Indonesian Palm Oil News (IPO News), Jakarta — Kinerja sejumlah perusahaan kelapa sawit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penguatan sepanjang semester I 2026. Sejumlah emiten berhasil membukukan laba bersih hingga triliunan rupiah, ditopang antara lain oleh harga jual produk sawit, volume penjualan, produktivitas serta efisiensi operasional.
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026 yang telah dipublikasikan dan dihimpun Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS), terdapat 10 emiten sawit yang mencatatkan laba bersih terbesar dalam kisaran mulai dari Rp211 miliar hingga Rp2,34 triliun.
Dalam perbandingan ini, IPO NEWS menggunakan angka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk apabila tersedia. Dengan demikian, basis perbandingan antarperusahaan dibuat lebih seragam.
Dua nama mencatat laba di atas Rp2 triliun, yakni PT SMART Tbk (SMART) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
SMART CATAT LABA RP2,34 TRILIUN
PT SMART Tbk (SMART) mencatat laba bersih sekitar Rp2,34 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut melonjak sekitar 185% dibandingkan Rp825,38 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut menarik karena penjualan bersih SMART tercatat sekitar Rp43,73 triliun, relatif hanya meningkat tipis dari periode sebelumnya. Artinya, peningkatan laba jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan. Data semester I 2026 juga menunjukkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,34 triliun.
SMART merupakan perusahaan sawit terintegrasi yang memiliki kegiatan mulai dari perkebunan, pengolahan minyak sawit dan inti sawit hingga produk hilir seperti minyak goreng, margarin, shortening, biodiesel dan oleokimia.
Di posisi berikutnya, TAPG membukukan laba bersih sekitar Rp2,04 triliun, tumbuh sekitar 20,5% secara tahunan. Pendapatan perseroan mencapai sekitar Rp5,85 triliun. Sejumlah analisis yang mengacu pada laporan keuangan perseroan mencatat angka laba sekitar Rp2,12 triliun, sehingga perbedaan tersebut perlu diperhatikan berdasarkan definisi laba yang digunakan. Untuk menjaga konsistensi artikel ini, IPO NEWS menggunakan angka Rp2,04 triliun yang dilaporkan oleh sejumlah sumber berdasarkan kinerja semester I 2026.
ASTRA AGRO TEMBUS RP1 TRILIUN
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berada pada kelompok berikutnya dengan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar sekitar Rp1,10 triliun, naik 56,5% dibandingkan Rp702,12 miliar pada semester I 2025. Pendapatan bersih AALI mencapai sekitar Rp15,26 triliun, meningkat 5,62% secara tahunan. Peningkatan laba antara lain didukung efisiensi operasional dan penguatan harga CPO.
Selanjutnya, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) mencatat laba periode berjalan sekitar Rp1 triliun, naik 41,53% secara tahunan. Pendapatan perseroan mencapai sekitar Rp9,65 triliun. Bisnis SSMS juga menunjukkan kuatnya kontribusi produk hilir dan turunan sawit. CPO memberikan kontribusi pendapatan sekitar Rp5,32 triliun, disusul Palm Olein sekitar Rp2,29 triliun dan sejumlah produk turunan lainnya.
DSNG, LSIP DAN SIMP
PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan laba bersih Rp985,88 miliar, meningkat 7,8% dibandingkan semester I 2025. Pendapatan mencapai Rp6,29 triliun. Segmen kelapa sawit masih menjadi kontributor utama pendapatan DSNG dengan porsi sekitar 90%. Volume penjualan CPO dan Palm Kernel juga meningkat masing-masing sekitar 2,5% dan 13%.
Kemudian PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp891 miliar, naik sekitar 25% secara tahunan. Penjualan LSIP mencapai Rp2,69 triliun, meningkat 16%. Kinerja tersebut didukung peningkatan volume produksi CPO serta harga jual rata-rata produk sawit.
Sementara itu, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp874 miliar, naik 16% YoY. Pendapatan perseroan mencapai Rp9,63 triliun. Menurut manajemen SIMP, peningkatan kinerja terutama ditopang kenaikan harga jual rata-rata dan volume penjualan produk sawit serta produk minyak dan lemak nabati.
STAA DAN TBLA
PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) membukukan laba bersih Rp854 miliar. Namun, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp757 miliar, meningkat 15,3% secara tahunan. Pendapatan STAA mencapai Rp6,07 triliun, melonjak 69,1%. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong kontribusi penuh dari operasi kilang yang mulai beroperasi pada semester II 2025.
Berikutnya, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) mencatat laba bersih Rp430,1 miliar, turun 3,7% dibandingkan semester I 2025. Namun, pendapatan perseroan meningkat 10,8% menjadi sekitar Rp11,63 triliun. Perbedaan antara pertumbuhan pendapatan dan laba menunjukkan bahwa kenaikan penjualan tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan keuntungan karena struktur biaya dan beban perusahaan juga berpengaruh terhadap margin.
BWPT MELENGKAPI 10 BESAR
PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) melengkapi daftar 10 emiten sawit dengan laba terbesar yang dihimpun IPO NEWS. BWPT membukukan laba bersih Rp211,19 miliar pada semester I 2026, meningkat 22,87% dibandingkan Rp171,89 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan mencapai Rp3,26 triliun, tumbuh 17,15%.
Manajemen BWPT menyebut peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional, penguatan fundamental keuangan serta integrasi aspek keberlanjutan menjadi tiga fokus strategi perseroan.
Sebagai pembanding, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) membukukan laba bersih Rp158,93 miliar pada semester I 2026, sementara PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) mencatat laba periode berjalan Rp169,66 miliar. Dengan demikian, keduanya berada di bawah BWPT dalam daftar nominal laba yang dihimpun.
HARGA CPO DAN EFISIENSI JADI PENOPANG
Kinerja 10 emiten tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan sawit pada semester I 2026 tidak hanya dipengaruhi harga CPO. Volume produksi dan penjualan, produktivitas kebun, harga jual rata-rata, efisiensi biaya serta kemampuan mengembangkan produk hilir turut menentukan besarnya laba.
Menariknya, periode laporan semester I 2026 berakhir pada 30 Juni 2026, sedangkan implementasi penuh mandatori biodiesel B50 mulai berjalan pada Juli 2026. Karena itu, laporan semester pertama belum dapat digunakan untuk mengukur dampak penuh B50 terhadap kinerja keuangan emiten.
Memasuki semester II 2026, perkembangan harga CPO, produksi TBS, kebijakan biodiesel, biaya operasional, ekspor serta perkembangan industri hilir akan menjadi sejumlah faktor penting yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan sawit.
Bagi industri sawit nasional, capaian tersebut memperlihatkan besarnya skala bisnis dan kontribusi sektor perkebunan serta hilirisasi sawit terhadap perusahaan terbuka. Data ini sekaligus memberikan gambaran mengenai kemampuan sejumlah emiten sawit dalam menghasilkan laba besar pada paruh pertama 2026.
Indonesian Palm Oil News (IPO NEWS)
Media Sawit Berbasis Riset
Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: Marketing atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting
























