjadi beberapa kali perubahan, pada 17 Januari 2013 perusahaan berubah menjadi PT Austindo Nusantara Jaya Agri Tbk. (ANJT), pada saat ini modal awalnya sebesar Rp 1.200.000.000.000,- modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp 335.417.500.000,- dan pemegang sahamnya adalah PT Memimpin Dengan Nurani, PT Austindo Kencana Jaya, Mr. George Santosa Tahija, Mr. Sjakon George Tahija, Yayasan Tahija dan Publik.
Info terakhir yang diterima Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), pada Maret 2025 saham perusahaan ini telah diakuisi oleh First Resources. Berikut profil lengkap ANJT.
Bisnis yang dijalankan ANJT terdiri dari 4 pilar yaitu – Oil Palm Plantation & Refinery, Sago Plantation & Processing, vegetable production, Renewable Energy Services, namun kontribusi pendapatan terbesar berasal dari bisnis kelapa sawit. Tahun 2024 lalu bisnis kelapa sawit berkontribusi lebih dari 90% dari total pendapatan perusahaan.
Sebelum diakuisisi oleh First Resources Limited pada Maret 2025, kinerja ANJT pada tahun 2024 terlihat menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya dan banyak yang tidak mencapai target. Dari target produksi TBS tahun 2024 sebanyak 933.602 ton, ANJT hanya mampu mencatat produksi 777.615 ton, sedangkan produksi CPO dengan target sebanyak 324.043 ton, yang tercapai sebesar 245.395 ton, sedangkan produksi Palm Kernel (PK), dari target sebanyak 2.220 ton yang tercapai hanya sebesar 1.121 ton.
First Resources melalui ANJT secara resmi telah melepas kepemilikan saham di dua anak usahanya yang berlokasi di Sorong Selatan, Papua Barat. Nilai transaksi kedua perkebunan tersebut mencapai Rp 405,59 miliar. Lalu, mengapa First Resources sebagai pengendali baru ANJT merestui penjualannya.
Menurut informasi yang diterima Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS) dari Bursa Efek Indonesia (BEI), ANJT bersama entitas anaknya, PT Austindo Nusantara Jaya Agri (ANJA), telah melakukan divestasi 100% kepemilikan saham di PT Putera Manunggal Perkasa (PMP) dan PT Permata Putera Mandiri (PPM). Pembeli kedua perusahaan tersebut adalah PT Harmoni Agri Mandiri, namun CDMI tidak banyak menemukan informasi terkait PT Harmoni Agri Mandiri.
Sedikit bocoran yang diterima dari BEI, manajemen PT Harmoni Agri Mandiri dipimpin oleh Christian Jonathan sebagai Direktur dan Hingdi Pangestu menjadi Komisaris Utama. Saat IPO NEWS menelusuri informasi melalui mesin pencarian, PT Harmoni Agri Mandiri menempati kantor di Menara Citicon, Slipi, Jakarta Barat. Yang masih menjadi pertanyaan, kenapa First Resources sebagai pengendali penuh ANJT setuju menjual kedua perusahaan tersebut? Apakah memang tidak ingin mengelola perkebunan sawit di Papua?
Informasi yang diterima IPO NEWS dari website First Resources Ltd dijelaskan bahwa Dewan Direksi First Resources ingin merampingkan bisnisnya sehingga diambil keputusan divestasi saham di PT Putera Manunggal Perkasa dan PT Permata Putera Mandiri jelas Victor Loong, Menurut Sekretaris Perusahaan First Resources Ltd, Victor Long “Kami tidak melanjutkan perkebunan kelapa sawit yang berada di provinsi Papua Barat”
Yang masih menjadi misterius adalah informasi terkait siapa sebenarnya PT Harmoni Agri Mandiri sungguh menarik untuk ditelusuri. Mengingat, luas lahan yang dioperasikan oleh ANJT dan PT Putera Manunggal Perkasa (PMP) dan PT Permata Putera Mandiri (PPM) mencapai 91.210 hektare di Kabupaten Sorong Selatan dan Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Merujuk situs resmi ANJT pada 8 Oktober 2025, dari total luas lahan tadi sekitar 9.024 hektare telah dikembangkan untuk perkebunan kelapa sawit. Sisa lahan 81.102 hektare telah dialokasikan untuk kawasan konservasi dan infrastruktur.
Menurut Victor, transaksi penjualan ditentukan dengan mengacu pada laporan penilai independen, yang memperhitungkan aset dan liabilitas PT PMP dan PT PPM sebagaimana adanya, termasuk utang keuangan. Aset yang meliputi 7.400 hektar perkebunan kelapa sawit inti, pabrik kelapa sawit, dan landbank yang belum tertanam. Setelah penjualan ini kedua perusahaan tersebut tidak lagi menjadi anak usaha ANJT.
Victor menambahkan penjualan seluruh saham kepada PT Harmoni Agri Mandiri sebagai pihak ketiga non-afiliasi. Tujuan divestasi ini adalah memperkuat posisi keuangan, meningkatkan efisiensi portofolio investasi, serta mengoptimalkan fokus bisnis pada entitas dan kegiatan usaha yang lebih strategis.
Nilai transaksi secara keseluruhan tercatat sebesar Rp 405,59 miliar, terdiri dari penjualan saham PMP sebesar Rp 272,16 miliar dan PPM sebesar Rp 133,43 miliar. Hasil penelusuran CDMI, pada tahun 2024 produksi TBS PPM sebanyak 65.000 ton dan PMP sebanyak 80.750 ton. Hingga semester pertama tahun 2025 produksi CPO PPM sebanyak 39.820 ton dan PMP 9.621 ton.
Ditulis oleh Muslim M. Amin (Pemimpin Redaksi IPO NEWS)
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting





























